Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Miliki Peluang Karir di Luar Kota, EDST Memilih Tetap Berproses di Singaraja

Dian Suryantini • Selasa, 30 Juli 2024 | 16:13 WIB

Penampilan grup band Empat Detik Sebelum Tidur di Singaraja saat manggung dalam Kebyar Kasih Pertiwi belum lama ini.
Penampilan grup band Empat Detik Sebelum Tidur di Singaraja saat manggung dalam Kebyar Kasih Pertiwi belum lama ini.

BALIEXPRESS.ID – Empat orang berdiri di atas panggung. Belum lama ini band bernama Empat Detik Sebelum Tidur pentas dalam Kebyar Kasih Pertiwi yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Bali. Mereka adalah Aris, Yogi Cedok, Sonata, dan Konot, anggota Band Empat Detik Sebelum Tidur (EDST).

 

Sudut jantung kota

Ambara di Bali Utara

Nona manis

Melengkapi pesona

 

Ukir romansa

Cinta di dukung dua kenangan

Meretas tawa

Hingga menuju senja

 

Pantai binaria

Ombak landai rangkum nostalgia

Sambut semesta

Tari riang lumba lumba

……………………………………………………………..

 

Bait lagu itu adalah lagu terakhir yang dilantunkan band EDST saat manggung. Lagu itu berjudul Nona Manis, lagu yang menggambarkan keindahan dari Kota Singaraja. Tanpa disadari setiap liriknya juga menggambarkan Kota Singaraja secara menyeluruh. Kata nona manis dalam lagu itu barangkali disisipkan untuk mewakilkan wajah Kota Singaraja yang teduh, lembut serta memberikan kenangan manis tertentu bagi orang-orang yang tinggal di Singaraja.

 Baca Juga: Jaringan Narkoba Gianyar Terbongkar, 8 Orang Ditangkap

Konot, dengan suara serak dan berirama, memukau hadirin malam itu. Mengenakan pakaian hitam dan kacamata, ia bernyanyi sambil bermain gitar. Meski posisi vokalis di EDST sering bergantian, malam itu Konot memimpin.

Aris atau yang akrab disapa Jack, sering dikenal sebagai satu-satunya vokalis EDST dengan suaranya yang khas. Yogi Cedok dan Sonata, yang ahli memainkan perkusi, juga sering menjadi vokalis. Pada malam itu, Sonata tampil dengan setelan putih bermotif songket dan topi Panama, menunjukkan kecintaannya terhadap budaya. Dengan semangat, ia menggoyangkan marakas mengikuti irama musik, seolah kerasukan.

Aris menjelaskan bahwa lagu-lagu mereka, seperti “Perempuan Perkasa” dan “Udara, Cahaya Utara,” menggambarkan kehidupan sehari-hari dan keindahan alam dengan cara yang unik. Singaraja, dengan pesona gedung-gedung tua dan suasana pesisirnya, memberikan nuansa romantis yang mempengaruhi karya mereka. Meskipun banyak peluang untuk meninggalkan Singaraja, Aris memilih untuk tetap tinggal.

 Baca Juga: Parade Gebogan dan Pementasan Seni: Strategi Tanah Lot Menarik Wisatawan Selama Low Season

“Di sini jangan untuk kaya ya, tapi possibility untuk hidup ya masih ada,” katanya, mencerminkan pilihan hidupnya sebagai seniman di Singaraja. Penampilan EDST malam itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga refleksi dari kehidupan dan kecintaan mereka terhadap Singaraja.

Dalam dunia musik, lagu romantis dengan kata atau ungkapan kata yang klise sering didengar. Namun, Aris, seorang musisi yang lahir dan besar di Singaraja, memiliki pendekatan yang berbeda. Ia ingin menciptakan karya yang menggabungkan romansa dengan tempat dan pengalaman yang ada di dalamnya.

“Kami hanya ingin bagaimana caranya ngomongin sesuatu yang integrated, ngomongin romance tapi langsung take list apa yang ada di Singaraja—kota tua dan bangunan-bangunan lama yang ada,” ucap Aris saat diwawancara.

 Baca Juga: Parade Gebogan dan Pementasan Seni: Strategi Tanah Lot Menarik Wisatawan Selama Low Season

Pendekatan ini ia terapkan dalam lagunya yang berjudul “Udara, Cahaya Utara.” Lagu ini tidak secara spesifik menyebutkan nama tempat atau lokasi, tetapi lirik-liriknya menghubungkan pendengar pada fenomena Aurora Borealis yang terjadi di Kutub Utara. Fenomena ini adalah saat langit terbias cahaya warna-warni yang indah.

“Fenomena itu bisa kita hubungkan dengan diversity, di mana perbedaan itu menjadi satu,” jelas Aris. Menurutnya, fenomena ini secara tidak langsung berkaitan dengan kehidupan sosial di Bali Utara yang penuh dengan keberagaman.

“Orang bisa berpikir itu romance, bisa mereka pikir juga itu pujian untuk alam, bisa mereka pikir itu cinta. Cinta itu kan nggak ada otentiknya. Tapi, menyayangi, bersama saat sedih atau senang juga bagian cinta,” tambahnya, mengaitkan lagu tersebut dengan pengalaman dan kesan yang ia dapatkan di Singaraja.

 Baca Juga: Taman Nusantara Gianyar; Tanamkan Kerukunan Antar Umat Beragama Generasi Muda

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Singaraja, Aris merasa bahwa kota ini memiliki suasana yang sangat romantis. Gedung-gedung tua dan jalan-jalan yang landai dengan suasana pesisir memberikan nuansa tersendiri ketika berbicara soal romansa tempat.

Aris memiliki banyak kesempatan untuk meninggalkan Singaraja. Ia pernah tinggal di Melbourne dan hampir mendapatkan kewarganegaraan ganda. Ia juga pernah mengajar di Denpasar, di salah satu akademi pendidikan. Meskipun banyak peluang karir dan finansial menunggunya di kota lain, Aris memilih untuk tetap tinggal di Singaraja.

“Singaraja telah mengutukku untuk jatuh cinta dan tetap tinggal di sini,” tutupnya dengan senyum. (dhi)

 

Editor : Wiwin Meliana
#band #singaraja #EDST