BALIEXPRESS.ID – Dayu Sartika B, seorang seniman berbakat, telah lama menjadikan seni sebagai medium untuk mengenal dan memahami dirinya sendiri. Dia kerap memunculkan kue dan makanan manis dalam lukisannya.
Gadis kelahiran Seririt 1998 ini, melukis bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga sebuah cermin yang memantulkan perasaan dan pemikiran terdalam.
Ia menggunakan lukisan sebagai sarana untuk menggali lebih dalam tentang dirinya, terutama saat ia merasa belum benar-benar mengenal siapa dirinya.
Salah satu ciri khas dari karya-karya Dayu adalah self-portrait atau potret diri yang sering kali mencerminkan perasaan tidak aman atau ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Namun, proses ini baginya adalah cara untuk berdamai dengan perasaan-perasaan tersebut.
“Ketika saya melukis diri sendiri, rasa tidak percaya diri itu justru meningkat. Saya harus menatap diri saya sendiri selama berjam-jam,” ujarnya.
Selain itu, Dayu juga kerap menggambarkan kue dan makanan manis dalam karyanya. Hal ini bukan tanpa alasan.
Sejak tahun 2020, ia berhenti mengonsumsi makanan manis sebagai bentuk pengendalian diri setelah berjuang melawan penyakit yang berhubungan dengan kesehatan payudara pada tahun 2015.
“Kue-kue itu simbol musuh bagi saya, tapi juga menjadi ungkapan rindu. Setiap hari saya menggambar, saya membayangkan saya sedang memakan mereka,” ungkapnya.
Dalam karya-karyanya, Dayu juga sering menggunakan simbol ketelanjangan atau nude, yang menurutnya bukan sekedar erotika.
Baginya, ketelanjangan dalam lukisan adalah simbol kejujuran hati, sebuah pernyataan tentang perasaan yang ia rasakan saat itu.
“Inilah kejujuran saya. Saya sedang jujur ketika saya rindu dengan makanan ini, jadi saya menggambarkan diri saya yang telanjang sebagai simbol kejujuran,” jelasnya.
Karya-karya Dayu telah dipamerkan di berbagai tempat, termasuk Yogyakarta dan Jakarta. Meskipun konsep lukisannya mungkin tampak sederhana, namun di balik setiap guratan terdapat cerita mendalam yang personal.
Harga lukisan Dayu bervariasi, namun yang tertinggi pernah terjual seharga Rp 15 juta.
“Dengan ukuran 120 x 100 cm biasanya dijual antara Rp 12 juta hingga Rp 13 juta,” kata dia.
Melalui seni, Dayu menemukan cara untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri, berdamai dengan masa lalunya, dan mengekspresikan apa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Karyanya adalah cermin dari perjalanan batinnya, penuh dengan kejujuran dan perasaan yang mendalam. ***
Editor : Y. Raharyo