Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Film Bisu Samsara Karya Garin Nugroho Angkat Cerita Mistis di Bali, Beri Pesan soal Cinta dan Kerakusan

Putu Resa Kertawedangga • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 14:10 WIB
Potongan film Samsara yang mengangkat cerita mistis di Bali.
Potongan film Samsara yang mengangkat cerita mistis di Bali.

BALIEXPRESS.ID - Cerita mistis di Bali dikemas menjadi sebuah film yang berjudul Samsara.

Film Samsara yang mengambil latar belakang Bali pada tahun 1930 ini pun ditampilkam dalam rangkaian acara Indonesia Bertutur di Pulau Peninsula, Kawasan ITDC, Nusa Dua, Kabupaten Badung pada Jumat (16/8/2024). 

Dalam film yang mengangkat cerita hal yang tidak wajar dapat terjadi ini dipadukan dengan perpaduan musik Bali, orkestra dan elektronik. 

Sutradara Garin Nugroho mengatakan Samsara adalah film bisu yang memadukan musik Bali, orkestra, dan elektronik.

Film ini mengambil latar belakang Bali pada tahun 1930, sebab ia menilai pada tahun tersebut adalah era yang terbaik di Bali. Seperti masuknya wisatawan, industri, dan tokoh-tokoh banyak yang datang ke Bali.

“Saat itu Charlie Chaplin, ilmuan, Walter Spies datang ke Bali. Jadi era yang sangat menarik di Bali,” ujar Garin.

Menurutnya, film ini mengambil gambar di enam lokasi. Seperti kaldera Batur, Istana Anyar, Gunung Kawi, Tenganan, dan lainnya.

Tema yang diangkat dalam film Samsara adalah magic realism. Sebab tema ini disebutkan dialami dan disukai oleh banyak orang.

“Presiden saja kalau tidak ada mistis-mistis tidak akan jadi Presiden,” ucapnya. 

Pesan dalam film ini adalah manusia akan mengalami tentang cinta dan kerakusan. Seperti mau menjadi pasangan yang dicintai atau pemimpin yang dicintai.

“Terkadang kerakusannya menjadi cinta yang kebablasan, dan itu terjadi di setiap kehidupan kita,” jelasnya. 

Mistis dalam film ini, ia menyebutkan, bukan seperti film horor lainnya. Sebab mistis yang terlihat dan tidak, itu diterima di Bali.

“Dalam film ini ada mistis yang terlihat dan tidak. Bukan seperti horor-hororan yang muncul, hilang,” terangnya.

Sementara Direktur Perfilman, Musik, dan Media, Direktorat Jendral Kebudayaan Kemendikbudristek, Ahmad Mahendra menerangkan, film Samsara yang dihadirkan di Indonesia Bertutur 2024, menceritakan tentang kelahiran kembali, sesuatu dari yang tidak baik menjadi baik.

Hal ini menurutnya, tentu sangat cocok dengan situasi saat ini. “Kita perlu melihat secara lebih luas atau makrokosmos. Samsara dibutuhkan untuk hari esok yang lebih baik. Samsara ini perlu disampaikan kepada masyarakat, untuk pengingat kita semua,” jelas Mahendra.

Indonesia Berturut (Intur) 2024 ini, digelar di Bali, dengan mengusung tema “Subak: Harmoni dengan Pencipta, Alam, dan Sesama”.

Intur 2024, merupakan megafestival yang kedua kalinya diselenggarakan oleh Kemendikbud Ristek melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, bersama Direktorat Jenderal Kebudayaan,setelah sebelumnya berlangsung pada tahun 2022 di Borobudur, Yogyakarta, Jawa Tengah.

Festival ini, diadakan di Ubud dan Batubulan, Kabupaten Gianyar, serta Nusa Dua di Kabupaten Badung pada 7-18 Agustus 2024.

Sejumlah karya seni dihadirkan pada Festival ini, dengan 120 karya seni pertunjukan, seni rupa, film, hingga seni media yang inspiratif.

“Indonesia Bertutur digelar dua tahun sekali sebagai upaya pelestarian dan memajukan kebudayaan. Tapi bagaimana cara menggali dengan kebudayaan relevan dengan anak muda saat ini,” paparnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #samsara #film #garin nugroho