BALIEXPRESS.ID - Nama Tiari Bintang sudah lama bersinar di blantika musik pop Bali. Bersama sang suami, I Made Subawa alias Lolot, vokalis dari Lolot Band, perempuan asal Banjar Alengkajeng ini telah memulai perjalanan musiknya sejak era 1990-an.
Kini, di usia 42 tahun, Tiari tetap menjadi sosok inspiratif yang tak lelah berkarya, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan.
Kembali Berkarya di Tengah Tantangan
Setelah lama malang melintang di industri musik Bali dan berkolaborasi dengan berbagai band ternama, pada 2024 lalu, Tiari merilis album perdana bertajuk Sekayang-Kayang yang berisi delapan lagu berbahasa Bali.
Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus.
“Sempat ada rasa kurang percaya diri untuk kembali berkarya. Tapi berkat dukungan keluarga, terutama suami, akhirnya saya berani melangkah lagi,” ujar ibu tiga anak ini.
Fokus Berbisnis di 2025, Tapi Tetap Setia pada Musik
Meski semakin sibuk mengurus bisnis keluarga bersama saudaranya, Tiari mengaku tak akan meninggalkan musik sepenuhnya.
Ia tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai penyanyi pop rock Bali yang konsisten membawakan lagu berbahasa daerah.
“Sejak awal dikenal sebagai penyanyi Bali, saya merasa ada tanggung jawab untuk tetap menjaga bahasa Bali dalam lagu-lagu saya,” jelas pelantun Swalapatra Tresna ini.
Modernisasi Musik Bali? Ini Kata Tiari
Ketika tren lagu Bali mulai mengadopsi lirik campuran dengan bahasa Indonesia dan Inggris, Tiari justru tetap teguh pada identitasnya.
Meski begitu, ia tetap mendukung modernisasi musik Bali, asalkan tidak melupakan akar budaya yang menjadi sumber inspirasi utama.
“Seniman harus bisa menerima perubahan, tapi jangan sampai kehilangan jati diri dan budaya sendiri,” tegasnya.
Profil Singkat Tiari Bintang:
-
Nama lengkap: Ni Luh Putu Eni Arya Hastiari
-
Lahir: 24 Februari, Denpasar
-
Debut musik: Single Adi Sayang (1989) bersama Lolot
-
Populer lewat album Pejalan Idup Lolot Band (2009)
-
Ibu dari tiga anak, tetap bersinar di usia kepala empat
Dengan semangat berkarya yang tak pudar, Tiari Bintang membuktikan bahwa menjadi seniman berarti terus berproses, beradaptasi, namun tetap memegang teguh nilai-nilai budaya.
Akankah 2025 menjadi awal babak baru bagi kariernya? Kita tunggu saja kejutan berikutnya! ***
Editor : I Putu Suyatra