DJ Asal Bali Hidupkan Lagu Putri Cening Ayu dengan Sentuhan Musik Modern

Dian Suryantini • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 07:49 WIB
DJ Diah Krisna bersama Komang Febrian saat menggarap Bali Paradise. (Ist)

 
DJ Diah Krisna bersama Komang Febrian saat menggarap Bali Paradise. (Ist)  

BALIEXPRESS.ID- Dulu, hampir tidak ada anak Bali yang tumbuh tanpa gending rare. Lagu-lagu kecil yang dinyanyikan ibu atau nenek sebelum tidur itu bukan cuma nina bobo.

Itu adalah cara diam-diam mewariskan nilai dan kasih sayang, dari satu pangkuan ke pangkuan berikutnya.

Sekarang, ceritanya agak berbeda. Anak-anak lebih fasih menyanyikan lagu viral dari media sosial ketimbang Putri Cening Ayu.

Baca Juga: Pemuda 19 Tahun Tiga Kali Bobol Vila di Buleleng, Gasak Uang Puluhan Juta

Dari kegelisahan itulah lahir Bali Paradise—proyek musik besutan Diah Krisna, DJ perempuan asal Buleleng yang punya cara sendiri untuk menyelamatkan budaya.

Bukan dengan memaksa anak muda kembali ke masa lalu, tapi dengan menjemput mereka lewat dunia yang sudah akrab, musik elektronik, TikTok, Instagram, YouTube.

“Ini adalah bagian dari misi penyelamatan budaya dengan cara saya. Sentuhan musik tradisional tetap dipertahankan agar identitas Balinya tidak hilang,” ujar Diah, belum lama ini.

Baca Juga: Pencuri Tas di SPBU Lolos Sidang, Kejari Jembrana Terapkan Restorative Justice

Hasilnya adalah rilisan perdana Bali Paradise, Putri Cening Ayu versi baru. Melodi yang selama ini identik dengan suara lembut seorang ibu kini dibungkus beat elektronik yang catchy, tanpa melepas instrumen tradisional Bali yang jadi napasnya.

Tapi bagi Diah, musik yang enak didengar saja belum cukup. Ia ingin pendengarnya pulang membawa sesuatu—sebuah cerita, sebuah pesan.

Baca Juga: PPPK di Tabanan Terseret Kasus Sabu, Polisi Sita Nyaris 300 Gram Barang Bukti

Maka ia menggandeng rapper Bali, Komang Febian, untuk mengisi ruang yang tak bisa dijelaskan melodi saja.

“Ada pesan moral yang ingin disampaikan dengan cara yang lebih modern dan lebih mudah dipahami di zaman ini,” katanya.

Ajakan itu disambut antusias oleh Komang—bukan sekadar karena proyeknya terdengar berbeda, tapi karena ia melihat keseriusan di balik idenya.

“Kami sama-sama ingin memberikan sesuatu yang punya standar dan nilai untuk skena musik saat ini,” ujar Komang. Baginya, kolaborasi bukan sekadar menyatukan dua nama dalam satu lagu, tapi soal kecocokan energi dan visi.

Di tengah tren musik yang gemar bicara soal gaya hidup dan kemewahan, Komang justru memilih jalan yang lebih personal dan menohok.

Liriknya bertutur tentang seorang anak yang dulu begitu dimanja orang tuanya. Lalu tumbuh dewasa, sibuk mengejar hidupnya sendiri, makin jarang pulang, makin sedikit menyapa. Sampai suatu hari rumah tak lagi seramai dulu, dan yang tersisa cuma penyesalan.

Ditulis dalam bahasa Bali yang sederhana, lirik ini seperti pengingat halus waktu bersama orang tua tak pernah benar-benar bisa diputar ulang.

Putri Cening Ayu bukan titik akhir. Diah Krisna, Komang Febian, dan HRX sudah menyiapkan lima gending rare lainnya, masing-masing dengan konsep kolaborasi yang berbeda-beda, untuk dirilis bertahap.

Semangat menjaga wajah Bali juga terasa sampai ke visualnya. Digarap oleh Bali Atmosphere Photography, latar, busana, hingga nuansa videonya sengaja dijaga tetap "Bali"—bukti bahwa jadi modern tidak berarti harus menghapus akar.

Kini, Putri Cening Ayu bisa dinikmati di kanal YouTube Diah Krisna Production, juga hadir di TikTok dan Instagram—tempat generasi muda menghabiskan waktunya setiap hari.

“Budaya tidak hilang karena zaman berubah. Budaya hilang ketika tidak ada lagi yang mau menceritakannya, lewat Bali Paradise, cerita itu dinyanyikan lagi dengan irama baru, tapi hati yang sama,” tutup Diah Krisna. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
putri cening ayu Bali Paradise lagu bali