TABANAN, BALI EXPRESS- Musim hujan di awal tahun 2024 di Kabupaten Tabanan, Bali berdampak terhadap peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD).
Berdasarkan data, periode Januari 2024 hingga pertengahan Maret ini, sudah ditemukan sebanyak 271 kasus DBD di Tabanan.
Jumlah DBD ini tercatat mengalami peningkatan jika bandingkan dengan periode yang sama tahun 2023 yang jumlahnya mencapai 181 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Tabanan dr Anak Agung Ngurah Putra Wiradana mengakui jika pada periode triwulan 1 tahun 2024, kasus DBD mengalami peningkatan.
"Pada awal tahun trend kasus DBD memang meningkat. Kondisi ini disebabkan oleh faktor peralihan cuaca dan intensitas hujan yang tinggi,” jelas Putra.
“Trend peningkatan ini, diprediksi akan berakhir pada bulan April, sehingga pada periode bulan Juni-Juli jumlah kasus akan menurun," tambahnya.
Adapun rincian kasus DBD ini tersebut adalah, Januari tercatat 83 kasus, Februari 163 kasus, dan hingga 18 Maret terdata 25 kasus.
Dari jumlah itu kasus DBD tertinggi ada di Kecamatan Kediri, disusul Kecamatan Tabanan, Kecamatan Pupuan, dan Kecamatan Kerambitan.
Trend kenaikan kasus DBD pada disebabkan oleh beberapa faktor, seperti perubahan cuaca menjadi faktor utama banyaknya nyamuk Aedes Aegypti.
"Faktor lingkungan yang kurang baik, yang ditambah dengan curah hujan belakangan ini tidak menentu yang membuat nyamuk cepat berkembang biak," lanjutnya.
Dengan adanya peningkatan kasus ini, Putra menyebutkan pihaknya sudah melakukan upaya pencegahan penularan DBD.
Salah satunya adalah dengan melakukan fogging. Sampai saat ini, pihaknya sudah melakukan fogging di 20 titik.
Rencananya, Dinas Kesehatan diakuinya akan melaksanakan fogging sepanjang 2024 disiapkan anggaran untuk mengantisipasi DBD di 38 titik yang berpotensi menjadi kawasan penyebaran kasus DBD di kabupaten Tabanan.
“Sejatinya fogging itu hanya membunuh nyamuk dewasa saja, kalau tidak dibarengi dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh masyarakat, pencegahan DBD tidak akan maksimal,” ungkap Putra.
“Jadi kuncinya ada pada masyarakat, budaya gotong royong membersihkan lingkungan ini perlu diaktifkan,” tambahnya. (*)
Editor : I Made Mertawan