BALIEXPRESS.ID- Masalah kesehatan mental atau mental health tidak saja menjadi kasus serius di kota besar saja.
Namun masalah Kesehatan mental juga menjadi kasus Kesehatan yang cukup banyak ditangani oleh rumah sakit daerah, salah satunya di RSUD Singasana di Desa Nyitdah Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan.
Dokter Spesialis Kejiwaan, RSUD Singasana di desa Nyitdah, dr. I Made Wardana menyebutkan per bulannya RSUD ini menangani hingga 100 kasus gangguan Kesehatan jiwa yang dialami Masyarakat.
“Kasus Depresi dan kecemasan menjadi jenis kasus kesehatan mental yang paling banyak kami tangani sejak tahun 2023 lalu,” jelasnya.
Untuk mengetahui seseorang mengalami gangguan kesehatan ini, dr. Wardana menyebutkan pihaknya melakukan pemeriksaan yang menekankan pada metode biopsikososiokultural.
Biopsikososiokultural ini meliputi, pemeriksaan gangguan organik dalam tubuh pasien (biologi), pola asuhnya bermasalah (psikologi), hubungan kemasyarakatan yang bermasalah (sosio), hingga adanya masalah budaya atau kultural.
Dari pemeriksaan umum inilah diketahui beberapa faktor dominan yang menyebabkan masyarakat Tabanan mengalami gangguan kecemasan dan depresi.
"Salah satu penyebab gangguan ini, antara lain, adanya tekanan ekonomi, dan bermasalah dengan lingkungan keluarga maupun sekitarnya," lanjutnya.
Meskipun kasus gangguan kecemasan yang ditemukan di RSUD Nyitdah cukup tinggi, namun kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan mentalnya masih rendah.
Hal ini karena stigma buruk untuk datang ke Poliklinik Kejiwaan masih tinggi.
Sehingga rata-rata kasus yang ditangani di Poliklinik Kejiwaan RSUD Nyitdah adalah rujukan dari bidang lain seperti Poliklinik Saraf maupun Poliklinik Penyakit Dalam.
“Hal tersebut karena pasien terlebih dahulu melakukan pemeriksaan ke poliklinik tersebut dengan keluhan fisik, seperti hipertensi dan gangguan jantung,” ungkapnya.
Padahal ketika dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, diketahui jika penyebab hipertensi tersebut karena adanya gangguan tidur yang disebabkan oleh depresi dan kecemasan berlebihan.
Editor : IGA Kusuma Yoni