Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hernia pada Lansia: Pentingnya Tatalaksana Awal untuk Mencegah Komplikasi Serius

Wiwin Meliana • Selasa, 3 Februari 2026 | 10:38 WIB

 

dr. Made Agus Praktyasa, Sp.B., M.H., FICS
dr. Made Agus Praktyasa, Sp.B., M.H., FICS

Oleh : dr. Made Agus Praktyasa, Sp.B., M.H., FICS

(Dosen FKIK Universitas Warmadewa)

 

BALIEXPRESS.ID-Peningkatan angka harapan hidup merupakan salah satu pencapaian penting dalam pembangunan kesehatan. Di Indonesia, jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus bertambah seiring membaiknya layanan kesehatan dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat. Namun, bertambahnya usia juga membawa tantangan tersendiri, khususnya meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif dan kondisi medis kronis. Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia, tetapi kerap dianggap sepele, adalah hernia.

Di masyarakat, hernia sering dipersepsikan hanya sebagai benjolan biasa yang tidak berbahaya selama tidak menimbulkan nyeri hebat. Akibatnya, banyak lansia memilih untuk menunda pemeriksaan atau pengobatan. Padahal, pada kelompok usia lanjut, hernia bukan hanya persoalan kenyamanan, melainkan kondisi yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius hingga mengancam jiwa. Oleh karena itu, tatalaksana awal hernia pada lansia menjadi langkah krusial dalam mencegah kegawatan medis dan menjaga kualitas hidup di usia tua.

 Baca Juga: Astra Motor Bali Dukung SMK N 3 Singaraja dalam Nominasi TUK Terbaik

Apa Itu Hernia?

Hernia adalah kondisi ketika organ atau jaringan di dalam rongga perut menonjol keluar melalui bagian dinding perut yang lemah. Organ yang paling sering terlibat adalah usus, meskipun jaringan lemak atau omentum juga dapat ikut menonjol. Hernia dapat muncul di berbagai lokasi, namun yang paling sering dijumpai adalah di daerah lipat paha (hernia inguinalis), pusar (hernia umbilikalis), serta bekas luka operasi (hernia insisional).

Pada lansia, hernia inguinalis merupakan jenis yang paling sering ditemukan, terutama pada pria. Sementara itu, hernia femoralis relatif lebih sering terjadi pada wanita usia lanjut. Kondisi ini erat kaitannya dengan proses penuaan yang menyebabkan melemahnya jaringan ikat dan otot dinding perut.

 

Mengapa Lansia Lebih Rentan Mengalami Hernia?

Proses penuaan menyebabkan perubahan struktural pada tubuh manusia. Jaringan kolagen kehilangan elastisitas, massa otot berkurang, dan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri menurun. Kombinasi faktor tersebut membuat dinding perut menjadi lebih lemah dan mudah mengalami robekan atau celah.

Selain faktor usia, terdapat sejumlah kondisi yang sering menyertai lansia dan meningkatkan risiko terjadinya hernia, antara lain:

Tekanan berulang di dalam rongga perut, ditambah dengan lemahnya dinding perut, menciptakan kondisi ideal untuk terjadinya hernia pada lansia.

 Baca Juga: Dukung Pengusaha dan UMKM, BRI Gandeng BP Batam, BKPM, dan Kementerian UMKM Perkuat Investasi Daerah

Gejala yang Sering Diabaikan

Hernia pada lansia sering kali tidak menimbulkan gejala yang khas. Keluhan utama biasanya berupa benjolan yang muncul saat berdiri, batuk, atau mengejan, dan menghilang saat berbaring. Nyeri bisa ringan, bahkan tidak ada sama sekali.

Berbeda dengan usia muda, lansia sering mengalami penurunan sensitivitas terhadap nyeri. Akibatnya, hernia dapat berkembang secara perlahan tanpa disadari. Banyak pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika hernia sudah membesar atau saat terjadi komplikasi akut. Kondisi inilah yang membuat hernia pada lansia menjadi masalah kesehatan yang serius.

 

Komplikasi Hernia pada Lansia

Hernia yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi komplikasi berbahaya. Pada lansia, komplikasi ini cenderung lebih berat karena cadangan fisiologis tubuh yang sudah menurun serta adanya penyakit penyerta.

Beberapa komplikasi hernia yang perlu diwaspadai antara lain:

Inkarserasi, yaitu kondisi ketika isi hernia terjebak dan tidak dapat dimasukkan kembali ke dalam rongga perut.

Strangulasi, kondisi paling berbahaya ketika aliran darah ke organ yang terjepit terhenti, menyebabkan jaringan mati dan risiko infeksi berat.

Sumbatan usus, yang ditandai dengan nyeri perut hebat, muntah, perut kembung, dan tidak bisa buang air besar.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa angka kematian akibat operasi hernia darurat pada lansia jauh lebih tinggi dibandingkan operasi yang direncanakan. Fakta ini menegaskan pentingnya penanganan sejak dini.

 

Dilema Operasi pada Lansia

Masih banyak anggapan bahwa usia lanjut merupakan kontraindikasi untuk tindakan operasi. Kekhawatiran terhadap risiko anestesi dan komplikasi pascaoperasi sering membuat pasien maupun keluarga menunda keputusan operasi.

Namun, perkembangan ilmu kedokteran telah membuktikan bahwa usia kronologis bukan satu-satunya penentu kelayakan operasi. Dengan evaluasi praoperatif yang baik dan pengendalian penyakit penyerta, operasi hernia elektif pada lansia dapat dilakukan dengan aman. Bahkan, risiko operasi terencana jauh lebih rendah dibandingkan operasi darurat akibat komplikasi hernia.

 

Pentingnya Tatalaksana Awal

Tatalaksana awal hernia pada lansia bertujuan untuk mencegah komplikasi dan menjaga kemandirian pasien. Langkah ini meliputi deteksi dini, edukasi, dan perencanaan terapi yang tepat.

Pemeriksaan rutin pada lansia dengan faktor risiko sangat dianjurkan. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai tanda awal hernia juga penting agar keluhan tidak diabaikan. Selain itu, pengendalian penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan paru menjadi bagian penting dalam persiapan tindakan bedah.

Operasi elektif merupakan terapi definitif hernia. Bila dilakukan pada waktu yang tepat, operasi ini dapat memperbaiki kondisi pasien secara signifikan dan mencegah kegawatan di kemudian hari.

 

Dampak terhadap Kualitas Hidup

Selain risiko medis, hernia juga berdampak pada aspek psikologis dan sosial lansia. Rasa tidak nyaman, keterbatasan bergerak, serta ketergantungan pada orang lain dapat menurunkan kualitas hidup. Penanganan dini memungkinkan lansia tetap aktif, mandiri, dan percaya diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

 

 Baca Juga: Aturan Baru! Pilkel di Bangli Tahun Ini Bisa Calon Tunggal, Perda Mulai Direvisi

 

Hernia pada lansia bukanlah kondisi ringan yang dapat diabaikan. Keterlambatan penanganan justru meningkatkan risiko komplikasi serius dan tindakan darurat yang berbahaya. Deteksi dini dan tatalaksana awal, khususnya melalui operasi elektif yang terencana, terbukti lebih aman dan efektif dalam menjaga kesehatan serta kualitas hidup lansia.

Dengan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut, kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap pentingnya penanganan hernia sejak dini menjadi sangat penting. Hernia bukan akhir dari kemandirian lansia, melainkan kondisi yang dapat ditangani dengan baik bila dikenali dan diobati tepat waktu.

 

Daftar Pustaka

  1. Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL. Sabiston Textbook of Surgery. 21st ed. Elsevier; 2022.
  2. Brunicardi FC, et al. Schwartz’s Principles of Surgery. 11th ed. McGraw-Hill; 2019.
  3. Kingsnorth A, LeBlanc K. Hernias: inguinal and incisional. Lancet. 2003;362:1561–1571.
  4. Kulah B, et al. Emergency hernia repairs in elderly patients. Am J Surg. 2001;182:455–459.
  5. Nilsson H, et al. Mortality after groin hernia surgery. Ann Surg. 2007;245:656–660.
  6. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia.

 

Editor : Wiwin Meliana
#lansia #hernia