Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menyiasati Tumbuh Kembang Anak

I Putu Suyatra • Jumat, 4 Agustus 2017 | 15:56 WIB
Photo
Photo

SETIAP memperingati Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh setiap tanggal 23 Juli, selalu saja muncul pertanyaan, “Anak itu siapa atau kalau dibalik siapakah Anak itu ?” Memang untuk mencari atau memberikan jawaban yang pasti tentang pertanyaan ini diakui agak sulit. Penyebabnya, setiap orang atau setiap ahli tentang Ilmu Pendidikan Anak (Paedagogies) memiliki sudut pandang yang satu sama lain berbeda. Penulis sendiri memiliki definisi tentang anak (berdasarkan beberapa refrensi) bahwa “Anak itu adalah seorang yang masih muda, laki maupun perempuan, berusia sekitar 1 – 18 tahun, berasal dari berbagai status, dan mempunyai potensi yang perlu dikembangkan ke arah yang baik dan/atau lebih baik lagi.”


Entah diterima atau bukan, paling tidak secara subjektif, definisi atau pengertian tentang anak ini rasanya sudah tepat dengan melihat sejumlah aspek atau elemen yang ada pada diri si anak. Satu contoh, anak itu dikatakan berusia sekitar 1 – 18 tahun dengan alasan, di bawah 1 tahun itu disebut masa bayi, dan umur 1 – 5 tahun itu usia dini (Balita) yang perlu mendapat pendidikan (PAUD), serta usia 6 – 18 tahun merupakan masa sekolah pada jenjang SD, SMP, SMA/SMK. Anak, siapa dia siapapun mereka, niscaya perlu mendapat “sentuhan” berupa pendidikan dari para pendidik, entah itu orangtuanya, guru, instruktur, pamong belajar, fasilitator, dan pendidik sejenisnya. Sehubungan dengan hal ini perlu diingat bahwa pada setiap manusia, termasuk anak, ada suatu masa yang sifatnya kodrati dan non-kodrati yaitu masa tumbuh dan kembang anak.


Psiko-Fisik


Dalam buku “Pengantar Pendidikan” (Romi Sudhita, 2014:21) dinyatakan bahwa, Pertumbuhan merupakan perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung normal dan sehat pada kurun waktu tertentu. Hasil pertumbuhan dinyatakan dengan adanya penambahan pada bagian-bagian tertentu seperti tinggi dan berat badan. Disebabkan usia yang semakin bertambah, maka mulai tumbuh bulu-bulu pada bagian-bagian tertentu. Di lain pihak, perkembangan terjadi pada diri seseorang anak secara periodik sebagai hasil belajar dan hasil pematangan fisik serta psikis. Kalau pada pertumbuhan lebih terlihat jelas adanya perubahan secara fisik sedangkan pada perkembangan lebih dominan yang berubah itu adalah aspek psikisnya tapi tetap ditopang oleh perubahan yang terjadi pada aspek fisik. Contoh, kemampuan membaca anak SD seketika meningkat gara-gara mendapat tambahan makanan dan bimbingan dari para gurunya.


Agar pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung secara wajar sebagaimana anak-anak sehat lainnya, maka sangat perlu kita (lingkungan anak) memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak. Sejatinya, yang namanya kebutuhan (needs) tentu bukan hanya nasi putih plus ayam goreng tapi masih ada kebutuhan-kebutuhan yang lain. Apabila dipilah kebutuhan anak tersebut dapat berupa; kebutuhan fisik atau biologis, kebutuhan sosial, kebutuhan spiritual, dan kebutuhan penghayatan terhadap hak & kewajiban sebagai warga negara. Jenis kebutuhan yang terakhir dikreasi penulis mengingat hal itu sekarang ini sedang ngetren. Lebih jauh akan dibahas pada uraian berikutnya.


Kebutuhan Dasar


Kebutuhan fisik atau kebutuhan biologis amat gampang ditebak dan ia itu dapat dirumuskan menjadi satu kalimat pendek “Pangan – sandang – papan.” Anak, tanpa melihat status anak itu siapa, sangat membutuhkan yang namanya makanan (disuguhkan pada pagi, siang, sore atau malam hari). Begitu juga minuman, paling tidak minuman berupa air putih, merupakan sesuatu yang tak bisa ditawar-tawar. Keduanya (makanan dan minuman) merupakan kebutuhan pokok, kebutuhan dasar, dan kebutuhan minimal yang mau tidak mau harus ada. Bila hal itu kurang atau tidak ada sama sekali tentu akan mengakibatkan timbulnya penyakit seperti penyakit busung lapar atau penyakit kekurangan gizi.


Kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan sosial, termasuk di dalamnya adalah kebutuhan akan pendidikan. Anak memang tidak cukup hanya makan-minum, melainkan mereka itu perlu berkawan, perlu bersosialisasi dengan sesamanya. Anak-anak yang masih berusia rendah sangat perlu bermain. Meningkat usia meningkat pula kebutuhan mereka. Yang tak bisa dipungkiri di era gadget seperti sekarang ini adalah kebutuhan akan berkomunikasi menggunakan hand phone (HP), bahkan tidak tanggung-tanggung banyak anak yang menginginkan HP yang ada layar sentuhnya, yang bisa dipakai melihat gambar-gambar, internetan, bisa dipakai selfie (swafoto), dsb. Begitu pula dibidang pendidikan. Anak-anak sekarang lebih banyak berangan-angan agar dirinya mendapat pendidikan yang tinggi-tinggi, tidak cukup program diploma, tapi ingin pula S1, S2, bahkan S3.


Kebutuhan spiritual (keagamaan) juga tak kalah dengan kebutuhan yang lainnya. Seiring dengan kebangkitan Hindu sekarang ini (khusus yang beragama Hindu), anak-anak juga sangat merindukan kapan bisa tangkil ke pura-pura yang ada di Jawa semisal Pura Gunung Salak. Secara rutin, mereka anak-anak pelajar sangat rajin melakukan persembahyangan  di kalangan lokal saat ada piodalan tertentu semisal Galungan, Nyepi, dan lain-lainnya. Suasana seperti ini terjadi pula pada anak-anak dari kalangan agama selain Hindu, hanya saja teknis dan tata-caranya yang menyesuaikan dengan agama yang mereka peluk. Singkat cerita, kebutuhan spiritual merupakan sesuatu yang harus mendapat penyaluran dan pembinaan dari kalangan pendidik.


Tri Pusat Pendidikan


Kebutuhan yang terakhir menyangkut hak dan kewajiban sebagai warga negara yang bermukim di bumi Pancasila. Dari kaca mata luar mereka, tampaknya pada masa sekarang di mana keberadaan Pancasila, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), kebhinekaan, dan UUD 1945 sering mendapat rongrongan dari kaum radikalisme, tentu sangat diperlukan adanya pembinaan kepada mereka (anak-anak). Kalau toh dari pihak mereka (anak-anak) belum atau tidak merasakan akan hal ini, pihak pendidiklah yang harus segera tanggap bahwa mereka itu butuh pembinaan, arahan, tentang empat pilar kebangsaan seperti yang disinggung tadi.


Sesuatu yang terkadang tanpa disadari bahwa didalam menyiasati tumbuh-kembangnya anak agar berjalan efektif, malah mengalami gangguan, rintangan, ataupun hambatan. Gangguan atau hambatan tersebut bisa datang dari dirinya sendiri (internal), dan yang diperkirakan jauh lebih besar ada pada faktor luar atau eksternal. Solusi atau pemecahan masalah atas terjadinya hambatan itu dapat dilakukan lewat jalur tri pusat pendidikan ala pemikiran Ki Hajar Dewantara. Tri Pusat Pendidikan yang dimaksudkan itu meliputi jalur keluarga, sekolah, dan jalur masyarakat. Sinergitas ketiganya amat diperlukan agar arah dan tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Contoh, jika kita tidak ingin anak itu bermasalah sebagai pengguna narkoba, maka secara dini orangtua harus mendeteksi perilaku si anak, lalu meminta penjelasan kepada guru di sekolahnya tentang track-record si anak, dan memanfaatkan teman-teman sebayanya di lingkungan masyarakat apa mungkin ia menjadi pengguna narkoba, kepada siapa saja ia bergaul, dst. (*)


 



*) Penulis, pemerhati pendidikan dan pengamat perilaku.

Editor : I Putu Suyatra