JANTUNG saya bergetar bahagia ketika lewat di depan pasar sapi, Pasar Beringkit, Badung, beberapa hari lalu. Saya seakan ingat segala hal tentang keindahan. Di depan pasar ada patung sepasang sapi menghadap ke jalan, seolah menyapa pengendara yang lewat – pengendara motor dan mobil yang hampir semuanya tampak terburu-buru di jalanan. Kata sang patung, “Ton, eh, semeton, apakah kalian masih ingat kami, para sapi yang mulus, yang dulu sangat-amat disayang keluarga, dan kini tampaknya disayang sedikit-sedikit saja?”
Saya ingat. Kakek saya menyekolahkan semua anaknya, laki dan perempuan, termasuk ibu saya, meski tak semuanya sampai kuliah, hanya dengan modal pelihara sapi. Semua teman lelaki saya, waktu SD, seakan kompak, semua pelihara sapi. Kecuali saya. Saya tak punya bakat pelihara sapi. Sepulang sekolah, asyiklah mereka pada ngarit di pematang sawah atau di kebun tepi jurang. Saya, yang tak jelas bakatnya, tak punya teman bermain, sehingga ikut-ikutan ke sawah, hanya jangkak-jongkok di pematang, main air di temuku, atau sesekali minta tolong dipetikkan kelapa muda karena memanjat pohon pun saya tak bisa. Anak kampung macam apa saya.
Jangan ngeledek. Meski tak punya bakat pelihara sapi. Saya ingat hampir semua kenangan tentang sapi di desa saya, termasuk kenangan tentang Pasar Beringkit, dulu, ketika tampilannya masih tradisional dan menggetarkan hati. Mungkin hanya itu bakat saya. Mengingat-ingat saja. Saya ingat seorang teman di desa, sekitar tahun 1980-an, jual sapi ke Beringkit, duitnya mau dipakai bangun rumah. Sialnya, usai jual sapi, duitnya habis digunakan ngamal saat digelar pasar amal serangkaian Peringatan Puputan Margarana, 20 November. Ngamal saat itu bukan berarti berbuat amal, melainkan berfoya-foya karena malam amal artinya sama dengan malam segala hiburan. Peristiwa itu hingga kini biasa dipakai semacam warning bagi mereka yang jual sapi. “Ingat, duitnya ditabung, jangan sampai habis dipakai ngamal!”
Saya kerap juga diajak kakek jual sapi ke Pasar Beringkit. Sapinya naik truk, kakek dan saya diantar paman pakai motor. Di pasar itu, usai jual sapi gemuk, kakek akan beli godel, untuk dipelihara, lalu setelah gemuk dijual kembali ke Pasar Beringkit. Sungguh siklus yang indah. Saya selalu takjub melihat pasar sapi di Beringkit itu. Orang-orang datang dari seluruh Bali, membawa sapi, atau membeli sapi, dengan wajah yang serupa, liat, teguh, kadang gosong seperti dibakar matahari. Saya, dan banyak anak-anak seumur saya, biasanya nongkrong di depan dagang obat yang sedang main ular sanca, atau keliling dulu di lapak baju, sampai akhirnya ditutup dengan rekreasi makan nasi babi kecap dengan sate mewah di sebuah warung dalam pasar. Di pasar itulah pertama kali saya mengenal garpu yang punya fungsi untuk menusuk babi kecap. Haha.
Lewat dari Pasar Beringkit, untuk tujuan ke Denpasar, saya juga melewati Puspem Badung yang megah. Eh, ternyata lebih banyak lagi ada patung sapi di areal depan pusat pemerintahan itu. Saya takjub. Patung sapinya mulus dan gemuk-gemuk. Ingatan saya tentang Pasar Beringkit dan sapi-sapi di desa saya yang penuh kenangan itu langsung buyar. Saya tak bisa menghubungkan sapi di depan puspem itu dengan sapi di desa saya. Mungkin karena pusat pemerintahan kini terasa identik dengan simbol politik, maka yang saya ingat adalah sebuah partai, PDIP, yang sukses memenangkan banyak kursi Dewan dan kursi bupati, juga kursi gubernur di Bali. Semua tahu lambang PDIP, kepala banteng gemuk dalam lingkaran.
Jika memang itu patung politik, saya bisa menduga bahwa patung sapi akan lebih banyak lagi dibangun, bukan hanya di wilayah Badung, melainkan juga di wilayah lain di seluruh Bali. Dengan begitu, bisa saja nanti Pulau Bali mendapat julukan sebagai pulau sejuta patung sapi. Tapi itu tak salah. Patung apa pun dibangun di Bali, ia adalah titik penting untuk melengkapi keindahan jalan dan tepi jalan. Ia bisa jadi sebagai simbol kehidupan masyarakatnya. Di kota Singaraja, konon pernah ada patung banteng yang gagah di dekat Taman Pahlawan Curastana. Kini, wacananya, patung yang sudah hilang itu hendak dibangun kembali. Ya, tak apa-apa. Baguslah.
Jadi, sebagai simbol apa pun, patung sapi tetaplah penting ada di Bali. Meski misalnya niatnya untuk kampanye visual, jangan-jangan setelah dibangun banyak patung sapi, para politikus kita yang sudah dapat kursi, terutama politikus yang berasal dari kandang sapi, akan selalu ingat pada sapi. Bahwa Bali punya riwayat dan sejarah penting berkaitan dengan sapi. Ya, sapi dalam arti sebenarnya. Sapi yang dijual peternak Bali saat Lebaran, atau sapi yang bisa dibikin sate dan lawar.
Tak perlulah diberitahu lagi, bahwa sapi bali adalah sapi unggul yang merupakan salah satu plasma nutfah atau Sumber Daya Genetik Hewan yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Itu harus diingat selalu. Apalagi penduduk Bali yang sebagian besar masih berstatus petani dan peternak memang dikenal sebagai pemelihara sapi yang ulung meski masih dilakukan secara tradisional. Terbukti pasokan sapi bali untuk memenuhi kebutuhan daging secara nasional terhitung jumlahnya cukup besar. Jika tak salah baca di sebuah media, rata-rata pasokan sapi bali yang dikirim dari Bali sekitar 50 ribu dari sekitar 500 ribu populasi sapi di Bali setiap tahunnya.
Dengan begitu, sapi di Bali tak melulu soal patung atau simbol partai politik. Sapi adalah simbol kehidupan masyarakat Bali. Banyak pejabat lahir karena saat sekolah dulu dibiayai oleh orang tuanya dengan pelihara sapi. Ada juga politikus terpilih dengan biaya kampanye dari jual sapi. Jadi, harus diingat, jangan sampai patung sapi terbangun di mana-mana, bahkan sampai dijadikan ikon Porprov 2019 di Tabanan, namun sapinya sendiri entah hijrah ke mana.
Di daerah Banyuasri di Singaraja terdapat patung sapi gerumbungan, konon untuk memperingati bahwa di Bali Utara terdapat satu atraksi agraris berupa balapan sapi yang disebut sapi gerumbungan. Kini atraksi itu nyaris puanh dan coba dihidupkan dalam festival-festival. Saya tak setuju jika patung sapi disebut sebagai simbol peringatan. Patung sapi tentu tak sama dengan Patung Pahlawan, yang pahlawannya sudah gugur sehingga harus dikenang terus.
Patung sapi sebaiknya dibangun untuk menandakan ada banyak sapi di Bali, sama seperti patung salak di Karangasem, patung jagung di Bedugul, atau patung stroberi di Pancasari. Di mana ada patungnya di situ ada banyak barang aslinya. Jika Bali misalnya nanti mendapat julukan Pulau Sejuta Patung Sapi maka seharusnya di Bali memang ada berjuta-juta sapi. Jangan sampai ada patungnya, tapi sapi cukup dikenang dalam dongeng sebelum tidur. Ada ketuturan satua, ipidan liu ada sapi… (*)
Editor : I Putu Suyatra