Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Waspada! Ancaman Radikalisme dan Terorisme Meningkat Jelang Ramadan dan Idulfitri

I Putu Suyatra • Rabu, 29 Januari 2025 | 21:49 WIB
ilustrasi
ilustrasi

Menjelang bulan Ramadan dan Idulfitri, ancaman radikalisme dan terorisme kembali menjadi perhatian serius. Momen keagamaan yang seharusnya penuh dengan kedamaian dan kebersamaan justru sering dimanfaatkan oleh kelompok ekstrem untuk menyebarkan ideologi berbahaya. Mengapa ancaman ini meningkat menjelang hari-hari suci? Apa langkah yang telah disiapkan untuk mengantisipasinya?

Ancaman di Balik Euforia Ramadan

Ramadan adalah bulan suci bagi umat Islam, di mana spiritualitas dan solidaritas sosial semakin diperkuat. Namun, kelompok radikal sering memanfaatkan momentum ini untuk menyebarkan paham ekstrem dan bahkan merencanakan aksi teror. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi gangguan keamanan di tengah masyarakat yang tengah menjalankan ibadah.

Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Tiga Menteri terkait libur sekolah selama Ramadan 1446 H/2025 M. SE ini ditandatangani oleh Mendikdasmen Abdul Mu’ti, Mendagri Tito Karnavian, dan Menag Nasaruddin Umar. Langkah ini bertujuan memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk serta mempererat tali silaturahmi dengan keluarga.

Namun, di balik kebijakan ini, pengamanan ketat tetap diperlukan. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, yang memiliki pengalaman panjang dalam menangani terorisme, menegaskan bahwa peningkatan patroli keamanan dan pengawasan terhadap kelompok radikal harus dilakukan secara intensif.

Deradikalisasi dan Peran Tokoh Agama

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia juga turut berperan dalam upaya mencegah radikalisme. Melalui Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, organisasi ini telah menetapkan awal Ramadan pada 1 Maret 2025 berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Selain memastikan keseragaman dalam menjalankan ibadah, Muhammadiyah juga terus mendorong moderasi beragama sebagai langkah preventif melawan ekstremisme.

Sementara itu, upaya internasional dalam menghadapi radikalisme juga semakin diperkuat. Duta Besar Rusia untuk RI, Sergei Gennadievich Tolchenov, mengundang Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk menghadiri Kazan Summit 2025. Undangan ini bertujuan memperkuat kerja sama bilateral di bidang keagamaan dan pendidikan Islam. Rusia sendiri menunjukkan ketertarikan terhadap pendekatan deradikalisasi Indonesia, mengingat banyak negara menghadapi tantangan besar dalam menangkal radikalisasi.

Media Sosial: Sarang Propaganda yang Perlu Diwaspadai

Selain ancaman fisik, dunia maya juga menjadi medan pertempuran baru bagi kelompok radikal. Media sosial kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan propaganda dan merekrut anggota baru. Oleh karena itu, pemerintah terus mengembangkan teknologi pemantauan guna mendeteksi dan menangkal konten ekstremis sebelum berkembang lebih jauh.

Tokoh agama seperti Abdul Mu’ti dan Nasaruddin Umar memainkan peran kunci dalam upaya kontra-radikalisasi. Melalui ceramah dan edukasi, mereka dapat mengarahkan umat ke jalan yang lebih moderat dan jauh dari paham ekstrem. Organisasi besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) juga harus terus menggaungkan pesan toleransi dan memperkuat program moderasi beragama.

Menjaga Keamanan Bersama

Momen Ramadan dan Idulfitri juga menjadi waktu di mana aktivitas ekonomi meningkat, seperti padatnya pasar tradisional dan arus mudik. Sayangnya, kondisi ini dapat menjadi target empuk bagi aksi terorisme. Oleh karena itu, pengamanan di tempat-tempat publik harus diperketat untuk mencegah potensi ancaman.

Media juga memiliki peran besar dalam membangun kesadaran masyarakat. Informasi yang akurat dan seimbang dapat membantu masyarakat memahami bahaya radikalisme serta langkah-langkah pencegahannya. Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk memperkuat persaudaraan, bukan justru menjadi ladang penyebaran ideologi ekstrem.

Pada akhirnya, melawan radikalisme dan terorisme adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, tokoh agama, media, dan masyarakat harus bersatu untuk menjaga keamanan dan kedamaian negeri ini. Dengan kerja sama yang erat, Indonesia bisa melewati tantangan ini dan merayakan momentum keagamaan dengan penuh makna dan tanpa rasa khawatir. ***

Oleh: Nurul Janida (Penulis adalah mahasiswa Malang tinggal di Jakarta)

 

Editor : I Putu Suyatra
#radikalisme