Brutal! OPM Serang Nakes dan Guru di Yahukimo, Pemerintah Wajib Bertindak Tegas
I Putu Suyatra• Senin, 24 Maret 2025 | 14:45 WIB
Lokasi yang menjadi sasaran aksi OPM di Distrik Anggruk, Yahukimo, Papua Pegunungan. (istimewa)
Pembunuhan tenaga kesehatan dan guru di Kabupaten Yahukimo oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) menjadi bukti nyata kekejaman yang tidak dapat ditoleransi. Serangan terhadap tenaga pendidik dan medis bukan hanya pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, tetapi juga serangan terhadap masa depan Papua. Alih-alih membangun daerahnya, OPM justru menebar teror yang semakin menyulitkan masyarakat setempat.
Panglima Komando Operasi (Pangkoops) Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, menegaskan bahwa negara tidak akan tinggal diam. Aparat keamanan telah meningkatkan patroli dan mempercepat upaya penegakan hukum demi menangkap para pelaku. Hak setiap warga negara untuk hidup dan bekerja dalam kondisi aman harus dijamin, termasuk para guru dan tenaga kesehatan yang mengabdikan diri bagi Papua.
Kekerasan OPM: Teror yang Berulang
OPM sering kali mencoba membenarkan aksi brutalnya dengan dalih bahwa korban adalah mata-mata atau agen militer. Namun, Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Candra Kurniawan memastikan bahwa tuduhan ini hanyalah propaganda belaka. Modus serupa telah berulang kali digunakan untuk menciptakan ketakutan dan memperkuat narasi bahwa mereka adalah pihak yang tertindas. Padahal, justru mereka sendiri yang menindas rakyat Papua dengan aksi-aksi keji.
Serangan terhadap sekolah di Yahukimo membawa dampak besar bagi komunitas setempat. Pendidikan adalah kunci kemajuan, dan ketika guru menjadi target serangan, anak-anak Papua kehilangan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Tindakan OPM ini bukan perjuangan kemerdekaan, melainkan aksi terorisme yang harus segera dihentikan.
Pemerintah Perkuat Stabilitas di Papua
Untuk menghadapi ancaman ini, aparat keamanan terus melakukan operasi secara terukur dan profesional. Komandan Satgas Rajawali II Koops TNI Habema Kogabwilhan III, Letnan Kolonel Infanteri Gustiawan, menegaskan bahwa langkah strategis telah disiapkan untuk menjamin keamanan masyarakat Papua tanpa menimbulkan keresahan.
Selain pendekatan militer, pemerintah juga harus memperkuat upaya pembangunan di Papua. Dengan meningkatkan investasi di sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, masyarakat akan memiliki lebih banyak peluang untuk berkembang. OPM tidak akan lagi menarik simpati jika rakyat merasakan kehadiran negara yang benar-benar peduli terhadap kesejahteraan mereka. Pembangunan infrastruktur, peningkatan akses pendidikan, dan layanan kesehatan yang lebih baik menjadi kunci utama untuk melemahkan pengaruh kelompok separatis.
Masyarakat Internasional Harus Sadar
OPM sering memainkan propaganda di tingkat internasional dengan mengklaim sebagai korban ketidakadilan. Padahal, tindakan mereka justru menciptakan ketakutan dan menghambat pembangunan Papua. Dunia harus memahami bahwa aksi kekerasan terhadap warga sipil bukanlah perjuangan yang sah, melainkan bentuk terorisme yang harus ditindak tegas.
Papua Harus Damai, OPM Harus Diberantas
Peristiwa di Yahukimo adalah peringatan bahwa kelompok bersenjata masih menjadi ancaman nyata. Oleh karena itu, pemerintah dan aparat keamanan harus semakin tegas dalam menumpas aksi brutal ini. Tidak boleh ada lagi guru dan tenaga kesehatan yang menjadi korban kebiadaban OPM. Negara harus hadir dengan kekuatan penuh untuk memastikan Papua tetap aman dan berkembang.
Dukungan masyarakat terhadap langkah tegas pemerintah sangat dibutuhkan. Tanpa kerja sama semua pihak, upaya memberantas kekerasan di Papua akan lebih sulit. Ketika pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat bersatu dalam menghadapi OPM, maka Papua akan semakin dekat dengan perdamaian yang sesungguhnya. ***
Oleh: Yohanis Wambrauw (Penulis merupakan mahasiswa asal Papua di Surabaya).