Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dorong Lapangan Kerja dan Perkuat Perekonomian Nasional
I Putu Suyatra• Senin, 28 April 2025 | 01:24 WIB
Ibu PKK Desa Sumberklampok menyiapkan paket uji coba program makan bergizi gratis untuk ratusan siswa.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu terobosan strategis pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus menggerakkan roda perekonomian nasional. Tidak hanya menargetkan peningkatan gizi, program ini juga membuka peluang besar bagi penciptaan lapangan kerja baru di berbagai sektor.
Masalah gizi buruk, stunting, dan ketimpangan akses terhadap makanan sehat masih menjadi tantangan besar di banyak wilayah, terutama daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Untuk menjawab tantangan ini, MBG hadir menyediakan makanan bergizi secara gratis, dengan fokus pada anak-anak sekolah dasar dan menengah, ibu hamil, serta kelompok rentan lainnya.
Namun, program MBG bukan sekadar aksi sosial. Di balik distribusi makanan sehat, terdapat potensi besar untuk mendongkrak ekonomi lokal dan nasional melalui keterlibatan berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, hingga industri makanan.
Dukungan Kementerian Ketenagakerjaan untuk Program MBG
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh program MBG. Hal ini diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, terkait sinergi dalam Program Bidang Ketenagakerjaan untuk Pemenuhan Gizi Nasional di kantor Kemnaker, Jakarta, pada 14 April 2025.
Yassierli menegaskan, program MBG memiliki prospek besar dalam menciptakan lapangan kerja. Dukungan Kemnaker diarahkan untuk memperkuat pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja melalui Balai Pelatihan seperti BBPVP, BPPK, dan BLK Komunitas, yang akan difungsikan sebagai pusat edukasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Yassierli, keberhasilan MBG bergantung pada ketersediaan tenaga kerja kompeten. Oleh karena itu, pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja menjadi prioritas penting untuk mendukung kelancaran program ini.
Efek Domino MBG terhadap Sektor Perekonomian
Program MBG menciptakan efek domino yang luas terhadap berbagai sektor perekonomian. Sektor pertanian, peternakan, perikanan, logistik, industri makanan olahan, hingga jasa boga, semuanya mendapatkan dorongan positif dari pelaksanaan program ini.
Petani dan peternak lokal, pelaku UMKM pangan, sektor transportasi, hingga tenaga pendukung di bidang pendidikan dan kesehatan, turut merasakan manfaat dari hadirnya program MBG. Ini menjadikan MBG sebagai proyek padat karya berskala nasional yang mampu menyerap ribuan hingga jutaan tenaga kerja, terutama di desa-desa dan kota-kota kecil.
Target Besar dan Dampak Nyata Program MBG
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyebutkan bahwa MBG merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) terbesar yang pernah dijalankan pemerintah. Target pembentukan 30 ribu SPPG di seluruh Indonesia diperkirakan mampu menciptakan hingga 1,5 juta lapangan kerja langsung di sektor penyediaan makanan bergizi.
Setiap satuan SPPG terdiri dari tiga tenaga profesional—kepala satuan pelayanan, ahli gizi, dan ahli akuntansi—serta sekitar 50 relawan untuk memasak, memotong, dan membersihkan bahan makanan.
Per April 2025, sudah terbentuk 1.072 SPPG di berbagai daerah, dengan melibatkan ribuan tenaga kerja baru. Banyak ibu rumah tangga berusia 40–45 tahun yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan, kini memperoleh gaji sekitar Rp 2 juta per bulan melalui program ini.
Dadan juga optimistis bahwa kehadiran SPPG akan mendorong munculnya 15 wirausaha baru di sektor pangan, seperti pemasok daging, telur, buah-buahan, sayuran, tepung, susu, hingga pengelola minyak jelantah dan limbah organik.
Memberdayakan Ekonomi Lokal dan Mengurangi Pengangguran
Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, turut mengapresiasi program MBG yang mampu menciptakan lapangan kerja baru melalui pembangunan dapur MBG. Setiap dapur MBG diperkirakan mempekerjakan setidaknya 47 tenaga kerja, mulai dari koki, tenaga distribusi, hingga tenaga kebersihan.
Salah satu keunggulan program MBG adalah kemampuannya memberdayakan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong keterlibatan koperasi petani, kelompok wanita tani, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam penyediaan bahan makanan dan pengelolaan katering lokal. Dengan strategi ini, perputaran uang tetap berada di daerah, memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Membangun Generasi Sehat, Cerdas, dan Produktif
Gizi yang baik adalah pondasi utama untuk membangun generasi muda yang sehat, cerdas, dan produktif. Dengan memberikan akses makanan bergizi sejak dini, program MBG turut berkontribusi dalam mencegah stunting, meningkatkan kualitas SDM, dan memperbesar potensi pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.
Melalui MBG, Indonesia membuktikan bahwa investasi dalam gizi masyarakat adalah langkah strategis untuk memperkuat ekonomi sekaligus mempersiapkan generasi masa depan yang lebih berdaya saing.
Kesimpulan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi solusi untuk masalah kesehatan masyarakat, tetapi juga motor penggerak pembangunan berkelanjutan. Dengan membuka lapangan kerja, mengurangi ketimpangan ekonomi, dan membangun SDM unggul, MBG berpotensi besar membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah.
Investasi dalam gizi adalah investasi dalam masa depan bangsa. Melalui MBG, Indonesia menunjukkan komitmen nyata untuk memberdayakan rakyat sekaligus memperkuat ekonomi nasional. ***
Oleh: Dhita Karuniawati (Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia)