Hal ini membuka kembali cakrawala dan ingatan saya sedari kecil sekaligus berselancar dalam pikiran ilmiah tentang tali pusat.
Aku teringat penelitian yang menunjukkan menunda pemotongan tali pusat sekitar 30-60 detik saat operasi Sectio Cesaria karena meningkatkan cadangan haemoglobin dan zat besi pada bayi. Tali pusat akan layu lalu lepas sendiri dari badan si kecil sekitar 2-7 harinya.
Orang Bali menyebutnya kepus pungsed (lepasnya tali pusat). Tetua adat maupun orang tua lainnya selalu menyarankan bahwa potongan tali pusat itu disimpan dan digunakan sebagai pelindung si kecil dari marabahaya. Benarkah demikian?
Tali Pusat dan Perlindungan Gaib
Kasih sayang dari ibu dan ayah sebelum saat dan setelah lahir si kecil juga dibantu dari Kanda Pat seperti air ketuban, ari-ari, tali pusat dan lamas. Keempatnya menjaga janin yang ada hingga siap dilahirkan ke dunia.
Tali Pusat dapat menangkal ilmu gaib yang merugikan berdasarkan pembicaraan dari turun temurun.
Tak ayal sering kita taruh tali pusat di kalung maupun gelang dari si kecil. Karena saya bukan ahlinya dalam ilmu tersebut, mari kita bahas lebih ke area medisnya.
Tali pusat sebagai terapi medis
Mari kita bahas agak ilmiah dan mohon maaf jika bahasanya agak asing di telinga teman-teman. Tali pusat menjadi sangat seksi untuk diteliti karena sebagai sumber sel punca.
Penelitian ini sejak tahun 1960-an oleh ilmuwan Kanada Ernest A. McCulloch dan James E.Till. Karakteristik khasnya adalah dapat beregenerasi dan berdiferensiasi.
Sel punca dari tali pusat atau sel darah tali pusat memiliki beberapa keuntungan seperti memiliki kemampuan diferesiansi lebih baik dan multipotent dibandingkan sel punca dewasa. Selain itu, imunogenisitasnya lebih rendah dan prosedurnya tidak invasif dalam proses pembuatannya. Agak berat ya?
Mari kita lebih simpelkan, tali pusat yang ada ternyata sumber potensial untuk membantu memperbaiki atau menyembuhkan berbagai masalah kesehatan seperti radang sendi, stroke, kencing manis, kebotakan, jerawat, sirosis hati, talasemia, terapi kesehatan, Parkinson (Evi et al, 2018).
Saya yakin kondisi itu pernah teman-teman liat atau setidaknya dengar yang terkesan di masyarakat penyakit yang harus berobat rutin, atau mungkin yang beranggapan penyakit tersebut memalukan karena botak tidak semua senang mengalaminya.
Tahun 1988 untuk pertama kali di Perancis dilakukan terapi Stem Sel menggunakan darah tali pusat. Tali pusat menjadi sumber sel punca yang penting, baik itu haematopoietic stem cells ataupun mesenchymal stem cells.
Mesenchymal stem cells yang dapat diekstrak dari jaringan tali pusat memiliki kemampuan untuk memperbarui diri dan efektif untuk menyembuhkan luka bersamaan dengan proses normal penyembuhan luka itu sendiri (Nan et al., 2015).
Saat ini di Indonesia dan di Bali terapi ini sudah bukan hal yang jarang dilakukan walau terus dikembangkan dan diteliti.
Pada sumsum tulang dan darah tali pusat (umbilical cord blood), sel punca secara teratur membelah dan memperbaiki jaringan yang rusak, meski demikian pada organ lain seperti pankreas atau hati, pembelahan hanya terjadi dalam kondisi tertentu.
Kenyataan ini membuat saya berpikir lebih jauh dan merasa begitu banyak hal yang aku tidak ketahui. Jangan-jangan leluhur sudah mengetahui potensi ini? Bagaimana menurutmu? (*)
Oleh: dr. Putu Sukedana, S.Ked., AIFO-K., FISQua
Editor : I Putu Mardika