Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Orang Tua Wajib Menjadi Guru dan Motivator Utama bagi Anak Disleksia

I Putu Mardika • Jumat, 20 Februari 2026 | 14:32 WIB

Ketut Trika Adi Ana, M.Pd akademisi Undiksha yang getol meneliti Disleksia
Ketut Trika Adi Ana, M.Pd akademisi Undiksha yang getol meneliti Disleksia
BALIEXPRESS.ID-Ketika seorang anak kesulitan membaca, banyak orang tua awalnya memilih menunggu. Mereka berharap waktu akan menyelesaikan persoalan itu. “Nanti juga lancar sendiri,” begitu kalimat yang sering terdengar.

Namun bagi sebagian anak, kesulitan membaca bukan sekadar fase perkembangan biasa. Ada kondisi yang disebut disleksia, sebuah perbedaan cara kerja otak dalam memproses simbol bahasa, yang membuat anak membutuhkan pendekatan belajar yang berbeda.

Sayangnya, yang sering kali lebih berbahaya dari kesulitan membaca itu sendiri adalah dampak psikologis yang muncul ketika anak tidak mendapatkan pemahaman dan penanganan yang tepat.

Disleksia bukanlah tanda rendahnya kecerdasan. Anak dengan disleksia umumnya memiliki kemampuan intelektual yang normal, bahkan tidak sedikit yang menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang kreatif, visual, atau pemecahan masalah.

Yang berbeda adalah cara mereka mengenali huruf, menghubungkan bunyi dengan simbol, dan memproses kata-kata secara cepat. Mereka memerlukan waktu lebih lama, pengulangan lebih sering, dan strategi pembelajaran yang sistematis. Namun di ruang kelas yang serba cepat, perbedaan ini sering tidak terakomodasi secara optimal.

Di sinilah masalah mulai berkembang. Anak yang berkali-kali gagal membaca dengan lancar perlahan membangun pengalaman belajar yang tidak menyenangkan. Membaca tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang membuka jendela dunia, melainkan sebagai sumber kecemasan. Setiap kali diminta membaca keras-keras, jantungnya berdebar.

Ia takut salah. Ia takut ditertawakan. Ia takut dianggap bodoh. Ketika pengalaman ini terulang terus-menerus, anak tidak hanya mengalami kesulitan akademik, tetapi juga kecemasan akademik yang mendalam.

Kecemasan akademik inilah yang sering menjadi masalah utama di masa depan. Anak yang tidak ditangani dengan tepat cenderung menghindari membaca. Mereka terlihat malas, padahal sesungguhnya sedang melindungi diri dari rasa gagal. Menghindari buku menjadi cara untuk menghindari rasa malu.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berdampak pada prestasi akademik yang tidak maksimal. Nilai yang rendah memperkuat keyakinan negatif dalam diri anak bahwa ia tidak pintar. Ketika keyakinan ini mengakar, kepercayaan diri menurun, motivasi melemah, dan kemampuan sosial ikut terpengaruh.

Banyak orang tua baru menyadari keseriusan situasi ketika anak mulai menunjukkan perubahan perilaku. Ada yang menjadi pendiam dan menarik diri. Ada yang mudah marah dan frustrasi. Ada pula yang kehilangan minat belajar sama sekali. Padahal akar masalahnya sering berawal dari kesulitan membaca yang tidak segera ditangani secara tepat dan empatik. Oleh karena itu, pencegahan dampak psikologis menjadi sama pentingnya dengan meningkatkan kemampuan literasi itu sendiri.

Dalam konteks inilah, peran orang tua menjadi sangat krusial. Sekolah memang memiliki tanggung jawab pendidikan, tetapi waktu guru bersama anak terbatas. Satu guru harus membagi perhatian kepada banyak siswa.

Intervensi individual tidak selalu dapat dilakukan secara intensif. Sebaliknya, orang tua adalah figur yang paling konsisten hadir dalam kehidupan anak. Interaksi terjadi setiap hari. Lingkungan rumah menjadi ruang pembentukan karakter dan kepercayaan diri. Karena itu, orang tua bukan sekadar pendamping, melainkan guru dan motivator utama.

Peran tersebut tidak dapat dijalankan tanpa pengetahuan. Orang tua perlu memahami apa itu disleksia dan bagaimana dampaknya. Pemahaman ini akan mengubah cara pandang terhadap anak.

Anak tidak lagi dianggap malas atau kurang usaha, melainkan dipahami sebagai individu yang membutuhkan strategi belajar berbeda. Pengetahuan juga membantu orang tua mengenali gejala sejak dini, seperti kesulitan mengenali huruf, sering tertukar antara huruf yang mirip, lambat mengeja, atau kesulitan mengingat urutan abjad. Semakin cepat tanda-tanda ini dikenali, semakin cepat intervensi dapat dilakukan.

Deteksi dini bukan sekadar mempercepat kemampuan membaca. Yang lebih penting, deteksi dini mencegah anak mengalami kegagalan berulang yang melukai harga dirinya. Pada usia dini, otak anak masih sangat plastis dan responsif terhadap latihan yang terstruktur.

Jika intervensi dilakukan lebih awal, anak memiliki peluang besar untuk berkembang tanpa harus melalui pengalaman traumatis di sekolah. Sebaliknya, jika dibiarkan terlalu lama, tuntutan akademik yang semakin kompleks akan memperbesar tekanan yang dirasakan anak.

Namun memahami disleksia saja tidak cukup. Orang tua juga perlu mengambil peran aktif dalam intervensi di rumah. Banyak yang merasa tidak percaya diri karena bukan berlatar belakang pendidikan khusus.

Padahal yang dibutuhkan bukanlah keahlian profesional semata, melainkan konsistensi dan pendekatan yang tepat. Latihan membaca dapat dilakukan dalam durasi singkat tetapi rutin. Pembelajaran perlu diberikan secara bertahap dan berurutan.

Penggunaan pendekatan multisensori (menggabungkan penglihatan, pendengaran, dan gerakan) akan sangat membantu. Yang terpenting, suasana belajar harus menyenangkan dan bebas tekanan.

Rumah harus menjadi tempat paling aman bagi anak untuk belajar. Jika di sekolah ia merasa tertinggal, di rumahlah ia harus merasakan penerimaan tanpa syarat. Cara orang tua merespons kesalahan anak sangat menentukan.

Teguran dengan nada tinggi atau perbandingan dengan saudara hanya akan memperkuat rasa tidak mampu. Sebaliknya, koreksi yang lembut dan dorongan positif akan membangun keberanian untuk mencoba kembali. Setiap kemajuan kecil, sekecil apa pun, layak diapresiasi.

Di luar aspek teknis membaca, orang tua juga memegang peran vital dalam membangun ketahanan mental anak. Anak disleksia perlu diyakinkan bahwa kesulitan bukanlah identitas dirinya. Ia bukan “anak yang bodoh”, melainkan anak yang belajar dengan cara berbeda.

Kalimat afirmasi sederhana dari orang tua dapat menjadi penopang kuat bagi kepercayaan diri anak. Dukungan emosional yang konsisten akan membantu anak membangun sistem koping yang sehat, kemampuan untuk menghadapi tantangan tanpa menyerah.

Pada akhirnya, masa depan anak disleksia sangat bergantung pada bagaimana lingkungan terdekat meresponsnya hari ini. Banyak individu sukses di dunia yang diketahui memiliki disleksia. Mereka mampu berkembang bukan karena kesulitannya hilang begitu saja, tetapi karena mendapatkan dukungan yang tepat dan tidak kehilangan rasa percaya diri.

Potensi anak disleksia bisa sangat besar, tetapi potensi itu hanya akan tumbuh jika dipelihara dengan kesabaran dan keyakinan.

Menjadi orang tua anak disleksia memang membutuhkan komitmen lebih. Dibutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran yang mungkin tidak sedikit. Namun pilihan ada di tangan orang tua: membiarkan anak berjuang sendirian dengan kecemasannya, atau berdiri di sampingnya sebagai guru dan motivator utama. Intervensi bukan hanya tentang mengajarkan huruf dan kata, tetapi tentang menjaga harga diri dan masa depan anak.

Anak disleksia tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan pemahaman, strategi yang tepat, dan dukungan tanpa syarat. Ketika orang tua bersedia belajar, mendampingi, dan memotivasi dengan konsisten, mereka sedang membangun fondasi kokoh bagi kehidupan anak di masa depan.

Guru di sekolah memiliki peran penting, tetapi guru yang paling berpengaruh adalah orang tua yang setiap hari hadir di rumah, dengan kesabaran dan keyakinan bahwa anaknya mampu berkembang. Di situlah kunci sesungguhnya. (*)

Oleh

Ketut Trika Adi Ana, M.Pd, Akademisi Undiksha yang getol meneliti Disleksia

Editor : I Putu Mardika
#anak #disleksia #Intelektual #TrikaIndoDyslexic #Ketut Trika Adi Ana #psikologis