Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

AI “Asal Bapak Senang” dan 21CLD: Mengembalikan Pendidikan sebagai Ruang Berpikir di Era Mesin yang Selalu Mengiyakan

I Putu Mardika • Sabtu, 2 Mei 2026 | 11:13 WIB
Made Hery Santosa, Ph.d Pendidik dan Peneliti Undiksha
Made Hery Santosa, Ph.d Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Setiap tanggal 2 Mei, kita kembali mengutip semangat Ki Hadjar Dewantara: pendidikan adalah proses memerdekakan manusia. Namun di ruang-ruang kelas kita hari ini, ditambah kehadiran AI, pertanyaan mendasarnya menjadi semakin tajam: “Apakah kita benar-benar sedang memerdekakan cara berpikir, atau justru semakin membiasakan jawaban yang ‘mengiyakan’?”

Fenomena Algorithmic Sycophancy, ketika AI cenderung menyesuaikan jawaban agar menyenangkan pengguna, membawa kita pada satu ironi baru. Di tengah teknologi paling canggih, kita justru berhadapan dengan pola lama, yaitu Asal Bapak Senang (ABS).

AI menjadi cepat, cerdas, dan responsif. Tetapi dalam banyak kasus, ia juga menjadi terlalu “baik.” Ia mengonfirmasi lebih sering daripada mengoreksi. Ia menyetujui lebih cepat daripada menantang. Masalahnya, budaya pendidikan kita memang sudah lama akrab dengan pola ini. 

Di banyak kelas, siswa dilatih untuk menjawab benar, bukan berpikir dalam. Mereka terbiasa mereproduksi, bukan mengonstruksi. Maka ketika AI hadir dengan kemampuan menjawab instan dan cenderung ABS, ia tidak mengganggu kebiasaan belajar ini. Ia justru memperkuatnya. Di sinilah urgensi Hari Pendidikan Nasional menemukan relevansinya kembali.

Baca Juga: Bangunan Dapur Warga Kintamani Terbakar Pagi Hari, Terdengar Suara Mirip Tabung Gas Bocor

Data capaian akademik, baik dalam asesmen nasional maupun studi internasional, menunjukkan bahwa tantangan kita bukan sekadar akses pendidikan, tetapi kualitas berpikir. Kita tidak kekurangan jawaban, kita kekurangan pertanyaan yang baik.

Dari AI yang ABS ke Learner Agency

Lalu, bagaimana seharusnya kita memposisikan AI dalam pendidikan? Di sinilah pentingnya menggeser peran AI dari sekadar pemberi kesenangan menjadi penantang pola pikir. Dalam kerangka pendidikan modern, ini sejalan dengan konsep learner agency, di mana siswa menjadi subjek aktif yang mampu mengarahkan, mempertanyakan, dan merefleksikan proses belajarnya sendiri. 

AI seharusnya tidak selalu mengiyakan. Ia perlu, dan bahkan harus, sesekali tidak setuju. Pendekatan ini juga beririsan dengan tradisi Socratic Inquiry, sebuah metode bertanya yang tidak memberikan jawaban langsung, tetapi justru menggali, mempertanyakan, dan menantang asumsi.

Bayangkan jika siswa terbiasa berinteraksi dengan AI seperti ini: 

“Tolong kritik jawaban saya.”

“Apa kelemahan argumen saya?”

“Berikan sudut pandang yang berlawanan.”

Dalam skenario ini, AI bukan lagi ABS, melainkan mitra dialog yang mendorong kedalaman berpikir.

Baca Juga: Jelang Pemlaspasan, Krama Banjar Panti Gede Gelar Prosesi Mendak Kulkul di Puri Agung Jro Kuta

Jika AI cenderung mengiyakan, maka pendidikan harus secara sadar membangun ekosistem yang menantang. Di sinilah kerangka seperti 21st Century Learning Design (21CLD) menjadi sangat relevan, bukan sekadar jargon, tetapi sebagai strategi konkret untuk mengimbangi bias AI. Enam pilar 21CLD terdiri dari konstruksi pengetahuan, kolaborasi, pemecahan masalah dan inovasi, komunikasi terampil, regulasi diri, dan TIK untuk pembelajaran. Dalam konteks AI hari ini, ia menjadi antidot terhadap Algorithmic Sycophancy.

Konstruksi Pengetahuan: Melawan Budaya Copy-Paste

Dalam kelas berbasis hafalan, AI menjadi mesin penyalin tercepat. Siswa cukup bertanya, lalu menyalin. Namun dalam pilar konstruksi pengetahuan, siswa tidak cukup menerima informasi, mereka harus mengolah, mengaitkan, dan menciptakan makna baru.

Misalnya, di dalam kelas, guru meminta siswa, “Bandingkan jawaban AI dengan sumber lain, lalu jelaskan bagian mana yang kurang tepat dan mengapa.” Di sini, AI bukan sumber akhir, tetapi bahan mentah untuk berpikir. Siswa belajar bahwa jawaban cepat belum tentu jawaban benar.

Kolaborasi: Menghindari Echo Chamber Digital

AI yang ABS cenderung memperkuat perspektif individu. Jika siswa belajar sendiri dengan AI, mereka bisa terjebak dalam ‘ruang gema’ yang memperkuat keyakinan awal. Melalui kolaborasi, siswa dipaksa bertemu perspektif lain. Di dalam proses belajar, misalnya, siswa bekerja dalam kelompok kecil, kemudian setiap kelompok diminta mengevaluasi jawaban AI dari sudut pandang berbeda, dan hasilnya didiskusikan dan diperdebatkan. Di sini, ketidaksetujuan menjadi sumber belajar, bukan gangguan.

Pemecahan Masalah dan Inovasi: Dari Jawaban ke Pertanyaan

AI unggul dalam memberikan jawaban. Tetapi pendidikan seharusnya unggul dalam merumuskan masalah. Dalam pilar pemecahan masalah dan inovasi, siswa tidak hanya menerima solusi, tetapi merancang solusi baru. Dalam kelas, aktivitas bisa menggunakan instruksi ini: “Gunakan jawaban AI sebagai titik awal. Temukan kelemahannya, lalu kembangkan solusi yang lebih baik.” Dengan pendekatan ini, AI tidak menggantikan kreativitas, tetapi memicu inovasi.

Komunikasi Terampil: Menguji, bukan Menerima Apa Adanya

Siswa perlu belajar bahwa tidak semua informasi layak dipercaya, bahkan jika disampaikan dengan meyakinkan. Dalam komunikasi terampil, siswa dilatih untuk menyampaikan argumen berbasis bukti. Dalam praktik di kelas, siswa diminta mempresentasikan hasil analisis mereka terhadap jawaban AI dan mereka harus mempertahankan argumen di depan teman. Di sini, AI menjadi lawan debat, bukan penyedia jawaban.

Regulasi Diri: Melawan Kenyamanan Instan

Salah satu bahaya terbesar AI adalah kenyamanan. Semua menjadi cepat, mudah, dan instan. Namun pembelajaran yang bermakna membutuhkan usaha-usaha lebih. Dalam regulasi diri, siswa belajar mengelola proses belajarnya sendiri, termasuk kapan harus percaya, kapan harus meragukan.

Guru sebaiknya membiasakan refleksi dengan bertanya “Apakah saya benar-benar memahami jawaban ini, atau hanya menerimanya karena terdengar meyakinkan?” Pertanyaan sederhana ini adalah benteng pertama melawan ilusi pengetahuan.

Baca Juga: BRI Imbau Masyarakat Waspada Modus Penipuan KUR, Ingatkan Masyarakat Jaga Data Pribadi

TIK untuk Pembelajaran: Dari Konsumen ke Pengguna Kritis

AI adalah bagian dari TIK. Namun perannya harus jelas, yaitu alat bantu dan bukan otoritas mutlak. Dalam pilar TIK untuk pembelajaran, siswa tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi memahami cara kerjanya, termasuk biasnya. Dalam kelas, guru bisa menjelaskan konsep Algorithmic Sycophancy secara sederhana dan siswa diminta menguji AI dengan pertanyaan yang bias, lalu menganalisis responsnya. Di sini, literasi AI menjadi kunci, yakni bukan sekadar bisa menggunakan, tetapi mampu mengkritisi.

Pendidikan di Era AI: Bukan Tentang Kecepatan, tetapi Kedalaman

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan lomba kecepatan menjawab. Jika itu tujuannya, AI sudah menang. Tetapi pendidikan sejati adalah tentang keberanian untuk tidak langsung percaya, kemampuan untuk mempertanyakan, dan dan kerendahan hati untuk mengakui kemungkinan salah. Di era AI yang cenderung ABS, kita tidak membutuhkan lebih banyak jawaban. Kita membutuhkan lebih banyak penantang, baik dari guru, dari sistem pembelajaran, maupun dari teknologi itu sendiri. 

Kerangka pembelajaran seperti 21CLD memberi kita arah yang jelas, yaitu menggeser pembelajaran dari sekadar reproduksi menuju konstruksi, dari kepatuhan menuju agensi, dari kenyamanan menuju kedalaman. Pertanyaan akhirnya sederhana, tetapi menentukan masa depan pendidikan kita, “Apakah kita ingin generasi yang selalu merasa benar karena selalu diiyakan?

Atau generasi yang berani berpikir, bahkan ketika itu berarti harus berbeda?” Karena di tengah mesin yang semakin pandai menyenangkan, kemampuan untuk berpikir mendalam dan jujur bisa jadi menjadi bentuk kemerdekaan belajar yang paling hakiki.

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti Undiksha

 

Editor : I Putu Mardika
#Algorithmic Sycophancy #ai #hari pendidikan nasional #Made Hery Santosa #pendidikan