Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Papua Jadi Prioritas Pembangunan Nasional untuk Perkuat Ketahanan Pangan Indonesia

I Putu Suyatra • Senin, 29 Juni 2026 | 16:38 WIB
Papua (ist)
Papua (ist)

Papua Jadi Pilar Ketahanan Pangan Nasional

Papua kini menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional dalam upaya memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Pemerintah terus mendorong berbagai program strategis di Papua, mulai dari pembangunan infrastruktur, pengembangan pertanian, hingga pemberdayaan pangan lokal sebagai bagian dari visi mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, Papua memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi lumbung pangan baru Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Komitmen pemerintah untuk mempercepat pembangunan Papua mendapat penegasan langsung dari Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, paradigma pembangunan nasional kini tidak lagi berpusat di Pulau Jawa, melainkan diarahkan secara merata ke seluruh wilayah Indonesia. Dalam kerangka tersebut, Papua menjadi salah satu daerah prioritas melalui pembangunan infrastruktur, rumah sakit, Sekolah Rakyat, pasar, Program Makan Bergizi Gratis, kawasan ekonomi, hingga penguatan konektivitas melalui Trans Papua. Langkah ini diharapkan mampu memperluas akses pelayanan dasar, mengurangi kesenjangan pembangunan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua.

Program Cetak Sawah Perkuat Ketahanan Pangan Papua

Komitmen tersebut diwujudkan melalui program percepatan cetak sawah di Papua Pegunungan. Kementerian Pertanian menargetkan pembangunan lahan sawah seluas 2.000 hektare pada 2026 sebagai bagian dari strategi mencapai swasembada pangan nasional.

Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi beras, tetapi juga mengurangi ketergantungan pasokan pangan dari luar Papua yang selama ini menjadi salah satu penyebab tingginya biaya distribusi dan inflasi pangan di kawasan timur Indonesia. Dengan meningkatnya produksi pangan lokal, masyarakat Papua diharapkan memperoleh akses pangan yang lebih mudah, murah, dan berkelanjutan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengembangan sawah di Papua merupakan strategi jangka panjang untuk membangun kemandirian pangan di setiap pulau di Indonesia. Papua dinilai memiliki potensi besar menjadi sentra produksi pangan baru yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setempat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Pengembangan Pertanian Menghormati Hak Masyarakat Adat

Keberhasilan pembangunan ketahanan pangan Papua tidak hanya bergantung pada perluasan lahan pertanian, tetapi juga pada pendekatan yang menghormati masyarakat adat. Pemerintah memastikan seluruh proses pengembangan pertanian dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan tokoh adat, kelompok tani, dan pemilik hak ulayat.

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, menegaskan tidak ada pengambilalihan hak masyarakat adat dalam pelaksanaan program cetak sawah. Seluruh tahapan dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama sehingga masyarakat menjadi subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.

Pendekatan ini penting karena pembangunan di Papua harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai budaya, hak ulayat, dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Pangan Lokal Papua Jadi Kekuatan Pembangunan Berkelanjutan

Selain mengembangkan pertanian modern, penguatan ketahanan pangan Papua juga perlu bertumpu pada kekayaan pangan lokal. Selama ratusan tahun masyarakat Papua telah mengandalkan sagu, ubi, ubi jalar, pisang, sukun, ikan, serta hasil hutan sebagai sumber pangan utama.

Pangan lokal Papua bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya, ketahanan ekonomi keluarga, sekaligus bentuk adaptasi terhadap kondisi alam Papua. Oleh karena itu, pengembangan pangan lokal menjadi strategi penting untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut tercermin melalui langkah Pemerintah Provinsi Papua Selatan yang terus memperkuat sistem pangan lokal bersama organisasi masyarakat sipil, akademisi, lembaga adat, dan berbagai pemangku kepentingan.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Papua Selatan, Agustinus Joko Guritno, menyatakan bahwa penguatan pangan lokal merupakan momentum membangun sistem pangan daerah yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berakar pada sumber daya alam serta kearifan lokal masyarakat Papua.

Kolaborasi Jadi Kunci Keberhasilan Pembangunan Papua

Pembangunan ketahanan pangan Papua tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. Kawasan rawa, gambut, hutan sagu, dan ekosistem alami Papua memiliki fungsi penting sebagai penyangga lingkungan nasional. Oleh karena itu, pengembangan sistem pangan berbasis masyarakat adat diyakini mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, konservasi alam, dan mitigasi perubahan iklim.

Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan lembaga adat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan Papua yang inklusif. Melalui pendekatan partisipatif, setiap kebijakan dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap program pembangunan.

Papua Berpeluang Menjadi Lumbung Pangan Indonesia

Keberhasilan pembangunan ketahanan pangan Papua membutuhkan situasi yang aman, damai, dan kondusif. Stabilitas keamanan menjadi syarat utama agar seluruh program pembangunan dapat berjalan optimal serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan dukungan pemerintah, partisipasi aktif masyarakat adat, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Papua memiliki peluang besar menjadi lumbung pangan baru Indonesia. Penguatan ketahanan pangan Papua tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Tanah Papua, tetapi juga memperkuat kedaulatan pangan Indonesia secara berkelanjutan. Keberhasilan ini akan menjadi bukti bahwa pembangunan yang merata, inklusif, dan berbasis kearifan lokal mampu menghadirkan kemajuan sekaligus memperkokoh persatuan bangsa.

Oleh: Yohanes Kogoya (Penulis merupakan Pemerhati Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Papua). 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#papua