Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jika AI Bisa Menjawab Semua, Apa yang Harus Diajarkan Sekolah?

I Putu Mardika • Selasa, 7 Juli 2026 | 13:32 WIB
Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha
Made Hery Santosa, Ph.D. Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Konsekuensi dari perubahan terkait kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) paling terasa pada profesi guru. Selama bertahun-tahun, guru sering dipersepsikan sebagai sumber utama pengetahuan. Kini informasi tersedia di mana-mana. Bahkan seorang siswa dapat memperoleh penjelasan tentang teori relativitas atau tata bahasa Inggris hanya dengan mengetik satu kalimat di layar ponselnya.

Apakah itu berarti guru tidak lagi dibutuhkan? Justru sebaliknya. Peran guru mengalami transformasi yang sangat mendasar. Guru tidak lagi terutama berperan sebagai penyampai informasi. Guru menjadi perancang pengalaman belajar. Ia menjadi kurator pengetahuan, fasilitator dialog, pelatih berpikir kritis, sekaligus penjaga nilai-nilai yang tidak dapat diajarkan oleh algoritma. Guru masa depan bukanlah mereka yang paling banyak mengetahui jawaban. Guru masa depan adalah mereka yang paling mampu mengajarkan cara menemukan pertanyaan yang baik.

Perubahan ini menuntut cara mengajar yang berbeda. Bayangkan seorang guru Bahasa Indonesia yang meminta siswanya menulis esai tentang pelestarian lingkungan. Pada masa lalu, tugas selesai ketika siswa menyerahkan tulisan. Hari ini, pendekatannya dapat diubah.

Guru justru meminta siswa menggunakan AI untuk menghasilkan satu esai, kemudian mereka diminta mengidentifikasi kelemahannya, misalnya fakta mana yang tidak akurat, argumen mana yang terlalu umum, sudut pandang apa yang hilang, dan bagaimana memperbaikinya dengan pengalaman nyata dari lingkungan sekitar mereka. 

Dalam skenario seperti itu, AI bukan lagi jawaban. AI menjadi objek yang dikritisi. Proses berpikir tetap berada di tangan siswa. 

Contoh lain dapat kita temukan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Guru dapat meminta AI membuat lima contoh paragraf argumentatif tentang penggunaan media sosial. Tugas siswa bukan menyalinnya, melainkan membandingkan kualitas setiap paragraf, mencari bias, memperbaiki pilihan katanya, lalu menyusun versi mereka sendiri yang lebih baik. Dengan cara seperti ini, AI justru menjadi alat untuk melatih kemampuan analisis, bukan mematikan kreativitas. 

Model pembelajaran seperti itulah yang menurut saya perlu diperbanyak di sekolah-sekolah Indonesia. 

Kita tidak perlu takut terhadap AI. Yang perlu kita hindari adalah pembelajaran yang membuat siswa berhenti berpikir karena semua jawaban sudah disediakan mesin.

Perubahan serupa juga perlu terjadi dalam cara kita menilai hasil belajar. Selama ini, banyak tugas sekolah berorientasi pada produk akhir. Esai dikumpulkan, laporan diserahkan, presentasi diunggah. Di era AI, pendekatan seperti itu menjadi semakin rapuh karena produk akhir dapat dihasilkan dalam hitungan detik. 

Sudah saatnya asesmen lebih menghargai proses. Guru dapat meminta siswa menjelaskan bagaimana mereka menggunakan AI, sumber apa saja yang mereka periksa, bagian mana yang mereka revisi, keputusan apa yang mereka ambil, serta apa yang mereka pelajari selama proses tersebut. Dengan demikian, yang dinilai bukan hanya hasil akhirnya, melainkan kualitas berpikir yang terjadi di baliknya.

Barangkali di sinilah pendidikan perlu kembali pada hakikatnya. Sekolah bukan tempat mengumpulkan jawaban. Sekolah adalah tempat melatih cara berpikir.

Kita sering mengatakan bahwa pendidikan harus mempersiapkan generasi masa depan. Persoalannya, masa depan seperti apa yang sedang kita bayangkan? 

Beberapa tahun lalu, kita mungkin mengira tantangan pendidikan adalah bagaimana menyediakan akses internet yang lebih merata, memperbanyak komputer di sekolah, atau mempercepat digitalisasi pembelajaran. Hari ini, tantangannya bergeser. Internet sudah menjadi bagian dari keseharian. AI pun perlahan mengikuti jejak yang sama. Yang kini dipertanyakan bukan lagi apakah sekolah akan menggunakan AI, melainkan bagaimana memastikan AI digunakan untuk memperkuat pembelajaran, bukan justru mengikisnya.

Baca Juga: Positif Narkoba saat Sidak Tes Urine, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali

Di berbagai belahan dunia, pertanyaan yang sama sedang dijawab dengan pendekatan yang berbeda. UNESCO, misalnya, tidak memulai pembicaraan tentang AI dari teknologi. Organisasi ini justru memulainya dari manusia. Melalui Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence dan Guidance for Generative AI in Education and Research, UNESCO mengingatkan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah proses membangun manusia yang utuh.

AI boleh mempercepat pekerjaan administratif, membantu personalisasi pembelajaran, atau memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi ia tidak boleh mengurangi ruang bagi dialog, refleksi, empati, dan pembentukan karakter. Guru tetap dipandang sebagai aktor utama yang menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman hidup peserta didik.

OECD menyampaikan pesan yang senada. Di tengah perkembangan AI, organisasi ini justru menekankan pentingnya keterampilan yang selama ini sering dianggap sebagai soft skills, yaitu berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, kemampuan berkomunikasi, pembelajaran sepanjang hayat, serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 

Dunia kerja masa depan, menurut berbagai laporan OECD maupun World Economic Forum, tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menggunakan teknologi, tetapi orang yang mampu bekerja bersama teknologi tanpa kehilangan kemampuan menilai, memilih, dan bertanggung jawab.

Sementara itu, Uni Eropa mengambil langkah yang lebih tegas melalui AI Act, regulasi komprehensif pertama di dunia yang mengelompokkan sistem AI berdasarkan tingkat risikonya. Menariknya, AI yang digunakan dalam pendidikan dikategorikan sebagai sistem berisiko tinggi karena dapat memengaruhi kesempatan belajar, penilaian, dan masa depan peserta didik. Artinya, penggunaan AI di sekolah tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan. Transparansi, akuntabilitas, perlindungan data, dan pengawasan manusia menjadi syarat utama.

Ada benang merah yang menghubungkan ketiga pendekatan tersebut. Semakin canggih AI, semakin penting peran manusia.

Indonesia sebenarnya tidak memulai dari titik nol. Pemerintah telah menerbitkan panduan pemanfaatan AI generatif di lingkungan pendidikan. Sejumlah perguruan tinggi mulai menyusun pedoman etika penggunaan AI dalam penulisan karya ilmiah.

Komunitas guru di berbagai daerah juga mulai berbagi praktik baik mengenai bagaimana AI dimanfaatkan untuk membuat pembelajaran lebih menarik, lebih personal, dan lebih inklusif. Langkah-langkah tersebut patut diapresiasi.

Namun, jika kita ingin menjadikan AI sebagai kekuatan yang benar-benar memperbaiki kualitas pendidikan, saya kira kita perlu melangkah lebih jauh daripada sekadar membuat panduan penggunaan aplikasi. Yang dibutuhkan Indonesia adalah budaya literasi AI. Budaya yang membuat setiap guru terbiasa bertanya sebelum menggunakan AI. Budaya yang membuat setiap siswa merasa wajar memverifikasi jawaban AI. Budaya yang menghargai proses berpikir lebih tinggi daripada sekadar hasil akhir. Budaya yang memandang teknologi sebagai mitra belajar, bukan jalan pintas. 

Budaya seperti itu tidak lahir melalui surat edaran. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari di ruang kelas. Beberapa contoh situasinya adalah sebagai berikut.

1.     Guru yang bertanya kepada siswanya, “Mengapa kamu setuju dengan jawaban AI itu?”

2.     Siswa yang berani mengatakan, “Saya tidak sepakat dengan jawaban AI karena hasil observasi saya menunjukkan hal yang berbeda.”

3.     Dosen yang meminta mahasiswa menjelaskan proses berpikirnya, bukan sekadar menyerahkan laporan yang rapi.

4.     Kepala sekolah yang memberi ruang bagi guru untuk bereksperimen dengan pendekatan-pendekatan baru tanpa takut melakukan kesalahan.

Baca Juga: Ranperda Pertanggungjawaban APBD Karangasem 2025 Mulai Dibahas, DPRD Ingatkan soal SILPA dan PAD

Budaya inilah yang sesungguhnya akan menentukan apakah AI menjadi berkah atau justru beban bagi pendidikan Indonesia.

Menurut hemat saya, ada satu prinsip sederhana yang layak menjadi pegangan bersama.

1.     Gunakan AI untuk memperluas kemampuan manusia, bukan untuk memperkecilnya.

2.     Gunakan AI untuk memperkaya rasa ingin tahu, bukan untuk mematikannya.

3.     Gunakan AI untuk memperdalam pemahaman, bukan sekadar mempercepat penyelesaian tugas.

4.     Gunakan AI agar guru memiliki lebih banyak waktu mendampingi murid, bukan agar interaksi antara keduanya semakin berkurang.

5.     Gunakan AI untuk membuka lebih banyak pintu pembelajaran, bukan untuk menutup ruang bagi kreativitas.

Prinsip-prinsip tersebut tampak sederhana, tetapi di situlah sesungguhnya letak etika AI. Etika bukanlah kumpulan larangan. Etika adalah kemampuan memilih ketika teknologi menawarkan begitu banyak kemungkinan.

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang AI. Teknologi ini belajar dari data masa lalu. Sebaliknya, pendidikan bertugas menyiapkan masa depan. Keduanya tidak selalu berjalan searah. AI dapat menceritakan apa yang pernah terjadi. Namun hanya manusia yang mampu membayangkan apa yang seharusnya terjadi. AI dapat mengenali pola.

Namun hanya manusia yang mampu mengubah pola itu ketika dirasakan tidak lagi adil. AI dapat membantu mengambil keputusan. Namun hanya manusia yang memikul tanggung jawab moral atas keputusan tersebut. Di situlah letak perbedaan mendasar antara kecerdasan buatan dan kebijaksanaan manusia.

Baca Juga: Mayat Misterius di Hutan Sanghyang Jatiluwih Teridentifikasi, Ini Fakta Terbarunya!

Mungkin beberapa tahun lagi AI mampu menulis artikel yang lebih runtut daripada tulisan ini. Ia mungkin dapat menyusun kurikulum, membuat soal ujian, merancang presentasi, bahkan memberikan umpan balik kepada jutaan peserta didik dalam waktu yang bersamaan. Kemampuannya hampir pasti akan terus berkembang. Namun ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan kepada mesin. Hak untuk menentukan nilai-nilai apa yang ingin kita wariskan kepada anak-anak kita. 

Pendidikan, pada akhirnya, tidak pernah sekadar mengajarkan cara menjawab soal. Pendidikan adalah ikhtiar panjang untuk membentuk manusia yang mampu membedakan benar dan salah, adil dan tidak adil, jujur dan curang, berguna dan merusak. Semua itu lahir bukan dari algoritma, melainkan dari perjumpaan antar manusia, dari keteladanan, dari dialog, dan dari pengalaman hidup yang tidak pernah dapat direduksi menjadi deretan data.

Karena itu, ukuran keberhasilan Indonesia di era AI kelak bukanlah berapa banyak sekolah yang menggunakan AI, bukan pula berapa banyak guru yang mahir membuat prompt, atau berapa banyak siswa yang mampu menghasilkan tugas dengan bantuan teknologi. 

Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah apakah AI membuat peserta didik kita semakin ingin tahu, semakin kritis, semakin kreatif, semakin berintegritas, dan semakin peduli terhadap sesama. Jika jawabannya ya, berarti teknologi telah bekerja untuk manusia. Namun jika AI justru membuat kita malas berpikir, mudah percaya, kehilangan kejujuran, dan perlahan menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan, maka sesungguhnya kita sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar keterampilan menggunakan teknologi.

Dan ketika sebuah bangsa kehilangan nalarnya, secanggih apa pun teknologi yang dimilikinya tidak akan pernah cukup untuk membawanya menuju masa depan. Di tengah dunia yang semakin cerdas oleh algoritma, Indonesia memerlukan satu keberanian yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar, yaitu keberanian untuk tetap berpikir, tetap mempertanyakan, tetap belajar, dan tetap menjadi manusia.

Sebab masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat menggunakan kecerdasan buatan. Masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang mampu memastikan bahwa di balik setiap teknologi yang semakin cerdas, selalu ada manusia yang lebih arif menggunakannya.

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti

Universitas Pendidikan Ganesha

 

 

Editor : I Putu Mardika
#Artificial Intelligence (AI) #guru #bahasa inggris