BALIEXPRESS.ID-Dari beberapa kegiatan akademik dan bacaan, baik yang sifatnya populer atau ilmiah yang saya ikuti dan baca terkait bidang Artificial Intelligence (AI) dalam konteks pendidikan, khususnya pendidikan Bahasa Inggris, secara umum, kesimpulannya masih tetap sama. Pakar-pakar menyatakan bahwa manusia harus bekerja sama dengan AI, dan dalam proses belajar, manusialah yang menjadi pilot dan AI menjadi co-pilotnya.
Dalam istilah ilmiahnya, learning (pedagogy) first, technology second. Pertanyaannya, apa ada hal baru? Secara umum, beberapa temuan baru dalam riset terkait topik ini, mulai dari munculnya beragam kerangka integrasi, prosedur implementasinya, kesiapan, dan agentic AI. Ya, AI memasuki tahap perkembangan yang semakin maju. Jika sebelumnya AI terutama digunakan untuk menjawab pertanyaan, menerjemahkan teks, atau memperbaiki tata bahasa, kini teknologi bergerak menuju apa yang disebut agentic AI.
Teknologi ini tidak hanya menunggu satu perintah, tetapi dapat merencanakan langkah, memilih strategi, menggunakan berbagai perangkat, mengevaluasi hasil, dan menyelesaikan serangkaian pekerjaan dengan tingkat kemandirian tertentu. Misalnya, Gemini Notebook (sebelumnya dikenal sebagai NotebookLM) sekarang dikategorikan sebagai agentic AI setelah menggunakan Gemini 3.5 dan Antigravity – sebuah ekosistem dan kerangka kerja buatan Google – yang mengubah peran dari awalnya sekedar alat pembaca dokumen pasif menjadi agen riset otonom yang interaktif.
Dalam pembelajaran bahasa Inggris, agentic AI dapat membantu peserta didik menyusun rencana belajar, memilih bahan bacaan sesuai kemampuan, membuat latihan kosakata, memberikan umpan balik terhadap tulisan, menyimulasikan percakapan, hingga merekomendasikan kegiatan lanjutan berdasarkan kelemahan pembelajar. Teknologi tersebut seolah-olah hadir sebagai tutor pribadi yang selalu tersedia.
Kemampuan itu tentu menawarkan peluang besar. Namun, semakin mandiri sebuah teknologi, semakin besar pula kebutuhan manusia untuk menentukan arah, tujuan, dan batas penggunaannya. Persoalan utama bukan lagi sekadar apakah siswa dan guru mampu menggunakan AI, tetapi apakah mereka mampu menggunakannya dengan pikiran yang jernih, bahasa yang baik, tindakan yang bertanggung jawab, dan tujuan pembelajaran yang bermakna.
Dalam konteks tersebut, filosofi Tri Kaya Parisudha menjadi sangat relevan. Tri Kaya Parisudha mengajarkan tiga dasar perilaku manusia, yaitu manacika, berpikir yang baik dan benar, wacika, berkata atau berkomunikasi dengan baik, dan kayika, bertindak dan berperilaku dengan baik. Ketiganya dapat menjadi kompas moral sekaligus kerangka pedagogis dalam penggunaan AI.
Filosofi ini juga sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam (deep approach to learning). Pembelajaran mendalam tidak cukup dipahami sebagai penggunaan teknologi canggih atau penyelesaian materi dalam jumlah besar. Pembelajaran mendalam terjadi ketika peserta didik memahami makna, menghubungkan gagasan, mempertanyakan informasi, merefleksikan proses, memecahkan persoalan, dan mampu menerapkan pengetahuan dalam situasi baru. Pembelajaran seperti ini menuntut kesadaran, keterlibatan, dan tanggung jawab, bukan sekadar kecepatan memperoleh jawaban.
AI dapat membantu pembelajaran menjadi lebih personal, interaktif, dan kaya akan sumber. Namun, AI juga dapat mendorong pembelajaran permukaan (surface approach to learning) apabila siswa hanya meminta jawaban, menyalin hasil, dan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin. Karena itu, Tri Kaya Parisudha penting untuk memastikan bahwa kecanggihan teknologi tidak menghilangkan kedalaman belajar.
Manacika: Berpikir Baik di Tengah Kemudahan Jawaban
Manacika merupakan dasar pertama dalam Tri Kaya Parisudha. Dalam pemanfaatan AI, manacika berarti menggunakan teknologi dengan niat yang baik, tujuan yang jelas, pertimbangan yang matang, dan kemampuan berpikir kritis. AI dapat menghasilkan jawaban yang tersusun rapi, logis, dan meyakinkan. Namun, jawaban yang terlihat cerdas belum tentu benar. AI dapat memberikan informasi yang tidak akurat, membuat sumber yang tidak pernah ada, menyederhanakan persoalan kompleks, atau mengulang bias yang terdapat dalam data pelatihannya. Oleh karena itu, peserta didik tidak boleh memosisikan AI sebagai sumber kebenaran terakhir.
Di sinilah critical thinking menjadi bagian utama dari manacika. Berpikir kritis tidak berarti selalu mencurigai atau menolak AI, tetapi mampu mengajukan pertanyaan yang tepat: Apakah informasi ini benar? Apa bukti yang mendukungnya? Apakah ada sudut pandang lain? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Bagian mana yang merupakan fakta dan bagian mana yang berupa interpretasi? Siapa yang mungkin dirugikan oleh jawaban ini?
Misalnya, dalam kelas menulis bahasa Inggris, guru meminta siswa membuat esai argumentatif mengenai penggunaan telepon pintar di sekolah. Seorang siswa dapat meminta AI menulis seluruh esai. Dalam beberapa detik, AI akan menghasilkan pendahuluan, argumen, contoh, dan kesimpulan. Secara tata bahasa, hasilnya mungkin cukup baik. Namun, apabila siswa langsung menyerahkannya, kegiatan tersebut tidak menghasilkan pembelajaran mendalam. Siswa memperoleh produk, tetapi kehilangan proses berpikir.
Penerapan manacika dapat dilakukan dengan meminta siswa menggunakan AI secara bertahap. Pertama, siswa merumuskan posisi mereka sendiri. Kedua, AI diminta memberikan argumen yang mendukung dan menentang posisi tersebut. Ketiga, siswa memeriksa kekuatan setiap argumen, mencari bukti tambahan, dan menentukan pandangan akhirnya. Dengan cara ini, AI berperan sebagai pemantik pemikiran, bukan pengganti pikiran.
Contoh lainnya dapat diterapkan dalam kegiatan membaca. Siswa membaca sebuah artikel berbahasa Inggris mengenai perubahan iklim. Mereka kemudian meminta AI merangkum teks tersebut. Setelah itu, siswa membandingkan ringkasan AI dengan teks asli. Mereka menandai informasi penting yang hilang, bagian yang terlalu disederhanakan, dan kemungkinan interpretasi yang keliru. Kegiatan ini mengembangkan kemampuan membaca kritis, mengevaluasi informasi, dan menyadari keterbatasan AI.
Manacika juga berkaitan dengan niat penggunaan. Siswa perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya menggunakan AI untuk belajar atau hanya untuk menghindari belajar? Apakah AI membantu saya memahami materi atau sekadar menyelesaikan tugas? Apakah saya masih mampu menjelaskan gagasan ini tanpa bantuan AI?
Pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut sangat penting dalam pembelajaran mendalam. Teknologi seharusnya memperkuat kesadaran belajar, bukan menciptakan ketergantungan. Siswa yang memiliki manacika tidak hanya pandai membuat prompt, tetapi juga memahami kapan perlu menggunakan AI, kapan harus berhenti menggunakannya, dan kapan harus berpikir secara mandiri.
Dalam pembelajaran berbicara, misalnya, AI dapat digunakan untuk menyimulasikan wawancara kerja dalam bahasa Inggris. Namun, sebelum berlatih dengan AI, siswa sebaiknya merancang jawaban berdasarkan pengalaman dan kepribadiannya sendiri. Sesudah latihan, siswa mengevaluasi saran AI, apakah terdengar alami, terlalu umum, tidak sesuai budaya, atau tidak mencerminkan dirinya? Proses ini melatih kemampuan mengambil keputusan, bukan sekadar mengikuti rekomendasi mesin. Dengan demikian, manacika dalam era AI mencakup pikiran yang baik, kritis, reflektif, mandiri, dan berorientasi pada kebenaran. Berpikir baik bukan berarti menerima segala sesuatu secara positif, tetapi menimbang secara jernih sebelum percaya dan bertindak
Wacika: Berkomunikasi Baik dengan dan melalui AI
Wacika berarti berkata, menulis, dan berkomunikasi dengan baik. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, dimensi ini sangat penting karena bahasa bukan hanya persoalan tata bahasa dan kosakata. Bahasa juga berkaitan dengan kesantunan, empati, konteks, budaya, dan tanggung jawab. AI dapat membantu siswa memperbaiki kalimat, memilih kosakata, menyesuaikan tingkat formalitas, atau membuat pesan lebih jelas. Namun, kemampuan menghasilkan bahasa yang benar secara gramatikal tidak otomatis membuat suatu komunikasi menjadi baik secara moral dan sosial.
Sebuah surel dapat saja bebas kesalahan tata bahasa, tetapi terdengar kurang tepat atau kontekstual. Sebuah komentar dapat tersusun fasih, tetapi kurang elok atau bermakna. Sebuah argumen dapat meyakinkan, tetapi mengandung manipulasi. Karena itu, wacika mengingatkan bahwa keberhasilan berbahasa tidak hanya diukur dari akurasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap orang lain.
Dalam kelas menulis, guru dapat meminta siswa menyusun surel berbahasa Inggris kepada dosen untuk meminta perpanjangan waktu pengumpulan tugas. Siswa dapat menggunakan AI untuk memperbaiki struktur dan kesantunan. Setelah itu, kelas mendiskusikan beberapa pertanyaan, Apakah email tersebut jujur? Apakah alasannya dibuat-buat? Apakah bahasanya menghormati penerima? Apakah permintaannya disampaikan secara bertanggung jawab? Kegiatan tersebut menghubungkan kemampuan menulis dengan integritas dan kesadaran sosial. AI membantu bentuk bahasa, tetapi siswa tetap bertanggung jawab atas isi, niat, dan akibat pesan tersebut.
Contoh wacika lainnya dapat diterapkan dalam latihan debat. Siswa menggunakan AI untuk menghasilkan argumen tandingan terhadap topik seperti penggunaan AI dalam pendidikan. Namun, mereka tidak hanya dinilai berdasarkan kekuatan argumen, melainkan juga berdasarkan cara menyampaikan ketidaksetujuan. Mereka belajar menggunakan ungkapan seperti “I understand your point, however…”, “Another perspective worth considering is…”, atau “The evidence may also be interpreted differently.”
Baca Juga: Dua Kejahatan Terungkap di Ubud, Pasutri Pencuri Emas hingga Jambret Kambuhan Dibekuk
Pembelajaran ini penting karena ruang digital sering mendorong komunikasi yang cepat, reaktif, dan agresif. AI bahkan dapat diminta membuat serangan verbal, komentar sinis, atau pesan manipulatif. Dalam kondisi demikian, wacika berfungsi sebagai penyaring moral. Pertanyaannya bukan hanya “Bisakah AI menulisnya?”, tetapi “Apakah kata-kata ini pantas disampaikan?”
Wacika juga berkaitan dengan cara siswa memberikan perintah kepada AI. Prompt bukan sekadar instruksi teknis. Prompt dapat mencerminkan pola pikir dan etika penggunanya. Siswa dapat belajar menyusun prompt yang jelas, tidak diskriminatif, tidak meminta AI memfitnah, menipu, meniru identitas seseorang, atau menghasilkan materi yang merendahkan kelompok tertentu.
Misalnya, dalam pembelajaran deskriptif, siswa diminta menggunakan AI untuk membuat profil tokoh dari latar budaya yang berbeda. Guru dapat mengajak siswa memeriksa apakah hasil AI mengandung stereotip. Apakah tokoh dari daerah tertentu selalu digambarkan dengan ciri yang sama? Apakah perempuan dan laki-laki ditempatkan dalam peran yang tidak seimbang? Apakah budaya tertentu digambarkan secara eksotis atau merendahkan? Siswa kemudian merevisi teks agar lebih adil, manusiawi, dan sensitif terhadap keberagaman. Kegiatan ini mengembangkan literasi bahasa, literasi AI, dan kesadaran budaya secara bersamaan.
Dalam pembelajaran mendalam, bahasa digunakan untuk membangun pemahaman, bukan hanya menyampaikan jawaban. Karena itu, siswa perlu belajar berdialog dengan AI, berdialog dengan teman, dan berdialog dengan dirinya sendiri. Mereka dapat bertanya, mengklarifikasi, menyanggah, merevisi, dan menjelaskan alasan. Proses dialogis inilah yang membuat pembelajaran lebih bermakna. Wacika di era AI berarti memastikan bahwa teknologi membantu manusia berkomunikasi secara lebih jelas tanpa kehilangan kejujuran, empati, dan kesantunan
Kayika: Bertindak Baik dan Bertanggung Jawab
Kayika berkaitan dengan tindakan nyata. Dalam penggunaan AI, kayika berarti menerjemahkan pikiran dan kata-kata yang baik menjadi perilaku yang etis dan bermanfaat. Banyak persoalan AI dalam pendidikan sebenarnya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada tindakan penggunanya. AI dapat digunakan untuk mencari ide, tetapi juga untuk menyalin karya. AI dapat digunakan untuk memperbaiki tulisan, tetapi juga untuk menyembunyikan plagiarisme. AI dapat membantu belajar, tetapi juga dapat digunakan untuk melakukan kecurangan.
Karena itu, kayika menuntut integritas akademik. Dalam kelas bahasa Inggris, siswa yang menggunakan AI perlu menjelaskan bagian mana yang dibantu oleh teknologi. Mereka tidak boleh mengklaim teks yang sepenuhnya dihasilkan AI sebagai karya pribadi. Pengakuan penggunaan AI bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kejujuran akademik.
Guru dapat menerapkan jurnal proses penulisan. Siswa mengumpulkan gagasan awal, draf pertama, prompt yang digunakan, hasil umpan balik AI, perubahan yang dilakukan, dan refleksi akhir. Dengan cara ini, yang dinilai bukan hanya produk akhir, tetapi juga perjalanan belajar. Praktik tersebut sangat mendukung pembelajaran mendalam. Siswa tidak hanya mengejar nilai, tetapi memahami bagaimana tulisannya berkembang. Mereka belajar menjelaskan alasan menerima atau menolak saran AI. Mereka juga menyadari bahwa revisi adalah proses berpikir, bukan sekadar memperbaiki kesalahan tata bahasa.
Contoh kayika lainnya adalah penggunaan AI untuk pembelajaran yang berdampak sosial. Siswa dapat membuat kampanye berbahasa Inggris mengenai pengurangan sampah plastik, pelestarian lingkungan, perlindungan budaya lokal, atau pendidikan inklusif. AI digunakan untuk membantu menyusun slogan, memeriksa bahasa, membuat variasi teks, atau menyesuaikan pesan bagi khalayak internasional.
Namun, siswa tetap harus memverifikasi informasi, meminta izin sebelum menggunakan gambar orang lain, memastikan representasi budaya tidak keliru, dan mempertimbangkan dampak sosial dari kampanye tersebut. Dengan demikian, penggunaan AI diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat nyata.
Baca Juga: Denpasar Belajar ke Jakarta Susun Rencana Aksi Kawasan Rendah Emisi Sanur
Dalam kegiatan berbicara, siswa dapat menggunakan agentic AI sebagai pelatih percakapan yang menyusun program latihan mingguan. AI mungkin menyarankan topik, memberikan koreksi, dan merekomendasikan latihan. Akan tetapi, siswa tetap perlu melakukan tindakan nyata, yakni berlatih secara konsisten, mencatat kesalahan, berbicara dengan teman, dan menggunakan bahasa dalam konteks autentik. AI tidak dapat menggantikan keberanian untuk berbicara, kesediaan mendengarkan orang lain, atau kedisiplinan dalam belajar. Teknologi hanya menawarkan jalan dan manusia tetap harus melangkah.
Kayika juga berlaku bagi guru. Guru tidak seharusnya menggunakan AI untuk menghasilkan seluruh materi tanpa pemeriksaan. Materi AI perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa, konteks budaya, tujuan pembelajaran, kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus, serta prinsip keadilan. Misalnya, AI membuat teks bacaan tentang kehidupan di kota besar dengan kosakata yang terlalu sulit bagi siswa sekolah dasar di daerah. Guru yang bertanggung jawab tidak langsung menggunakannya.
Ia menyederhanakan bahasa, memasukkan konteks lokal, menambahkan ilustrasi, dan memastikan seluruh siswa dapat mengakses kegiatan tersebut. Tindakan seperti ini merupakan bentuk kayika dimana teknologi digunakan secara nyata, tetapi tetap berada di bawah pertimbangan pedagogis dan moral guru.
Tri Kaya Parisudha dan Pembelajaran Mendalam
Manacika, wacika, dan kayika tidak dapat dipisahkan. Pikiran yang baik perlu diwujudkan dalam komunikasi yang baik, lalu diteruskan menjadi tindakan yang baik. Dalam pembelajaran bahasa Inggris berbantuan AI, ketiganya membentuk suatu siklus. Siswa memulai dengan manacika, yaitu menentukan tujuan, mempertanyakan informasi, dan mengevaluasi keluaran AI. Mereka melanjutkan dengan wacika, yakni menyampaikan gagasan secara jujur, santun, jelas, dan menghargai orang lain. Kemudian, mereka mewujudkan kayika, dengan menggunakan AI secara bertanggung jawab, mencantumkan informasi pada aspek mana berbantuan teknologi, menghasilkan karya autentik, dan memberikan manfaat melalui bahasa yang dipelajari.
Siklus tersebut sejalan dengan pembelajaran mendalam. Siswa tidak berhenti pada mengetahui atau mengingat. Mereka memahami, menganalisis, mengevaluasi, mencipta, dan merefleksikan. AI menjadi bagian dari lingkungan belajar, tetapi bukan pusatnya. Pusat pembelajaran tetaplah manusia dengan kesadaran, nilai, dan tanggung jawabnya.
Sebagai contoh, guru dapat memberikan proyek berjudul “Promoting Bali Responsibly to the World.” Siswa diminta membuat konten berbahasa Inggris mengenai budaya atau lingkungan Bali dengan bantuan AI. Pada tahap manacika, siswa memilih topik, meneliti sumber, memeriksa fakta, dan mengevaluasi kemungkinan bias AI. Pada tahap wacika, mereka menyusun pesan yang informatif, santun, tidak eksploitatif, dan menghormati masyarakat lokal.
Pada tahap kayika, mereka menghasilkan video, poster, artikel, atau podcast, mencantumkan penggunaan AI, meminta persetujuan pihak yang ditampilkan, dan membagikan karya untuk tujuan edukatif. Proyek semacam ini tidak hanya melatih keterampilan bahasa. Ia mengembangkan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, literasi digital, kesadaran budaya, dan tanggung jawab sosial. Inilah pembelajaran mendalam yang sesungguhnya.
Contoh lain adalah proyek pemeriksaan berita. Siswa memperoleh beberapa teks berbahasa Inggris yang sebagian dibuat oleh AI. Mereka bertugas mengidentifikasi klaim, memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan menjelaskan apakah teks tersebut dapat dipercaya. Manacika muncul dalam proses verifikasi.
Wacika diwujudkan saat siswa menyampaikan koreksi dengan etis dan baik. Kayika terlihat ketika siswa memperbaiki informasi dan menghasilkan panduan singkat untuk mencegah penyebaran hoaks. Bahasa Inggris dipelajari bukan sebagai kumpulan aturan, tetapi sebagai alat untuk memahami dan memperbaiki dunia.
Agentic AI Tetap Membutuhkan Agensi Manusia
Istilah agentic AI dapat menimbulkan kesan bahwa teknologi telah menjadi agen yang mampu bekerja sendiri. Namun, kemandirian teknologi tidak boleh mengurangi agensi manusia. Justru ketika AI semakin mampu mengambil tindakan, manusia harus semakin sadar dalam menetapkan tujuan dan batas. AI dapat menyusun rencana belajar, tetapi tidak mengetahui sepenuhnya cita-cita seorang siswa. AI dapat memberikan koreksi bahasa, tetapi tidak selalu memahami identitas dan pengalaman penulisnya. AI dapat merekomendasikan tindakan, tetapi tidak menanggung konsekuensi moralnya.
Karena itu, pendidikan harus memastikan bahwa peserta didik tidak berubah menjadi pelaksana pasif dari saran algoritma. Mereka harus tetap mampu berkata, “Saya menerima saran ini karena…”, “Saya menolak rekomendasi ini karena…”, atau “Saya mengubah hasil AI agar sesuai dengan tujuan dan nilai yang saya yakini.” Kemampuan tersebut merupakan inti berpikir kritis sekaligus agensi manusia. Siswa bukan hanya pengguna teknologi, tetapi pengambil keputusan yang sadar. Guru pun tidak boleh menyerahkan penilaian, perencanaan, atau relasi pedagogis sepenuhnya kepada AI.
Pembelajaran yang baik bukanlah pembelajaran yang paling banyak menggunakan AI. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang menggunakan AI secara tepat, terukur, transparan, dan tetap memperkuat kemampuan manusia.
Teknologi Cerdas Memerlukan Manusia yang Bijaksana
Kemajuan AI akan terus berlanjut. Teknologi akan semakin cepat, personal, dan mandiri. Namun, pendidikan tidak boleh terpesona hanya oleh kecanggihan. Pertanyaan terpenting bukanlah seberapa banyak pekerjaan yang dapat diserahkan kepada AI, melainkan nilai apa yang tidak boleh diserahkan kepadanya. Kita tidak boleh menyerahkan tanggung jawab moral, kejujuran, empati, kesadaran budaya, dan keputusan akhir kepada mesin. Semua itu harus tetap menjadi bagian dari kemanusiaan.
Tri Kaya Parisudha menawarkan dasar yang kuat. Manacika menjaga agar manusia tetap berpikir kritis, jernih, dan berorientasi pada kebenaran. Wacika membimbing manusia agar menggunakan bahasa dengan jujur, santun, dan penuh empati. Kayika memastikan bahwa pemanfaatan AI diwujudkan dalam tindakan yang etis, bertanggung jawab, dan bermanfaat.
Dalam pembelajaran bahasa Inggris, ketiganya dapat membantu membentuk peserta didik yang bukan hanya fasih berbahasa, tetapi juga mampu menilai informasi, menghargai perbedaan, menjaga integritas, dan menggunakan teknologi untuk kebaikan. Tantangan terbesar era AI bukanlah menjadikan mesin semakin menyerupai manusia. Tantangan terbesar justru memastikan manusia tidak kehilangan kedalaman berpikir, kebaikan berbahasa, dan tanggung jawab bertindak.
Agentic AI bisa saja mampu merencanakan dan menyelesaikan banyak pekerjaan. Namun, manusia tetap harus menentukan ke mana teknologi diarahkan. Di sinilah Tri Kaya Parisudha berperan sangat penting sebagai akar kebijaksanaan lokal untuk menghadapi kecerdasan global.
Kita bersama hendaknya memahami secara komprehensif bahwa pendidikan masa depan tidak cukup menghasilkan manusia yang cakap menggunakan AI. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu berpikir baik, berkata baik, dan bertindak baik bersama AI.
Made Hery Santosa, Ph.D.
Pendidik dan Peneliti
Universitas Pendidikan Ganesha
Editor : I Putu Mardika