Pergulatan Masyarakat Hindu Tengger Melawan Desakralisasi Ritual

I Putu Mardika • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:30 WIB
Buah pisang digunakan umat Hindu di Tengger saat Kasodo
Upacara jelang Yadnya Kasada umat Hindu Tengger, Jawa Timur

BALIEXPRESS.ID-Masyarakat adat (Indigenous Local) Tengger menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Upacara Yadnya Kasada, Yadnya Karo, dan Unan-unan kini tidak lagi hanya dipandang sebagai ritual keagamaan yang diwariskan leluhur, tetapi juga telah berkembang menjadi daya tarik wisata yang mendatangkan ribuan pengunjung setiap tahun.  Kondisi ini menjadi tantangannya tersendiri, karena berpotensi memicu desakralisasi ritual dan keterputusan proses transmisi pengetahuan lokal.

Di satu sisi, kondisi tersebut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: apakah ritual-ritual tersebut masih dipahami sebagai sistem pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, atau perlahan bergeser menjadi sekadar komoditas budaya?

Pertanyaan inilah yang dapat dijawab melalui Indigenous Knowledge Theory, terutama sebagaimana dikembangkan oleh Fikret Berkes dan Darrell A. Posey, yang memandang tradisi sebagai wadah penyimpanan pengetahuan ekologis, sosial, spiritual, dan budaya yang dibangun melalui pengalaman kolektif masyarakat adat selama berabad-abad.

Fikret Berkes menjelaskan bahwa Indigenous Knowledge bukan sekadar kumpulan informasi tradisional, melainkan sistem pengetahuan yang lahir dari interaksi panjang masyarakat dengan lingkungannya. Pengetahuan tersebut mencakup cara memahami alam, mengelola sumber daya, menjalankan kehidupan sosial, hingga membangun hubungan spiritual dengan leluhur.

Dalam konteks masyarakat Hindu Tengger, ritual Yadnya Kasada, Yadnya Karo, dan Unan-unan memperlihatkan bahwa pengetahuan lokal tidak disimpan dalam buku atau dokumen tertulis, melainkan diwariskan melalui praktik ritual yang terus dihidupkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Setiap tahapan ritual memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan pandangan hidup masyarakat Tengger mengenai hubungan manusia, alam, leluhur, dan Sang Hyang Widhi.

Baca Juga: BRI Peduli Tingkatkan Kapasitas Peternak Sapi Perah di Malang Lewat Program Klaster Unggulan

Melalui perspektif Indigenous Knowledge Theory, Yadnya Kasada tidak dapat dipahami hanya sebagai prosesi melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo. Ritual tersebut merupakan mekanisme transmisi pengetahuan ekologis yang mengajarkan masyarakat tentang rasa syukur atas hasil bumi, penghormatan terhadap alam, serta kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari tatanan kosmis yang lebih besar.

Sesaji hongkek yang terdiri atas hasil pertanian bukan sekadar persembahan simbolik, melainkan representasi hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat Tengger.

Begitu juga pada tarian Sodoran bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi mengandung pengetahuan mengenai sangkan paraning dumadi, yakni pemahaman tentang asal-usul dan tujuan akhir kehidupan manusia. Dalam perspektif Berkes, nilai seperti ini merupakan bagian dari worldview, yaitu lapisan terdalam dari Indigenous Knowledge yang membentuk cara suatu masyarakat memandang kehidupan.

Artinya, masyarakat Tengger tidak hanya mewariskan gerak tari kepada generasi muda, tetapi juga mewariskan filosofi hidup yang menyertainya. Ritual menjadi ruang pendidikan budaya yang berlangsung secara alami tanpa harus melalui lembaga pendidikan formal.

Sementara itu, upacara Unan-unan memperlihatkan kekayaan pengetahuan lokal yang jauh melampaui aspek spiritual. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ritual lima tahunan ini memuat pengetahuan tentang pitungan atau sistem perhitungan kalender tradisional, mbeduduk, tata letak sesaji, hingga pemahaman mengenai hubungan antara makrokosmos dan mikrokosmos.

Bahkan dapat dilihat bahwa pitungan merepresentasikan pengetahuan astronomi tradisional masyarakat Tengger yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam kerangka Indigenous Knowledge Theory, seluruh praktik tersebut menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki sistem ilmu pengetahuan yang berkembang berdasarkan pengalaman empiris, observasi terhadap alam, serta pembelajaran antargenerasi.

Baca Juga: Bali United Lepas Jordy Bruijn Jelang Bergulir Super League, Cetak 4 Gol Semusim

Pandangan Darrell Posey semakin memperkuat pemahaman tersebut. Posey menegaskan bahwa masyarakat adat bukan hanya pemilik budaya, tetapi juga penjaga pengetahuan yang memiliki kontribusi besar terhadap keberlanjutan lingkungan. Pengetahuan lokal tidak lahir dari laboratorium, melainkan dari pengalaman hidup yang terus diuji oleh waktu. Dalam masyarakat Tengger, hubungan harmonis dengan Gunung Bromo menjadi bukti bahwa pengetahuan ekologis mereka dibangun melalui interaksi yang panjang dengan lingkungan pegunungan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memaknai erupsi Bromo sebagai bagian dari siklus alam yang membawa kesuburan tanah, sementara kesalahan dalam perhitungan kalender adat diyakini dapat mengganggu keseimbangan kosmis. Bagi masyarakat modern, keyakinan tersebut mungkin dipandang sebagai mitos. Namun melalui Indigenous Knowledge Theory, pandangan itu justru merupakan bentuk pengetahuan ekologis yang menghubungkan manusia dengan dinamika alam secara berkelanjutan.

Persoalan muncul ketika industri pariwisata mulai memosisikan ritual sebagai produk wisata. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Yadnya Kasada kini dipromosikan melalui brosur wisata, festival budaya, dan berbagai media promosi untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.

Dari sudut pandang Indigenous Knowledge Theory, ancaman terbesar bukan hanya komersialisasi ritual, melainkan terputusnya proses transmisi pengetahuan lokal. Ketika wisatawan hanya melihat prosesi pelarungan sesaji sebagai atraksi visual, sementara generasi muda lebih mengenalnya sebagai agenda festival daripada warisan pengetahuan leluhur, maka substansi Indigenous Knowledge perlahan mengalami pengikisan.

Berkes menekankan bahwa keberlangsungan Indigenous Knowledge sangat bergantung pada praktik budaya yang terus dijalankan oleh komunitas pendukungnya. Pengetahuan lokal tidak dapat dipisahkan dari ritual, bahasa, simbol, maupun kelembagaan adat. Oleh sebab itu, menjaga ritual berarti menjaga sistem pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga: Koster Buka Suara soal Terduga Pencuri Ayam Dikeroyok di Baturiti

Dalam konteks Tengger, para dukun adat, sesepuh, dan pemangku tradisi memiliki posisi strategis sebagai penjaga memori kolektif yang memastikan pengetahuan tersebut tetap hidup melalui praktik keseharian masyarakat. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian bahwa keberhasilan menjaga tradisi sangat ditentukan oleh kepatuhan masyarakat terhadap titiluri, yakni ajaran untuk mengikuti jejak leluhur secara konsisten.

Karena itu, pembangunan pariwisata di kawasan Bromo seharusnya tidak berhenti pada upaya meningkatkan kunjungan wisatawan. Yang jauh lebih penting adalah membangun pariwisata yang menghormati kedaulatan pengetahuan masyarakat adat.

Masyarakat Tengger harus ditempatkan sebagai pemilik sekaligus pengelola utama warisan budaya mereka, sementara pemerintah dan pelaku industri pariwisata berperan sebagai mitra yang mendukung keberlanjutan sistem pengetahuan tersebut. Interpretasi budaya bagi wisatawan juga perlu menampilkan makna filosofis dan ekologis ritual, sehingga yang dipromosikan bukan hanya keindahan prosesi, tetapi juga nilai-nilai pengetahuan yang dikandungnya.

Pada akhirnya, membaca tradisi Tengger melalui Indigenous Knowledge Theory membawa kita pada kesimpulan bahwa ritual bukan sekadar warisan budaya yang harus dilestarikan, melainkan sebuah perpustakaan hidup yang menyimpan pengetahuan ekologis, spiritual, sosial, dan kosmologis masyarakat adat.

Yadnya Kasada, Yadnya Karo, dan Unan-unan merupakan mekanisme pewarisan ilmu yang telah berlangsung selama berabad-abad. Jika ritual hanya dipandang sebagai objek wisata, maka yang hilang bukan sekadar kesakralannya, melainkan juga sistem pengetahuan yang selama ini menjaga harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Menjaga tradisi Tengger pada hakikatnya adalah menjaga keberlangsungan pengetahuan lokal Nusantara yang menjadi fondasi penting bagi pembangunan budaya dan lingkungan yang berkelanjutan.

Oleh: Dr. I Putu Mardika, S.Pd, M.Si

Dosen Antropologi Budaya Hindu, IAHN Mpu Kuturan

 

 

Editor : I Putu Mardika
Indigenous Local Desakralisasi Ritual Antropologi Budaya Hindu tengger hindu