Kepemimpinan yang Merangkul, Bukan Membelah

I Putu Mardika • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 18:58 WIB
Dosen IAHN Mpu Kuturan, Komang Ayu Suseni, M.Pd.H.
Dosen IAHN Mpu Kuturan, Komang Ayu Suseni, M.Pd.H.

BALIEXPRESS.ID-Dinamika era digital dan ketidakpastian global menuntut hadirnya figur pemimpin yang tidak hanya cerdas secara strategis, tetapi juga matang secara etis dan emosional. Salah satu tantangan terbesar kepemimpinan kontemporer di era disrupsi informasi adalah kemampuan menjaga dan merawat keberagaman di tengah masyarakat yang kian terfragmentasi.

Dinamika politik global maupun lokal hari ini menunjukkan kecenderungan yang memprihatinkan: sentimen identitas, kelompok, hingga pandangan politik kerap dieksploitasi sebagai instrumen meraih serta mempertahankan kekuasaan. Media sosial, yang pada awalnya digadang-gadang menjadi ruang perjumpaan inklusif dan demokratis, justru bergeser menjadi ruang gema (echo chamber).  

Filosofi Hindu, melalui ajaran Tat Twam Asi ("Aku adalah engkau, engkau adalah aku"), menawarkan fondasi etis yang sangat kuat dan relevan bagi kepemimpinan yang inklusif. Prinsip fundamental ini mengajarkan bahwa pada hakikatnya, setiap individu terikat dalam satu kesatuan esensial yang sama.

Dalam konteks tata kelola publik maupun kepemimpinan organisasi, Tat Twam Asi menegaskan bahwa memimpin bukanlah proses memilah rakyat ke dalam sekat-sekat partisan, melainkan seni memandang setiap golongan sebagai bagian tak terpisahkan dari satu tubuh yang utuh.

Baca Juga: Kemarau Lebih Kering, Kebakaran di Bali Capai 225 Kasus

Menyakiti atau mengabaikan satu kelompok pada dasarnya adalah mencederai keseluruhan organisasi atau bangsa itu sendiri. Nilai filosofis ini hadir sebagai jawaban atas kegelisahan mendalam masyarakat terhadap model kepemimpinan pragmatis yang gemar memperuncing sekat sosial demi keuntungan politik atau kekuasaan jangka pendek.

Kepemimpinan yang berakar pada Tat Twam Asi menghadirkan pendekatan yang bersifat menyembuhkan (healing leadership), bukan memecah belah (divisive leadership). Pemimpin dengan orientasi ini tidak menempatkan dirinya sebagai wasit yang berpihak pada salah satu kubu atau pelindung bagi kelompok mayoritas semata.

Sebaliknya, ia hadir sebagai figur pemersatu yang mampu mendengarkan kebisingan prasangka, meredakan ketegangan, dan menerjemahkan berbagai kepentingan yang saling bertolak belakang menjadi satu visi bersama yang inklusif.

Implikasi praktis dari kepemimpinan berbasis Tat Twam Asi tercermin dalam proses pengambilan keputusan (decision-making process). Pemimpin yang menjiwai nilai ini akan memprioritaskan dialog yang bermakna (meaningful engagement) di atas pemaksaan kehendak secara sepihak.

Baca Juga: TransNusa Buka Rute Bali-Phuket, Penerbangan Langsung Dilayani Setiap Hari

Kesetaraan perlakuan, rasa aman secara psikologis, dan jaminan atas keadilan menjadi komitmen utama yang dihidupkan di tempat kerja maupun dalam kehidupan berbangsa.  Di era yang semakin riuh oleh narasi kebencian dan keanekaragaman yang terancam, kita membutuhkan redefinisi atas arti keberhasilan seorang pemimpin. Pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan yang ia genggam atau seberapa masif kelompok pengikut yang ia bentengi dari kelompok lain.

Keberhasilan kepemimpinan sejati tercermin dari seberapa luas jangkauan seruan kebangsaannya untuk merangkul perbedaan, seberapa tebal rasa empati yang berhasil ia tanamkan pada bawahannya, serta seberapa kokoh jembatan persatuan yang berhasil ia bangun di atas jurang perbedaan.

Kepemimpinan yang merangkul bukan lagi sekadar pilihan gaya manajemen, melainkan sebuah tuntutan etis demi keberlanjutan dan keharmonisan peradaban kita. (*)

Oleh

Komang Ayu Suseni, M.Pd.H

Penulis adalah Dosen IAHN Mpu Kuturan

Editor : I Putu Mardika
disrupsi pemimpin Tat Twam Asi keberagaman hindu