Tradisi Pedharmaan Bali Kuno di DAS Pakerisan: Memahami Jejak Pemujaan Roh Leluhur Masyarakat Bali

I Putu Mardika • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 15:55 WIB
Kadek Edi Palguna, M.Si, Dosen IAHN Mpu Kuturan
Kadek Edi Palguna, M.Si, Dosen IAHN Mpu Kuturan

BALIEXPRESS.ID-Pedharmaan merupakan salah satu bentuk dari tradisi pemujaan roh leluhur/tokoh penting yang dilakukan pada masa klasik di Nusantara. Tradisi ini dilakukan salah satunya dalam bentuk Candi Pedharmaan yang dibangun untuk memuliakan arwah raja atau tokoh penting yang telah meninggal.

Candi ini juga sering dikaitkan dengan pemujaan terhadap raja yang telah menyatu dengan dewa perwujudannya, contoh: Candi Belahan tempat Airlangga dicandikan dengan arca perwujudannya ialah arca Wisnu meunganggi Garuda, Candi Simping di Blitar sebagai tempat Raden Wijaya di-dharma-kan sebagai Dewa Harihara (Eni dan Tsabit, 2017).

Kemegahan bangunan candi bukan semata untuk menunjukan kemajuan teknologi yang dimiliki oleh Kerajaan tertentu, namun yang lebih esensial adalah sebagai bentuk yang memiliki nilai hubungan antar generasi yang dijaga erat sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Pedharmaan juga memiliki konteks sebagai bentuk penghormatan yang dilakukan terhadap pendahulu Raja atau masyarakat kuno yang telah memberikan berbagai hal dalam kehidupannya dalam Kerajaan bersangkutan. 

Dalam Kitab Negarakertagama disebutkan bahwa Mpu Prapanca menemani Raja Hayam Wuruk berkeliling wilayah adalah untuk mengunjungi candi dan tempat-tempat ibadah lainnya salah satunya adalah candi pe-dharma-an yang dikenal dengan nama Jajawi. Kunjungan tersebut dilakukan pada tahun 1359 Masehi sebagai penghormatan dan pemuliaan kepada kakek buyut dari Raja Hayam Wuruk yaitu Raja Kertanegara (Adhitama, 2023).

Baca Juga: BRI Raih Penghargaan Indonesia Sports Industry of the Year 2026 dari Kemenpora

Kunjungan yang dilakukan oleh Raja Hayam Wuruk dalam catatan Kitab Negarakertagama menunjukan prilaku yang dilakukan oleh raja dalam tradisinya memuja leluhur kaitannya dalam sebuah bangunan Candi. 

Bangunan Candi pada umumnya memiliki karakteristik bentuk secara vertikal terdiri dari tiga bagian, yakni bagian kaki/dasar, bagian badan/ruang, dan bagian atap. Bahan-bahan yang digunakan dalam Pembangunan candi juga beragam menyesuaikan potensi bahan yang ada dilingkungan sekitarnya. Beberapa bahan candi yang biasanya digunakan ialah Batu andesit, batu putih, bata merah, stuko, Bajralepa, dan Kayu.

Terkhusus pada kayu memang belum ditemukan dalam jejak bangunan candi seutuhnya dengan komponen kayu, namun dari segi bentuk memiliki konteks campuran bahan antara kayu dan batu. Hal tersebut dapat diketahui dari beberapa sisa bangunan candi yang hanya berbentuk batur landasan dan juga terdapat batu umpak yang terbuat dari andesit atau bata, yang kemungkinan kuat bagian atasnya terdapat bahan organik seperti kayu yang telah musnah tidak tahan lama. 

Beberapa candi yang memiliki ciri penggunaan komponen kayu bagian atasnya ialah Candi Sambisari, Candi Kimpulan, Candi Sari, dan Candi Plaosan (Eni dan Tsabit, 2017). Karakteristik bangunan candi yang menggunakan dua bahan yang yang memadukan dengan bahan organik, bisa dilihat kesamaannya saat ini pada bangunan pelinggih-pelinggih di Bali yang memiliki karakter bentuk struktur bagian bawah terbuat dari bahan batu, bagian atas mulai dari badan terbuat dari bahan organik kayu hingga bagian atapnya berbahan ijuk. 

Tradisi penghormatan terhadap leluhur oleh raja dalam konsep pendharmaan juga dilakukan oleh raja-raja pada masa Bali Kuno. Hal tersebut dapat dikuatkan dengan banyaknya bangunan-bangunan candi/prasada yang ditemukan dan dilakukan pemugaran kembali di beberapa situs di Bali.

Candi Pendharmaan di Bali memiliki dua jenis bentuk yang berbeda, pertama candi pedharmaan dalam bentuk bangunan utuh yang tersusun dari berbeapa bahan, dan candi yang dibuat pada dinding tebing yang memiliki karakter bahan kuat menyatu dengan tebing yang mengandung batuan ringan dari proses pasca letusan gunung berapi. Batuan dengan karakteristik seperti ini biasanya bisa ditemukan pada tebing-tebing daerah alirsan sungai besar di Bali. 

Sepanjang DAS Pakerisan telah ditemukan beberapa situs penting sebagai bagian dari jejak peradaban Bali Kuno baik dalam bentuk petirtaan, Pura dengan tinggalan arca mapun ceruk pertapaan. Terdapat beberapa titik di DAS Pakerisan telah ditemukan pahatan-pahatan pada bagian tebing-tebing yang berbentuk candi yang dilangkapi dengan ceruk-ceruk pertapaan, yakni di Situs Gunung Kawi, Candi Kerobokan, Candi Tegalinggah dan ceruk di Kawasan situs Pura Pengukur-ukuran.

Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Raih Penghargaan IN-Apps Digital Award 2026 Lewat Aplikasi Sentuh Tanahku

Terdapat pula pada beberapa situs DAS Pakerisan yang memiliki bangunan candi utuh yang terbuat dari batu dari bagian kaki hingga atap yang sering disebut sebagai bangunan prasada seperti di Prasada Pura Mengening, Candi Pegulingan, dan Prasada Pura Pengukurukuran. 

Keberadaan candi-candi yang ditemukan di DAS Pakerisan Tampaksiring, Gianyar diperkirakan sebagai tempat pedharmaan yang dilengkapi dengan petirtaan dan ceruk pertapaan. Hal tersebut juga diperkuat dengan konteks tinggalan arekologi lainnya seperti dalam prasasti-prasasti yang menyebutkan tentang tempat pedharmaan yang dicantumkan oleh raja dalam isi prasastinya.

Dalam beberapa prasasti menyebutkan bahwa Marakata merupakan anak dari raja suami-istri yang didharmakan di Air Wka, sedangkan prasasti-prasasti Anak Wungśu juga menyatakan bahwa ia merupakan anak bungsu dari raja yang didharmakan di Burwan dan Bañu Wka.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa Marakata dan Anak Wungśu memang memiliki hubungan keluarga dengan Guṇapriya dan Udayana. Hubungan Marakata sebagai anak dari Guṇapriya dan Udayana tersebut dapat dilihat dalam prasasti Tengkulak A (945 Śaka). Serta prasasti pendek yang terdapat pada salah satu candi di komplek Gunung Kawi yang terbaca “Haji Lumah Ing Jalu”, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa Sanghyang Katyagan ing Pakrisan mangaran ring Amarawati adalah kompleks Candi Tebing Gunung Kawi dan merupakan bangunan suci milik kerajaan (Suantika, 2020).

Dalam beberapa catatan prasasti menunjukan bahwa tradisi pemujaan leluhur dalam hal ini keluarga dari raja telah dilakukan dengan pembangunan candi-candi yang dijadikan sebagai media pedharmaan

Pura Pengukur-ukuran merupakan salah satu situs yang berada di kawasan DAS Pakerisan bagian bawah juga memiliki karakteristik tinggalan arkeologi yang juga merujuk sebagai tempat pedharmaan. Pura Pengukur-ukuran terletak di Dusun Sawagunung Desa Pejeng Kelod Kecamatan Tampaksiring Gianyar Bali. Secara struktur Pura Pengukur-ukuran terdiri dari empat halaman, Jeroan, Jaba Tengah, Jaba dan Jaba sisi.

Dengan arah hadap barat pintu masuk ke areal jaba sisi berupa sebuah candi bentar di sisi barat. Di halaman jaba sisi tidak terdapat bangunan dan pelinggih, untuk memasuki areal halaman utama harus melewati beberapa anak tangga dengan sebuah pintu masuk berupa candi bentar. Terdapat bangunan arkeologis berupa prasada yang terletak di halaman utama Pura. Prasada berdiri di atas bebaturan, bentuk strukturnya terdiri dari bagian kaki, badan, dan atap. Bagian kaki terdapat bentuk pelipit sisi genta, pada bagian badan terdapat pintu masuk. Di dalam bilik prasada terdapat lingga yoni (namun tidak diperkenankan untuk dibuka pintu bilik prasada).

Pada bagian atap, semakin keatas semakin kecil. Terdapat tangga untuk naik ke prasada di sebelah timur laut, yang terdiri dari susunan batu andesit. Selain bangunan, juga terdapat benda-benda tinggalan arkeologi yang cukup banyak seperti fragmen bangunan, arca perwujudan dengan berbagai bentuk, panel relief parasu, dan arca ganesha. Pada bagian luar sisi timur Pura Pengukur-ukuran yang berada pinggiran DAS Pakerisan terdapat situs Goa Garbha yang terdiri dari strutur Gapura dan ceruk-ceruk pertapaan yang dipahat pada tebing batu padas dikawasan situs. 

Pura Pangukur-ukuran memiliki bukti pendirian berupa prasasti yang disebut Prasasti Pura Pangukur-ukuran atau di kalangan ahli prasasti lebih dikenal dengan nama Prasasti Ambang Pintu. Penamaan ini muncul karena prasastinya terletak pada sebuah pintu gerbang (pamedal) pura. Prasasti yang terbuat dari batu padas berbentuk persegi panjang hanya memuat tiga baris kata.

Dalam isi prasasti tersebut tidak mencantumkan nama Raja yang membuat prasasti tersebut, namun jika merujuk pada tahun yang tertulis mengarah pada masa pemerintahan Raja Jayapangus. Istilah Dharma Hanar juga termuat dalam prasasti yang dikeluarkan raja Jayapangus sebagai pejabat pemuka agama seperti dalam prasasti Bugbug berangka tahun 1103 saka lempeng IXa, baris 7, tertulis yang telah diterjemahkan sebagai berikut; Beliau dari golongan agama Siwa (Hindu) Mpungku di Dharmmahanar bernama Dan Acaryya Pawidda,... (Tim Penyusun Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 2008). Dalam prasasti Sukawati B disebutkan seorang mpungku sthapaka yang berkedudukan di Banu Tiga dan seorang lagi di Dharmahanar. Tokoh pertama berhak mendapatkan yang wajib ditunaikan oleh penduduk Sukhawati, sedangkan tokoh kedua tidak mendapatkan itu.

Baca Juga: LP2B Jatim Lampaui Target, Menteri Nusron Minta Pemda Segera Integrasikan ke dalam RTRW

Tetapi kewajiban yang harus dilakukan kepada mpungku sthapaka di Dharmahanar adalah melaporkan peristiwa orang mati tidak wajar, lembu atau kuda yang mati tidak wajar di desanya. Dharmahanar dengan nama yang berbeda juga muncul pada masa dua raja berbeda dengan nama tokohnya yang berbeda, yakni pada Raja Jaya Sakti dan Raja Ragajaya (Semadi Astra, 2023).

Jika melihat dari penyebutan dharmahanar dalam beberapa prasasti Bali Kuno mengarah pada sebuah lokus atau tempat yang dikenal oleh masyarakat terutama yang berhubungan dengan pemuka agama yang cenderung mengikuti aliran siwa. Pemuka agama di dharmahanar juga dijabat oleh pemuka agama dengan nama tokoh yang berbeda-beda pada masa raja yang juga berbeda pula, ini mengindikasikan bahwa dharmahanar merupakan tempat penting dan berkelanjutan dalam proses kegiatan religi masa Bali Kuno. 

Nilai Penting Pelestarian Budaya

1.   Sejarah

Tradisi pedharmaan di DAS Pakerisan merupakan bukti sejarah peninggalan kebudayaan masa lalu. Bangunan-bangunan tersebut memiliki keunikannya masing-masing yang memiliki arti keberadaan Kerajaan dan masyarakat Bali Kuno berdasarkan bentuk dan catatan prasasti yang berhubungan dengan bangunan tersebut, yang masih dilestarikan sampai saat ini. Keberadaan beberapa tinggalan arkeologi ini menjadi sumber informasi peradaban pada zaman dahulu secara khusus berkaitan dengan sejarah kebudayaan dan keagamaan Bali Kuno.

2.   Ilmu Pengetahuan

Prasada dan Candi di DAS Pakerisan memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan tentang kebudayaan dan religi khususnya dalam konsep pedharmaan yang berkembang masa Bali Kuno. Keunikan arsitektur bangunan memiliki karakter yang berbeda dan salah satunya memiliki keserupaan dengan Candi di Jawa, menunjukan bahwa kompleksitas pengetahuan masyarakat masa lalu. Keberadaannya saat ini sangat berguna sebagai bahan kajian secara ilmiah dalam pengembangan sumber pengetahuan sejarah, budaya, keagamaan dan arsitektur.

3.   Pendidikan

Prasada dan Candi di DAS Pakerisan sebagai salah satu peninggalan pada masa Bali Kuno, ini dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran dalam dunia pendidikan tentang sejarah, keagamaan, arsitektur dan ragam hias bangunan. Ragam bentuk bangunan menunjukan dinamika kebudayaan karena memiliki hubungan dengan budaya luar daerah yang juga bisa digunakan sebagai memperkaya materi pembelajaran.

4.       Agama

Prasada dan Candi di DAS Pakerisan merupakan bangunan suci yang dijadikan tempat atau media persembahyangan umat Hindu dari masa-kemasa oleh masyarakat Bali Kuno hingga kini. Sampai saat ini kedua bangunan tersebut dijadikan media pemujaan yang dilaksanakan piodalan setiap 6 bulan sekali atau satu tahun sekali secara khusus oleh masyarakat yang berada di sekitar lokasi pura.

5.       Kebudayaan

Situs dan bangunan di DAS Pakerisan menjelaskan terkait arsitektur, dinamika bangunan dan ragam hias bangunan masing-masing sebagai penciri kebudayaannya. Bangunan Prasada dan candi merupakan hasil karya manusia yang melalui proses mulai dari ide dan konsep kosmologis yang digunakan sebagai rujukan keberadaan bangunan masing-masing. Bentuk bangunan yang sangat mirip dengan kebudayaan arsitektur dan ragam hias di Jawa Timur, menunjukan adanya keterkaitan maupun maupun pertukaran budaya antara Jawa Timur dan Bali.

Oleh: Kadek Edi Palguna, M.Si

Penulis adalah Dosen IAHN Mpu Kuturan

 

 

Editor : I Putu Mardika
Pedharmaan