BALI EXPRESS - Jika membahas soal Bung Karno atau Ir. Soekarno pastilah mengenai perjuangannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun hal itu sudah biasa. Sudah banyak pula dibahas dimana-mana. Namun ada kisah lain yang jarang sekali diketahui yakni kisah cinta Bung Karno.
Bung Karno yang dikenal berwibawa dan gagah ini memiliki lIka liku asmara dalam hidupnya.
Sekilas ia juga dikenal dengan sosok yang memiliki banyak pendamping hidup.
Tetapi istri pertamanya bukanlah Fatmawati.
Ada beberapa perempuan yang tercatat sebagai istri sah Bung Karno seperti dilansir dari Chanel Aurel Valen.
- Sitti Oetari Tjokroaminoto
Perempuan berdarah Surabaya ini adalah wanita pertama yang dinikahi Soekarno. Ia menikah tahun 1921 di Surabaya.
Pertemuan keduanya saat Bung Karno kos di rumah salah satu tokoh bernama Haji Oemar Said Tjokroaminoto.
Haji Oemar juga merupakan sahabat dari ayah Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo.
Haji Oemar memiliki putri sulung bernama Sitti Oetari. Keduanya lantas jatuh cinta.
Saat itu mereka masih berusia muda. Sekitar belasan tahun dan hubungan pernikahan keduanya hanya 3 tahun dan bercerai tahun 1923.
Alasan perpisahannya pun beragam. Ada yang bilang karena keduanya belum sepenuhnya saling mencintai, ada pula yang beranggapan bahwa Bung Karno belum siap menafkahi Oetari karena masih sangat muda.
- Inggit Garnasih
Saat mengalami masalah rumah tangga, Bung Karno meninggalkan Surabaya dan pergi ke Bandung.
Ia kuliah di THS atau Technische Hoogeschool te Bandoeng. Sekarang terkenal dengan Institut Teknologi Bandung atau ITB.
Sat berada di Bandung Bung Karno lantas bertemu Inggit. Wanita ini merupakan istri kedua dari Bung Karno.
Pertemuan keduanya bisa dibilang miris.
Saat itu Bung Karno masih menjadi suami Oetari. Tetapi kondisi rumah tangganya telah berantakan.
Begitu juga dengan Inggit yang sedang mengalami kerenggangan hubungan rumah tangga.
Inggit sering bertemu dengan Bung Karno saat berada di Bandung.
Terang saja, Bung Karno saat itu kos di rumah Haji Sanusi seorang saudagar ternama. Haji Sanusi memiliki seorang istri Inggit Garnasih.
Karena tinggal di rumah yang sama dan sama-sama mengalami masalah rumah tangga, Inggit sering curhat kepada Bung Karno, begitu juga sebaliknya.
Inggit merasa kesepian dan kurang perhatian karena sering ditinggal suaminya.
Sedangkan Bung Karno sendiri merasa istrinya (Oetari) masih belum dewasa dan belum sesuai dengan harapannya.
Sosok Inggit menggoyahkan hati Bung Karno. Benih-benih cinta mulai timbul diantara keduanya.
Ia melihat Inggit sangat dewasa dan kedewasaan itu tidak ditemui Bung Karno dalam diri Oetari.
Terang saja, Inggit sudah dua kali menikah. Suami pertamanya adalah hasil perjodohan dengan seorang Kopral Residen Belanda bernama Nata Atmaja tahun 1900 saat Inggit masih berusia 12 tahun.
Dan pernikahannya hanya bertahan 2 tahun.
Saat menikah lagi dengan Haji Sanusi, rumah tangganya juga berantakan.
Akhirnya Inggit diceraikan oleh Haji Sanusi.
Perceraian dilakukan dengan baik-baik. Begitu juga dengan rumah tangga Bung Karno yang akhirnya bercerai dengan Sitti Oetari.
Perpisahan juga dilakukan dengan baik-baik sehingga tidak ada pertikaian diantara kedua pasangan tersebut.
Bung Karno lantas meminta ijin kepada Haji Sanusi untuk menikahi Inggit.
Akhirnya tanggal 24 Maret 1923 mereka menikah di rumah orangtua Inggit di kota Bandung.
Mereka meniti rumah tangga selama 20 tahun. Inggit yang saat itu berusia 33 tahun serasa menyejukkan Bung Karno yang kala itu berusia 21 tahun.
Awal perjalanan politik, Inggit sangat berperan besar. Biaya-biaya untuk kebutuhan politik Bung Karno sebagian besar ditanggung oleh Inggit dari hasil berjualan bubuk dan minuman herbal.
Inggit juga sangat setia dengan Bung Karno. Saat Bung Karno dipenjara di Penjara Banceuy, setiap minggunya Inggit datang membawa buku bacaan dan makanan untuknya.
Ia selalu berada di sisi Bung Karno juga saat mengalami pengasingan di Ende serta di Bengkulu 1938.
Namun kemudian perjalanan rumah tangganya lagi-lagi kandas.
Inggit tidak bisa memberikan anak untuk Bung Karno. Meski keduanya memiliki 2 orang anak angkat tapi Bung Karno berharap bisa memiliki buah hati sendiri.
- Fatmawati
Ketika di pengasingan tahun 1938 itu, Soekarno memiliki hubungan baik dengan pemimpin organisasi Muhammadiyah cabang Bengkulu, Hasan Din.
Hasan Din inilah ayah dari Fatmawati.
Hasan Din dan Bung Karno sering bertemu di rumah Hasan. Dari sanalah pertemuan Fatmawati dengan Bung Karno.
Saat itu Fatmawati berusia 15 tahun. Fatmawati juga sahabat dekat dari Ratna Juami yang merupakan anak angkat Bung Karno.
Fatmawati sudah dianggap anak oleh Bung Karno dan Inggit saat itu. Namun lama-lama sikap Bung Karno berubah terhadap Fatmawati.
Perubahan itu disadari oleh Inggit.
Pada suatu malam, Soekarno dan Inggit bicara serius mengenai anak. Saat itulah ia menyatakan ingin menikahi Fatmawati.
Ia meminta ijin kepada Inggit karena ia telah jatuh cinta dengan Fatmawati.
Saat itu Inggit merasa hubungan rumah tangganya tidak bisa dilanjutkan lagi.
Inggit sakit hati dan sangat tidak setuju bila dirinya dimadu.
Disisi lain, ternyata Fatmawati juga jatuh cinta dengan Bung Karno.
Padahal ia tau Bung Karno masih suami dari Inggit. Maka Fatmawati memberikan syarat kepada Bung Karno.
Bila ingin menikahinya maka ia tidak ingin dijadikan istri kedua.
Inggit dan Bung Karno lantas memutuskan untuk berpisah Januari 1943.
Inggit merelakan Bung Karno dengan wanita lain meski cintanya sangat besar.
Bung Karno kemudian menikah dengan Fatmawati pada Juni 1943 saat Fatmawati berusia 20 tahun dan Bung Karno 42.
Fatmawati menjalin pernikahan yang berat. Sebab saat itu Indonesia mengalami masa yang tidak stabil. Sedangkan Bung Karno turu berjuang untuk kemerdekaan.
Dari pernikahannya itu Bung Karno dengan Fatmawati dikaruniai 5 orang anak.
Yakni Muhammad Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.
Peran Fatmawati yang dikenal ke seluruh negeri adalah saat ia menjahit kain marah putih yang kemudian menjadi bendera negara Indonesia.
Ia juga resmi menyandang status Ibu Negara, karena Bung Karno menjadi Presiden RI pertama tahun 1945.
Kendati menyandang status sebagai Ibu Negara dan setia terhadap Bung Karno menjalankan tugas sebagai Presiden, lagi-lagi mereka harus berpisah karena kehadiran pihak ketiga.
- Hartini
Bung Karno bertemu dengan Hartini saat berkunjung ke Yogyakarta. Ia lantas jatuh cinta dan berniat menjadikan istrinya.
Karena sejak awal Fatmawati tidak ingin dimadu, ia lantas keluar dari istana negara dan tinggal di sebuah rumah di Jakarta Selatan.
Sakit hati yang sangat dalam dirasakan Fatmawati, tetapi ia memilih tidak bercerai demi anak-anaknya.
Soekarno jatuh cinta. Ia lalu mengirim surat kepada Hartini.
(Tuhan telah mempertemukan kita, Tien
Dan aku mencintaimu.
Ini adalah takdir).
Demikian isi surat pertama dari Bung Karno untuk Hartini. Kemudian ada pula surat lainnya dengan kalimat-kalimat manis.
(Ketika aku melihatmu untuk kali yang pertama, hatiku bergetar. Mungkin kau pun mempunyai perasaan yang sama)
Hartini dan Bung Karno pertama kali bertemu di rumah walikota Salatiga.
Bung Karno singgah di rumah walikota saat melakukan perjalanan ke Yogyakarta.
Di Salatiga ia numpang makan siang. Saat itu ia sangat menyukai sayur lodeh yang dihidangkan. Ternyata sayur itu dimasak oleh Hartini.
Soekarno lalu menikahi perempuan bernama lengkap Sitti Suhartini tahun 1953. Mereka menikah di istana Cipanas. Saat mereka menikah banyak kecaman dari organisasi perempuan Indonesia.
Organisasi Perempuan Indonesia mengecam pernikahan mereka dan menganggap poligami merendahkan martabat perempuan.
Hartini menjadi sasaran kemarahan perempuan.
Dari pernikahannya dengan Hartini, Bung Karno memiliki 2 putra yakni Taufan dan Bayu.
Hartini istri yang setia. Dialah yang disebut-sebut mendampingi Soekarno hingga detik-detik akhir kehidupannya.
- Kartini Manopo
Setelah menikahi Kartini dan memiliki dua putra, ia menikah lagi dengan Kartini Manopo.
Perempuan asal Sulawesi Utara ini adalah seorang Pramugari pada maskapai Garuda Indonesia. Bung Karno tertarik dengan Kartini karena lukisan.
Tahun 1959, pelukis terkenal Basuki Abdulah sedang melakukan pameran lukisan. Bung Karno hadir ke pameran itu.
Ia lantas tertarik dengan lukisan berjudul Lady with Kebaya. Bung Karno penasaran siapa sosok yang ada dalam lukisan itu.
Pada suatu masa ia akhirnya bertemu dengan Kartini Manopo. Tidak lama-lama, Bung Karno langsung menyatakan cintanya dan menikah tahun 1959.
Tetapi pernikahan itu tidak resmi sebab dalam adat Mobago, Sulawesi Utara tidak mengenal istilah istri kedua atau ketiga. Dan saat itu Kartini menikah dengan Bung Karno yang belum bercerai dengan Ibu Negara Fatmawati.
Singkat cerita, Kartini hamil. Bung Karno mengirim Hartini ke Jerman dan akhirnya melahirkan disana.
Kartini melahirkan seorang putra bernama Totok Suryawan tahun 1967.
Sayangnya Soekarno tidak dapat melihat putranya itu. Sebab ia dalam masa penahanan.
Sampai akhirnya Bung Karno meninggal. Tidak sekalipun Totok dapat melihat sosok ayahnya.
- Ratna Sari Dewi
Ratna Sari Dewi adalah satu-satunya perempuan dari Jepang yang dinikahi Bung Karno.
Wanita ini memiliki nama asli Naoko Nemoto dan bekerja sebagai seorang Geisha di club malam Copacabana di Akasaka, Jepang.
Tahun 1959 Bung Karno melakukan perjalanan ke Jepang dan saat itu ia mampir ke club malam tempat Naoko bekerja. Bung Karno melihat Naoko dan terpesona.
Bung Karno dan Naoko sempat bertemu secara kebetulan beberapa kali di hotel tempat Bung Karno menginap di Jepang.
Beberapa minggu kemudian, Bung Karno balik ke Jakarta. Tetapi Bung Karno masih terngiang oleh Naoko.
Bung Karno lantas mengirimkan surat beberapa kali kepada Naoko yang mengekspresikan perasan cintanya terhadap gadis Jepang itu.
Ternyata Naoko juga jatuh cinta kepada Bung Karno. Bung Karno mengundang Naoko ke Indonesia.
Tetapi ia harus menyamar sebagai karyawan perusahaan Jepang yang berkunjung ke Indonesia.
Bung Karno memperkenalkan Naoko sebagai sekretaris pribadinya saat itu. Dengan status barunya sebaga sekretaris, Naoko juga pernah diajak melakukan kunjungan ke Bali.
Merasa cocok satu sama lain, Bung Karno diam-diam menikahi Naoko tahun 1962. Saat itu usia Naoko baru 19 tahun sedangkan Soekarno telah berusia 57 tahun.
Setelah menikah, Naoko berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi Soekarno dan berganti kewarganegaraan. Ia lantas melahirkan anak bernama Karina Kartika Sari Dewi yang lahir tahun 1967.
- Haryati
Tahun 1967 Soekarno lengser menjadi presiden dan menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Soeharto.
Soekarno juga bercerai dengan Ratna Sari Dewi. Anaknya dibawa ke Jepang. Meski sudah bercerai keduanya tetap saling mencintai.
Setelah bercerai dengan Dewi, Soekarno menikah lagi dengan Haryati.
Ia merupakan mantan penari di Istana Negara sekaligus Staf Sekretaris Negara Bidang Kesenian.
Saat itu Haryati tampil dihadapan presiden. Bung Karno lantas kembali terpesona oleh sosok wanita.
Bung Karno kembali menulis surat. Kali ini kepada Haryati. Surat itu berbahasa Jawa. Mereka lantas menikah tahun 1963.
Tetapi pernikahannya tidak lama. Tahun 1966 mereka bercerai dengan alasan ketidakcocokan.
- Yurike Sanger
Yurike Sanger lahir tahun 1945. Saat bertemu dengan Bung Karno ia tengah menjadi anggota barisan Bhineka Tunggal Ika dalam upacara Hari Kemerdekaan RI tahun 1963.
Saat itu Yurike kelas 2 SMA. Bung Karno pun berkenalan dengan Yurike dan berniat menikahinya.
Yurika berusia 19 tahun dan Bung Karno 62 tahun. Hubungan keduanya disetujui orangtua Yurike meski usianya terpaut jauh. Mereka lantas menikah tahun 1964.
Pernikahan dilakukan diam-diam. Pernikahannya juga tidak lama karena Soekarno harus lengser dari jabatan presiden.
Ia menyarankan untuk bercerai kepada Yurike karena terlalu banyak konflik saat itu. Akhirnya tahun 1968 mereka berpisah.
- Heldy Djafar
Selain bertemu dengan Yurike, presiden juga bertemu dengan gadis lain yakni Heldy Djafar.
Heldy juga sebagai anggota pagar ayu Bhineka Tunggal Ika kala itu. Ia menjadi tim penyambut tamu Piala Thomas tahun 1964 di istana negara.
Setelah itu Bung Karno bertemu lagi dengan Heldy di istana Bogor. Selanjutnya mereka sering saling bertemu.
Bung Karno jatuh cinta lagi dan melamar Heldy. Bung Karno menikahinya tahun 1966. Soekarno saat berusia 65 tahun dan Heldy 19 tahun.
Dua tahun menikah keduanya lantas berpisah. Banyak konflik yang mewarnai pernikahan mereka. Terlebih isu politik tengah panas-panasnya.
Heldy merupakan istri terakhir dari sang proklamator. Setelah bercerai dengan Bung Karno kemudian Heldy menikah dengan Gusti Suryansyah Noor tahun 1998.
Editor : I Putu Suyatra