BALIEXPRESS.ID-Setelah viral video Gus Miftah dianggap mengolok-olok penjual es teh, sosok bapak menjajakan minuman di pengajian itu banyak dicari.
Banyak yang menanyakan identitas penjual es teh tersebut.
Hingga kemudian diketahui identitas penjual es teh itu adalah Pak Pun alias Pak Dolop alias Pak Sunhaji.
Pak Sun, yang mengenakan peci hitam saat berjualan, mengungkapkan bahwa ia sebelumnya bekerja sebagai tukang kayu.
Namun, setelah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cedera, ia beralih menjadi penjual minuman.
Meski penghasilannya tidak selalu besar, dengan terkadang hanya meraih untung Rp10 ribu, Pak Sun tetap berusaha keras untuk menghidupi dua anaknya yang masih bersekolah.
Pihak Sayap Hati juga berencana untuk membantu Pak Sun dalam menyiapkan usaha agar ia tidak perlu lagi melakukan perjalanan jauh untuk berjualan.
Baca Juga: Penjual Es Teh yang Diperolok Gus Miftah Kini Jadi Sorotan, Warganet Bantu Lewat Donasi
Hal ini diharapkan bisa meringankan beban hidup Pak Sun dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.
Kisah Pak Sun yang penuh perjuangan, ditambah dengan perhatian warganet yang datang untuk membantunya, menjadi bukti bahwa empati dan kepedulian masih sangat tinggi di masyarakat.
Sebelumnya, Kasus ucapan Gus Miftah yang terjadi saat dakwah di Magelang pada acara Magelang Bersholawat menuai kecaman luas dari warganet.
Dalam insiden tersebut, Gus Miftah yang sedang berdakwah terlihat bercanda dengan seorang penjual es teh yang sedang berdiri di tengah kerumunan jamaah.
Dalam video yang beredar, Gus Miftah menyebutkan, “Oh kon borong, es mu sik akeh? Yo kono di dol Gblk,” sambil tertawa lepas bersama orang-orang yang ada di atas panggung.
Baca Juga: Kasus Baru HIV/AIDS di Bali Menurun pada 2024, Dominasi Penularan dari Hubungan Seks Berisiko
Ucapan kasar tersebut langsung mendapat reaksi keras dari warganet yang menilai Gus Miftah telah merendahkan martabat pedagang kecil dan menggunakan bahasa yang tidak pantas.
Dalam video yang viral, tampak penjual es teh tersebut hanya bisa terdiam dan menghela napas, yang semakin memicu rasa iba dari masyarakat.
Editor : Wiwin Meliana