BALIEXPRESS.ID - Seorang peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di salah satu rumah sakit ternama di Bandung diduga terlibat dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak dari seorang pasien ICU.
Kasus ini pertama kali mencuat ke publik melalui unggahan Instagram drg. Mirza, yang mengungkapkan kronologi dugaan kejadian tak manusiawi tersebut.
Dalam keterangan tersebut, disebutkan bahwa korban adalah anak perempuan dari pasien laki-laki yang tengah menjalani perawatan intensif dan membutuhkan transfusi darah menjelang operasi.
Pelaku, yang merupakan peserta PPDS, menawarkan bantuan untuk mempercepat proses cross match darah dengan mengajak korban langsung ke Gedung MCHC lantai 7, area yang disebut masih kosong karena termasuk gedung baru.
Di lokasi itu, korban diminta mengenakan pakaian pasien dan dipasangi infus. Karena tidak memahami prosedur medis, korban mengikuti semua arahan pelaku tanpa curiga.
Tragisnya, korban kemudian disuntik dengan midazolam, obat penenang yang biasa digunakan dalam tindakan medis, hingga kehilangan kesadaran.
Dalam kondisi tidak sadar penuh, pelaku diduga melakukan tindakan kekerasan seksual. Kejadian ini diperkirakan terjadi sekitar tengah malam.
Menurut kesaksian, pelaku terlihat mondar-mandir di lorong lantai 7 hingga sekitar pukul 04.00 pagi, saat korban mulai siuman dan berjalan dalam kondisi sempoyongan.
Korban merasakan nyeri di tangan tempat infus, serta di area vitalnya.
Ia lalu menjalani pemeriksaan visum oleh dokter spesialis kandungan (SpOG), yang hasilnya menunjukkan adanya jejak sperma, baik di tubuh korban maupun tercecer di lantai lokasi kejadian.
Sebagai tindak lanjut, keesokan harinya pihak kepolisian langsung memasang garis polisi di area lantai 7 Gedung MCHC sebagai bagian dari proses penyelidikan. (*)
Editor : Nyoman Suarna