BALIEXPRESS.ID-Kasus bunuh diri (bundir) di Indonesia terjadi cukup tinggi.
Data kepolisian menyebutkan sebanyak 928 orang melakukan bunuh diri sejak Januari hingga Agustus 2024.
Baca Juga: Pria Asal Klaten Babak Belur Dihajar Massa karena Diduga Curi Helm Pendaki, Polisi Turun Tangan
Dokter DJaja Surya Atmadja, ahli forensik mengungkap bahwa yang melatarbelakangi orang untuk nekat mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.
Stress dan penyakit yang diderita menjadi faktor utama yang berpengaruh pada peningkatan kasus bunuh diri di Indonesia.
Lebih lanjut, dr Djaja mengungkap pernah menemukan kasus seorang remaja yang meninggal karena penyakit Hepatitis.
Baca Juga: Tusuk Gigi Jadi Alat Kejahatan, Komplotan Pembobol ATM Gasak Rp18 Juta
Namun saat akan diformalin, ternyata menemukan bekas jeratan tali di leher jenazah.
Rupanya saat ditanya kepada orang tua, ternyata sang anak bunuh diri karena penyakitnya tak kunjung sembuh.
“Itu adalah salah satu contoh, bahwa penyakit pun kalau dia stress dia bisa bunuh diri,” jelas dr Djaja dalam podcast X Undercover dikutip pada Kamis (10/04/2025).
Hal ini lantaran orang tersebut sudah mengetahui bahwa penyakit yang diderita tak mungkin disembuhkan.
Baca Juga: Layanan dan Fasilitas di Kawasan Pura Agung Besakih Siap Digunakan Pamedek
Lebih lanjut, dr Djaja mengungkap bahwa sebelum pandemic covid-19, orang banyak mengakhiri hidup dengan cara meminum racun insektisida.
Namun pasca pandemi tren bunuh diri mengalami perubahan dengan lebih banyak dilakukan menggunakan tali atau dengan cara gantung diri.
Hal ini diduga karena racun insektisida tidak mudah diperoleh dan harganya mahal.
“Satu lagi yang paling banyak dilakukan Frengky, dengan terjun dari ketinggian, tapi saya tidak menganjurkan hal itu,” ungkapnya.
Editor : Wiwin Meliana