Kejutan May Day di Monas! Presiden Prabowo Hadir di Tengah Aksi Buruh, Sinyal Kuat Dukungan?
I Putu Suyatra• Rabu, 30 April 2025 | 03:49 WIB
Prabowo Subianto
BALIEXPRESS.ID - Ada pemandangan tak biasa yang akan tersaji di Lapangan Monas pada 1 Mei 2025 mendatang! Ratusan ribu buruh yang akan turun dalam aksi damai memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day, dipastikan akan kedatangan tamu istimewa: Presiden Prabowo Subianto!
Kehadiran orang nomor satu di Indonesia ini sontak menimbulkan berbagai spekulasi dan harapan di kalangan pekerja.
Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, dengan antusias menyebut momen ini sebagai sejarah yang terulang.
"Ini adalah sejarah yang kedua. Terulang kembali seorang Presiden Republik Indonesia hadir langsung bersama buruh dalam perayaan May Day," ungkap Said Iqbal kepada awak media.
Ia bahkan menarik garis sejarah dengan menyebut Presiden pertama RI, Bung Karno, sebagai presiden pertama yang melakukan hal serupa pada 1 Mei 1965.
Lebih jauh, Said Iqbal bahkan mengisyaratkan bahwa kehadiran Presiden Prabowo di tengah perayaan May Day ini merupakan bentuk dukungan para buruh kepada sang presiden.
"Bapak Presiden Prabowo Subianto hadir pada May Day itu adalah sebuah bentuk bahwa beliau mau mendengar aspirasi," tuturnya, menambahkan bahwa momen ini juga sebagai wujud kebersamaan dan harapan kaum buruh terhadap kepemimpinan Prabowo.
Menyambut potensi keramaian di Monas, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Karyoto, mengimbau seluruh elemen buruh untuk menjaga momentum May Day ini dengan cara yang positif.
"Kita harus menjaga momentum May Day ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai terjadi gangguan keamanan yang bisa mencoreng citra perayaan ini," pesan Kapolda.
Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Nany Afrida, turut menyuarakan harapan agar seluruh rangkaian aksi berjalan damai dan tanpa provokasi.
Ia menegaskan bahwa May Day adalah momen krusial untuk menyampaikan aspirasi buruh, termasuk jurnalis, namun tetap dalam koridor tertib dan kondusif.
"Kita bersama kelompok buruh lainnya akan turun ke jalan seperti biasa, merayakan May Day dengan damai, aman, dan kondusif. Itu sudah menjadi tradisi. Harapan kita semua berjalan lancar, karena itu menjadi simbol bahwa suara buruh didengar, bukan hanya sekadar diakomodir secara simbolik saja," ujar Nany dengan nada optimis.
Senada dengan itu, Sekjen Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), Dedi Hardianto, memastikan bahwa aksi peringatan Hari Buruh Internasional akan tetap mengedepankan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa berbagai persoalan mendasar buruh, seperti upah yang belum layak, masalah jam kerja, hingga pelanggaran hak-hak pekerja, akan tetap disuarakan dengan lantang.
"Kami aksi damai, tetap kita harus damai, enggak boleh enggak. Kita ini kan perayaan, walaupun menyuarakan jam kerja bermasalah, upah bermasalah, hak-hak buruh bermasalah, kita tetap damai," kata Dedi dengan penuh semangat.
Bahkan, Dedi secara eksplisit menyatakan dukungan KSBSI terhadap kebijakan pemerintah Prabowo Subianto.
Ia berharap pemerintah ke depan dapat membuka ruang dialog yang lebih luas bagi kaum pekerja dalam proses pembuatan berbagai undang-undang yang berkaitan dengan nasib mereka.
Kehadiran Presiden Prabowo di tengah perayaan May Day ini jelas menjadi sorotan utama.
Apakah ini sinyal kuat dukungan pemerintah terhadap aspirasi buruh?
Atau sekadar gestur simbolis? Yang pasti, Monas pada 1 Mei mendatang akan menjadi panggung bersejarah yang penuh harapan dan aspirasi konstruktif dari para pekerja Indonesia. ***