Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Prabowo Setuju Marsinah Jadi Pahlawan Nasional? Siapa Sebenarnya Buruh Wanita yang Namanya Menggema di Hari Buruh Ini?

I Putu Suyatra • Jumat, 2 Mei 2025 | 01:47 WIB

Presiden Prabowo Subianto dukung usulan Marsinah dapat gelar Pahlawan Nasional dari kaum buruh di acara Hari Buruh Internasional tahun 2025 (Wikipedia)
Presiden Prabowo Subianto dukung usulan Marsinah dapat gelar Pahlawan Nasional dari kaum buruh di acara Hari Buruh Internasional tahun 2025 (Wikipedia)

BALIEXPRESS.ID - Peringatan Hari Buruh Internasional tahun 2025 di Lapangan Monas, Jakarta, Kamis (1/5/2025), diwarnai pernyataan mengejutkan dari Presiden Prabowo Subianto.

Di hadapan ribuan buruh, Prabowo menyatakan dukungannya terhadap usulan agar Marsinah, seorang buruh wanita yang tragis, mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.

Lantas, siapa sebenarnya Marsinah hingga namanya begitu kuat menjadi simbol perjuangan kaum buruh di Indonesia?

"Saya tanya, kalian ada saran enggak? Coba kalian berembuk, usulkan pahlawan dari kaum buruh," ujar Prabowo dalam pidatonya, mengungkapkan awal mula tercetusnya nama Marsinah.

Baca Juga: Polemik Literasi di Buleleng, Dewan Pendidikan Gandeng Akademisi Gelar FGD Cari Solusi

"Dan mereka sampaikan, 'Pak, bagaimana kalau Marsinah, Pak?' Marsinah jadi pahlawan nasional," lanjutnya, mengisyaratkan betapa kuatnya sosok Marsinah di mata para pemimpin serikat buruh.

Prabowo pun tak ragu menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh usulan tersebut, dengan satu syarat penting: adanya kesepakatan luas dari seluruh kalangan serikat buruh.

"Asal seluruh pimpinan buruh, mewakili kaum buruh, sepakat, saya akan mendukung Marsinah jadi pahlawan nasional," tegasnya, membuka babak baru dalam upaya mengenang dan menghargai perjuangan buruh di Indonesia.

Siapa Sebenarnya Marsinah, Simbol Perjuangan Buruh yang Dibungkam?

Marsinah bukanlah sekadar nama. Ia adalah potret buruh wanita gigih yang lahir di Nganjuk, Jawa Timur, pada 10 April 1969.

Bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik arloji di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Marsinah tumbuh menjadi sosok yang peduli dan vokal terhadap kesejahteraan rekan-rekan sekerjanya.

Sejak kecil, Marsinah telah merasakan kerasnya hidup.

Baca Juga: Bukan Sekadar Ibu Bupati! Intip Pesona Bunda Rai Tabanan: Ngayah Memukau, Bukti Cinta Budaya yang Menginspirasi!

Kehilangan ibunda di usia tiga tahun membuatnya diasuh oleh nenek dan pamannya di Desa Nglundo, Nganjuk.

Menginjak dewasa, pada tahun 1989, Marsinah merantau ke Surabaya demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Sempat bekerja di pabrik plastik dan berjualan nasi bungkus untuk menambah penghasilan, akhirnya ia berlabuh di PT CPS.

Di pabrik arloji inilah, Marsinah menunjukkan jiwa aktivisnya.

Ia aktif dalam organisasi buruh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) unit kerja PT CPS.

Suaranya lantang memperjuangkan hak-hak buruh, sebuah keberanian yang sayangnya harus dibayar mahal dengan nyawanya sendiri.

Baca Juga: Bukan Sekadar Ibu Bupati! Intip Pesona Bunda Rai Tabanan: Ngayah Memukau, Bukti Cinta Budaya yang Menginspirasi!

Dibungkam dengan Keji, Namanya Abadi dalam Perjuangan

Tragedi kemanusiaan itu terjadi pada 9 Mei 1993.

Jasad Marsinah ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sebuah gubuk di Dusun Jegong, Nganjuk, Jawa Timur.

Hasil forensik mengungkap bahwa Marsinah telah tewas sehari sebelumnya.

Kematiannya yang brutal langsung dikaitkan dengan sikap vokal Marsinah dalam memperjuangkan nasib buruh.

Sebelum ditemukan tewas, Marsinah memimpin unjuk rasa menuntut kenaikan upah dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 pada 4 Mei 1993.

Baca Juga: Drama di Jantung Ubud! Mobil Damkar Adu Banteng dengan Pajero Saat Hendak Selamatkan Piasan dari Kobaran Api!

Ketika negosiasi dengan perusahaan menemui jalan buntu, Marsinah dan rekan-rekannya mengambil langkah mogok kerja.

Namun, pada malam tanggal 5 Mei 1993, Marsinah diculik dan disiksa secara keji oleh lima orang yang diduga "algojo" PT CPS.

Setelah empat hari menghilang tanpa jejak, jasadnya ditemukan dengan luka-luka mengerikan, bahkan hasil visum menunjukkan adanya indikasi penyiksaan dan pemerkosaan sebelum pembunuhan.

Lebih mengerikan lagi, menurut dr. Abdul Mun’im Idries dari Instalasi Kedokteran Kehakiman (IKK) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, penyebab kematian Marsinah adalah tembakan senjata api.

Kematian Marsinah yang tidak wajar ini memicu gelombang protes keras dari para aktivis dan masyarakat luas, menuntut keadilan dan pengusutan tuntas para pelaku.

Sejak saat itu, nama Marsinah menjelma menjadi simbol abadi perjuangan bagi kaum buruh di Indonesia.

Baca Juga: Gandeng Timedoor Academy, J Trust Bank Fasilitasi Anak Yatim Piatu Belajar Coding di Karangasem

Keberaniannya, keteguhannya, dan tragisnya kematiannya terus membangkitkan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan terhadap hak-hak pekerja.

Kini, dengan dukungan terbuka dari Presiden Prabowo, harapan untuk mengukuhkan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional semakin membumbung tinggi. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#hari buruh #monas #Prabowo Subianto #marsinah #pahlawan nasional