BALIEXPRESS.ID - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 di Jawa Barat (Jabar) diwarnai gebrakan mengejutkan dari Gubernur baru, Dedi Mulyadi.
Bukan sekadar pidato dan upacara, Dedi langsung tancap gas dengan program pendidikan "ala militer" untuk anak-anak bermasalah, di hari pertamanya menjabat!
"Ini langkah nyata di tengah polemik pendidikan kita," tegas Dedi, Jumat (2/5), merujuk pada isu-isu seperti larangan study tour, wisuda mewah, dan perpisahan sekolah yang boros.
Ia menegaskan, Hardiknas kali ini bukan seremoni, melainkan titik balik.
Di tengah maraknya kasus tawuran remaja yang mencemaskan, Dedi mengambil langkah ekstrem: mengirim puluhan anak yang terlibat perkelahian dan "sulit dikendalikan" orang tua ke kompleks militer untuk menjalani pendidikan kedisiplinan ketat.
"Setiap hari saya tangani korban tawuran. Ada yang sampai habis puluhan juta untuk biaya rumah sakit. Ini tidak bisa dibiarkan," ungkap Dedi dengan nada serius.
Program ini, menurutnya, bukan hukuman, melainkan pembinaan karakter.
Anak-anak akan menjalani rutinitas disiplin: tidur pukul 8 malam, bangun pukul 4 pagi, salat Subuh, merapikan kamar, menyapu halaman, hingga olahraga sebelum belajar.
"Ini bukan penjara. Ini tempat mereka belajar hidup tertib dan bertanggung jawab. Seperti tentara," jelas Dedi.
Program yang telah berjalan di Purwakarta ini mendapat sambutan dari beberapa orang tua yang "menyerah" menangani anak-anak mereka.
Mereka dengan sukarela mengantar anak-anak mereka ke kompleks militer.
Barak Militer untuk Siswa Nakal, Solusi atau Masalah Baru?
"Kalau orang tua sudah menyerah, negara tidak boleh ikut lepas tangan," pungkas Dedi.
Langkah berani ini tentu menuai pro dan kontra. Namun, bagi Dedi Mulyadi, pendidikan bukan sekadar nilai akademis, melainkan pembentukan karakter.
Dan menurutnya, sekaranglah waktu yang tepat untuk bertindak. ***
Editor : I Putu Suyatra