Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Komnas HAM nilai Kirim Anak Nakal ke Barak Militer Langgar Hak Asasi, Dedi Mulyadi Tantang Adu Solusi

Wiwin Meliana • Kamis, 8 Mei 2025 | 19:40 WIB

Gagasan Dedi Mulyadi mengirim anak nakal ke Barak Militer tuai banyak kritikan
Gagasan Dedi Mulyadi mengirim anak nakal ke Barak Militer tuai banyak kritikan

BALIEXPRESS.ID-Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memulai implementasi program pendidikan kedisiplinan bagi siswa yang dianggap memiliki perilaku bermasalah.

Program ini dilakukan dengan mengirimkan siswa ke barak militer untuk mendapatkan pelatihan disiplin.

Baca Juga: Pemerintah Serius Hapus Outsourcing, Bentuk Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional

 Meski menuai dukungan dari sebagian masyarakat, kebijakan ini juga menimbulkan kritik, terutama dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Komisioner Komnas HAM, Anis Hidayah, menyampaikan keprihatinannya terhadap program tersebut.

Ia menilai bahwa penggunaan fasilitas militer untuk mendidik anak tidak memiliki dasar yang kuat dan berpotensi melanggar hak anak.

"Langkah untuk mengirim anak-anak yang dianggap bermasalah ke barak militer adalah kebijakan yang tidak berdasar kajian. Ini bisa berpotensi melanggar hak asasi karena bertentangan dengan prinsip pendidikan yang mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak," ujar Anis, Kamis (8/5/2025).

Baca Juga: Bali Bangun Sistem Terpadu Penanganan Stroke, Target Oktober 2025 Tak Ada Lagi Pasien Tak Tertolong karena Stroke

Anis juga menyoroti peran TNI dalam program ini. "Saya kira TNI tidak memiliki kapasitas maupun pengalaman untuk mendidik masyarakat kita, terutama dalam konteks pendidikan anak," jelasnya.

Menanggapi kritik tersebut, Gubernur Dedi Mulyadi menyatakan bahwa pendekatannya adalah bagian dari solusi alternatif yang perlu diuji.

Ia justru mengajak semua pihak, termasuk Komnas HAM dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), untuk ikut serta menangani anak-anak dengan pendekatan masing-masing.

“Daripada terus berpolemik, lebih baik kita tangani bersama-sama. Provinsi Jawa Barat bisa menangani 1.000 anak dengan metode ini. Komnas HAM dan KPAI juga bisa menangani berapa anak dengan metode mereka masing-masing,” ujar Dedi.

Baca Juga: Kisah Pilu dan Keajaiban di Balik Tragedi 11 Nyawa di Kalijambe: Selamat dari Maut karena Botol Minum, Ada Pengantin Baru yang Belum Genap Sebulan.

Ia menyatakan bahwa langkah tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bersama untuk menilai pendekatan mana yang paling efektif.

 “Nanti kita uji, mana metode yang paling sukses. Yang terbukti lebih baik, itulah yang bisa kita gunakan ke depannya,” tegasnya.

Saat ini, para siswa yang dikategorikan memiliki "perilaku khusus" telah mulai berdatangan ke barak-barak militer yang telah ditunjuk sebagai tempat pelatihan kedisiplinan. Program ini akan terus dikaji dan dipantau pelaksanaannya.

 

Editor : Wiwin Meliana
#barak militer #komnas ham #dedi mulyadi