BALIEXPRESS.ID-Di tengah tren perayaan kelulusan yang sering diwarnai pesta meriah, dua sekolah negeri di Surabaya justru memilih merayakan momen kelulusan dengan cara sederhana namun penuh makna.
SMK Negeri 1 dan SMA Negeri 2 Surabaya menunjukkan bahwa kebersamaan dan rasa syukur bisa dirayakan tanpa seremoni mewah.
Baca Juga: Marak Kasus Pengeroyokan Dilakukan Siswa SMK di Denpasar, Netizen Desak Proses Hukum untuk Efek Jera
Dalam unggahan akun Instagram @jawapos pada Kamis, 29 Mei 2025.
Di SMK Negeri 1 Surabaya, para siswa mengikuti prosesi pelepasan yang dikemas dalam bentuk upacara sederhana.
Tidak ada panggung megah atau hiburan berlebihan. Kepala SMKN 1, Anton Sujarwo, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut lebih menekankan pada rasa syukur dan kepedulian sosial.
“Seperti upacara biasa. Kalau syukuran, kami memberikan santunan kepada anak-anak yatim yang ada di sekitar sekolah,” ujar Anton.
Baca Juga: Diduga Langgar Aturan, Bangunan Hotel di Pesisir Bali Disorot Ni Luh Djelantik
Sementara itu, di SMA Negeri 2 Surabaya, suasana kebersamaan tampak hangat ketika siswa dan guru duduk lesehan bersama untuk menyantap tumpeng.
Kepala SMAN 2, Titik Hariani, mengatakan bahwa kebersamaan dan kesederhanaan menjadi simbol rasa syukur menjelang akhir masa pendidikan para siswa.
“Ini adalah lambang syukur dan kebersamaan. Kami ingin kelulusan dikenang dengan kesan yang membumi dan akrab,” tutur Titik.
Menariknya, suasana kelulusan juga turut dimeriahkan oleh kehadiran Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) Surabaya.
Dalam sepekan terakhir, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya menerima 7 hingga 14 permintaan dari sekolah—mulai dari tingkat SD hingga SMA—untuk turut serta dalam perayaan kelulusan dengan cara unik: menyemprotkan air di halaman sekolah.
“Pihak sekolah buat acara kelulusan dengan semprot-semprot air di halaman. Itu membuat anak-anak gembira,” ujar Kabid Pemadaman DPKP Surabaya, Wasis Sutikno.
Meski bukan termasuk penanganan darurat, pihak Damkar tetap melayani permintaan tersebut dengan syarat adanya retribusi sebesar Rp 375 ribu per jam untuk satu unit mobil.
Di balik keceriaan itu, kegiatan ini juga menjadi ajang edukasi, memperkenalkan kepada siswa peran dan tugas vital damkar dalam kehidupan masyarakat.
Editor : Wiwin Meliana