Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dedi Mulyadi Tegas Tolak Titipan di SPMB 2025, Warganet Desak Evaluasi Jalur Domisili dan Tes Prestasi

Putu Ayu Aprilia Aryani • Jumat, 20 Juni 2025 | 16:23 WIB

Dedi Mulyadi Tegas Tolak Titipan SPMB 2025
Dedi Mulyadi Tegas Tolak Titipan SPMB 2025

BALIEXPRESS.ID-Pasca pengumuman tahap pertama Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2025 di Jawa Barat pada Kamis, 19 Juni 2025, unggahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71, langsung dibanjiri komentar warganet.

Baca Juga: TEGAS! SPMB di Jabar, Dedi Mulyadi Jamin Tak Ada Siswa Titipan

Mayoritas tanggapan datang dari orang tua siswa yang menyampaikan aspirasi seputar sistem penerimaan murid yang saat ini berlaku, khususnya terkait jalur domisili dan uji tes prestasi.

Meskipun dalam unggahannya pada Kamis, 19 Juni 2025, Dedi Mulyadi telah menegaskan bahwa proses SPMB berjalan tertib, lancar, dan tanpa titipan, sebagian masyarakat berharap ada evaluasi lebih lanjut pada beberapa mekanisme teknis.

Salah satu warganet mengusulkan agar uji tes diberlakukan secara merata pada semua jalur penerimaan agar prinsip keadilan lebih terasa.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Ajak Didit Prabowo Lihat Sawah Lembur Pakuan, Tuai Pujian Netizen

"Trs tolong Pak sebagai bahan masukan...Berlakukan jg Tes Terstandar untuk semua jalur...Domisili, KETM, anak guru bisa sebebas itu melenggang masuk sekolah...sementara u/ tahap 2 jalur prestasi hrs mengikuti Tes Terstandar ....dimana prinsip keadilannya pak," ketik akun @riesameylani.

Masalah lain yang turut disorot adalah sistem zonasi domisili, yang menurut sejumlah warganet masih menimbulkan kendala teknis di lapangan.

"Pak @dedimulyadi71 mohon di bantu untuk domisili d hapuskan saja,, d daerah saya untuk k sekolah negeri itu apalagi SMP agak jauh,,, meskipun masih satu jalur sekolah negeri, Krena sistem domisili tidak masuk,,, meskipun pinter jd susah untuk masuk negeri," komentar akun @atoefar.

Ada pula yang menyoroti dugaan penyalahgunaan data domisili yang dinilai merugikan peserta yang sebenarnya lebih dekat secara jarak ke sekolah tujuan.

Baca Juga: KEREN! Miyu Dancer Cilik Asal Indonesia, Tampil di Ajang Bergengsi di Korea Selatan

"Pak punteun, ini sekarang masalah domisilinya pak. Kebanyakan yang diterima bukan domisili terdekat yang nyata. Banyak yang memalsukan namun diterima pak, mohon ditindaklanjuti kami yang nilainya di atas mereka dan jaraknya jauh lebih dekat malah ketendang sama yang curang pak," tulis akun @matchaa__aaa16.

Warganet lain juga mempertanyakan masa depan siswa dari wilayah yang jaraknya jauh dari sekolah negeri favorit.

"Pak @dedimulyadi71 spmb domisili itu hanya berguna buat yg rumahnya deket sama sekolah. Gimana yg rumahnya jauh apa nga ada harapan masuk negeri," tulis akun @askha_adnan.

Sebagian mengungkapkan kekecewaan karena jalur prestasi dinilai lebih rumit dari jalur lain, padahal siswa sudah memiliki pencapaian.

"Punya prestasi tp amat sangat dipersulit. Non akademik test literasi numerasi, uji bakat/kompetensi, 1 pilihan SMA... yg tahap 1 cuman daftar, input, tunggu hasil. Sedangkan kalo ikut domisili jaraknya 1,2km. Terjauh 360mtr. Mirissssss," komentar akun @ceu.santi.

Baca Juga: Momen Haru! Penyerahan Donasi untuk Yogi, Korban Kecelakaan di Sunset Road

Meski demikian, tak sedikit pula yang tetap mengapresiasi langkah Gubernur Dedi Mulyadi dalam menjaga integritas penerimaan siswa tanpa titipan, serta membuka ruang untuk mendengar masukan dari masyarakat.

Berbagai masukan dari warga ini menunjukkan adanya kepedulian publik terhadap sistem pendidikan yang lebih adil dan transparan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun diharapkan dapat terus melakukan evaluasi dan perbaikan untuk masa depan pendidikan yang lebih baik.

 

Editor : Wiwin Meliana
#domisili #dedi mulyadi #jabar #spmb