BALIEXPRESS.ID-Sebuah rumah pribadi yang digunakan untuk kegiatan pembinaan mental dan peribadatan umat Kristiani di Kampung Tangkil RT 4 RW 1, Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, diprotes sejumlah warga.
Peristiwa ini menjadi sorotan publik dan memicu perbincangan luas di media sosial.
Baca Juga: TRAGIS! Nyoman Budiasa Meninggal Dihantam Truk Molen, Warga Bali Galang Donasi
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya memberikan pernyataan resmi dan akan langsung turun ke lokasi untuk menindaklanjuti kasus ini.
"Ini peristiwa di Desa Tangkil Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi cukup menggemparkan. Dalam peristiwa itu tergambarkan seolah-olah ada perusakan rumah ibadah." ujar Dedi Mulyadi dalam unggahan video di akun Instagram resminya, seraya memperkenalkan sosok di sampingnya yang disebut sebagai saksi mata sekaligus kuasa dari pemilik rumah.
Baca Juga: AeroXSpace: Taman Bermain Indoor Terbesar di Bali, Destinasi Seru untuk Liburan Keluarga
Gubernur yang kerap disapa KDM itu kemudian mencoba meluruskan informasi yang beredar di masyarakat terkait status bangunan tersebut.
"Jadi rumah itu rumah apa Pak? Rumah ibadah atau pribadi?" tanya Dedi kepada narasumber yang mendampingi.
Menjawab pertanyaan itu, kuasa pemilik rumah menjelaskan bahwa bangunan yang dimaksud adalah rumah pribadi, yang selama ini digunakan sebagai tempat pembinaan mental bagi pelajar dari berbagai daerah.
"Atau retret ya kalau bahasanya, jadi buat saudara-saudara kita yang kurang beruntung," ujarnya menjelaskan fungsi rumah tersebut.
Dedi Mulyadi turut menegaskan bahwa rumah yang dipermasalahkan bukanlah gereja melainkan tempat retret yang berlokasi di kawasan desa dengan suasana sejuk dan tenang, sesuai dengan kebutuhan kegiatan pembinaan mental.
Lebih lanjut, Dedi menyatakan bahwa pemerintah provinsi akan mengambil langkah cepat dan menyeluruh untuk menyelesaikan permasalahan ini secara bijak.
"Kita akan bersama-sama menyelesaikan masalah itu secara komprehensif dari sisi sosialnya, dari sisi hukumnya. Kedua-duanya harus diselesaikan dengan baik, dan saya akan mendampingi Bapak ke Sukabumi hari ini," tegasnya.
Baca Juga: Empat Pendaki Tersesat di Gunung Batukaru Berhasil Dievakuasi, Tim SAR Ungkap Kondisinya
Dedi juga mengingatkan bahwa menjaga kerukunan adalah tanggung jawab pemerintah dan seluruh masyarakat.
"Jawa Barat harus tentram ayem," ucapnya penuh harap.
Menanggapi berbagai kritik di media sosial yang menyebut dirinya lambat bertindak, Dedi menjelaskan alasan keterlambatan responnya.
“Yth netizen yang budiman. Mohon maaf jika dianggap telat respon. Tapi sebenarnya bukan telat respon. Justru, saya membutuhkan informasi utuh untuk melakukan tindak lanjut, bukan sekadar bermodal postingan sosial media. Demikian, harap maklum dan hatur nuhun,” tulisnya dalam kolom komentar unggahan tersebut.
Respons Gubernur Dedi Mulyadi langsung disambut positif oleh para netizen yang menyoroti pentingnya perlindungan terhadap kebebasan beragama dan penegakan hukum.
“Terima kasih Pak KDM, oiya ibadah retret itu beda dengan ibadah di Gereja, dan gak perlu izin. Semoga ditindaklanjuti tindakan pengrusakannya, kalau bisa sih yang mainin salib dilaporin penistaan agama yeu.” tulis akun @kresten.selubung
Baca Juga: Kronologi Empat Pendaki Tersesat di Gunung Batukaru, Orang Tua Tak Bisa Hubungi Sang Anak
“Setujuuuuu Sekaliiiii 100%...TANGKAP Semua-nya...HUKUM TETAP BERLAKU.....Sehat terus KDM, Hatur Nuhun.” komentar akun @darmanianbulo
“SEOLAH-OLAH BAPAK BILANG!! INI UDAH KRIMINAL DAN ANARKIS PAK!! PENJARAKAN MEREKA SUPAYA ADA EFEK JERA!!” tulis akun @eka_tiarajuntak
Kejadian ini kembali menyoroti pentingnya toleransi antarumat beragama dan perlunya edukasi publik mengenai kegiatan keagamaan yang tidak harus selalu disalahartikan sebagai pelanggaran, terlebih jika dilakukan di rumah pribadi.
Editor : Wiwin Meliana