BALIEXPRESS.ID-Gelombang ekspresi generasi muda menjelang peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI kembali mendapat sorotan.
Kali ini, mural bergambar tokoh anime One Piece di Dukuh Ndayu, Desa Jurangjero, Kecamatan Karangmalang, Sragen, viral setelah terekam sedang dihapus di bawah pengawasan aparat TNI-Polri.
Baca Juga: Pasek Suardika: Ketimbang Ributkan Bendera One Piece, Lebih Baik Tuntaskan Blunder PPATK
Mural bergambar bajak laut legendaris Shirohige dari serial One Piece tersebut sebelumnya dibuat warga sebagai bentuk partisipasi kreatif dalam menyambut Hari Kemerdekaan.
Tujuannya sederhana menyampaikan semangat perjuangan dengan cara yang dekat dengan generasi muda, khususnya Gen Z yang tumbuh bersama budaya pop Jepang.
Namun, alih-alih mendapat apresiasi, mural itu justru dihapus.
Dalam video yang beredar di media sosial, tampak beberapa aparat TNI-Polri mengawasi proses penghapusan mural tersebut, meskipun secara teknis dilakukan oleh warga.
Baca Juga: Bela Ekspresi Warga, Pasek Suardika Siap Beri Pendampingan Hukum bagi Pengibar Bendera One Piece
Dalam video yang diunggah oleh akun @pojoksatuid, sejumlah warganet menyayangkan tindakan tersebut karena dinilai mengekang ekspresi warga yang sebenarnya tidak merusak atau mengandung unsur penghinaan terhadap simbol negara.
“Sama yang begini aja kayanya takut bene rya, padahal Cuma symbol ketidakpercayaan masyarakat ke pemerintah,” tulis akun @hidayat_t1010.
“One piece masih belum ditemukan tapi sudah bikin geger pemerintah, koq bisa ngurusi hal seperti ini,” tulis akun @mazzd_1905.
Penghapusan mural ini memperluas polemik seputar simbol bajak laut One Piece yang sebelumnya juga menuai pro dan kontra saat dikibarkan di sejumlah daerah.
Polda Bali bahkan sempat mengeluarkan imbauan agar masyarakat fokus mengibarkan bendera Merah Putih, meski juga menyatakan bahwa pengibaran simbol One Piece tidak menjadi masalah selama tidak melanggar hukum.
Baca Juga: Pasek Suardika Tanggapi Pengibaran Bendera One Piece: Jangan Dicap Pemberontak
Sementara itu, advokat sekaligus politisi Gede Pasek Suardika menilai reaksi aparat terhadap simbol anime seperti One Piece sebagai bentuk ketakutan yang berlebihan.
“Daripada takut sama simbol anime, lebih baik negara fokus pada isu yang lebih serius seperti blunder PPATK dan kasus korupsi. Mural atau bendera One Piece itu hanya ekspresi diam masyarakat,” ujar Pasek dalam pernyataan sebelumnya.
Editor : Wiwin Meliana