BALIEXPRESS.ID – Aksi demonstrasi besar-besaran di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang digelar Rabu (13/8), berujung ricuh.
Ribuan massa turun ke jalan menuntut mundurnya Bupati Pati, Sudewo, atas kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 250 persen yang dinilai menyengsarakan rakyat.
Baca Juga: Kenaikan PBB Tak Hanya di Pati, Ini 4 Daerah yang Juga Naikkan Pajak Bahkan Hingga 1000 Persen
Kericuhan dalam aksi tersebut menyebabkan puluhan orang mengalami luka-luka, baik dari pihak demonstran maupun aparat kepolisian.
Di tengah kekacauan itu, sempat tersiar kabar adanya korban meninggal dunia, meski kemudian ditepis oleh pihak kepolisian.
Namun, bukan hanya situasi ricuh yang menyita perhatian publik.
Pernyataan Bupati Sudewo saat dikonfirmasi soal kabar korban meninggal dunia justru memicu gelombang kecaman baru dari warganet dan masyarakat luas.
Baca Juga: Ketua DPRD Bangli Soroti Risiko Bau dari Pengangkutan Sampah Terjadwal, Usulkan Truk Bersekat
“Itu takdir, kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar Sudewo kepada awak media, menanggapi kabar adanya korban jiwa.
Dalam video singkat yang dibagikan oleh akun @pandemictalks, pernyataan Bupati Sudewo menuai ribuan kecaman.
Warganet menyebut ucapan Sudewo sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap keselamatan warga dan tidak mencerminkan empati sebagai seorang pemimpin.
Banyak yang menilai bahwa pernyataan itu dapat memperkeruh suasana di tengah ketegangan antara masyarakat dan pemerintah daerah.
“Tandai orangnya, tandai partainya, next pemilu udah tau harus apa,” tulis akun @lustigekind dikutip pada Jumat (15/08/2025).
“Gak ada empatinya ya Allah,” tulis akun @vadiningtyas.
Baca Juga: Kenaikan PBB Tak Hanya di Pati, di Kota Cirebon Kenaikan Hingga 1000 Persen
Sementara itu, pihak kepolisian melalui Kabid Humas Polda Jateng Kombes Artanto menegaskan bahwa hingga sore hari, hasil penyelidikan tidak menemukan adanya korban meninggal dunia dalam demonstrasi tersebut.
“Hasil penelusuran kami hingga sore ini, tidak ditemukan adanya korban meninggal dunia. Namun memang, ada banyak korban luka,” kata Artanto.
Dari data sementara, sekitar tujuh anggota Polri mengalami luka-luka, termasuk seorang perwira polisi yang diduga menjadi korban pemukulan massa. Selebihnya adalah warga sipil, yang banyak mengalami sesak napas akibat paparan gas air mata, serta luka fisik seperti lebam, robek kulit, dan luka kepala.
“Tindakan penembakan gas air mata dilakukan karena situasi sudah benar-benar tidak terkendali,” jelas Artanto.
Demo besar-besaran di Pati merupakan lanjutan dari penolakan masyarakat atas kenaikan PBB hingga 250 persen. Meskipun kebijakan tersebut telah dicabut dan Sudewo telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka, gelombang aksi tidak surut.
Para demonstran kini menuntut Sudewo mundur dari jabatan bupati, karena dinilai gagal menyerap aspirasi rakyat dan mengambil kebijakan yang tidak pro-warga.
Editor : Wiwin Meliana