Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cerita di Balik Teks Proklamasi Kemerdekaan RI! Disusun 2 Jam di Rumah Orang Jepang: Tak Hanya Soekarno dan Hatta, Ini Tokoh yang Jarang Disebut

Nyoman Suarna • Minggu, 17 Agustus 2025 | 18:07 WIB
Diorama proses perumusan naskah Proklamasi, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Kamis (14/8). Naskah Proklamasi disusun hanya dalam waktu 2 jam.
Diorama proses perumusan naskah Proklamasi, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Kamis (14/8). Naskah Proklamasi disusun hanya dalam waktu 2 jam.

BALIEXPRESS.ID – Tidak banyak yang tahu, teks Proklamasi Kemerdekaan RI ternyata disusun hanya dalam tempo kurang dari dua jam.

Proses bersejarah itu berlangsung di rumah Laksamana Tadashi Maeda, perwira tinggi Angkatan Laut Jepang, yang kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jakarta.

Menurut edukator museum, Aidil Fitra, momen lahirnya naskah proklamasi berjalan cepat dan penuh dinamika. Usai peristiwa Rengasdengklok, 16 Agustus 1945 malam, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Subardjo membutuhkan tempat aman untuk merumuskan teks proklamasi. Tadashi Maeda yang bersahabat dengan tokoh Indonesia pun meminjamkan rumahnya.

“Sekitar pukul 22.00 WIB, para tokoh bangsa berkumpul di rumah Maeda. Dari situlah naskah proklamasi mulai dirumuskan,” kata Aidil.

Meski rumahnya dijadikan lokasi penyusunan, Maeda memilih naik ke lantai dua dan tidak ikut campur. Di lantai dasar, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Subardjo bekerja keras menuliskan kalimat bersejarah yang kelak mengubah nasib bangsa.

Pada dini hari 17 Agustus 1945 pukul 02.00 WIB, teks proklamasi berhasil dirumuskan. Setelah mendapat persetujuan para tokoh, diputuskan bahwa hanya Soekarno dan Hatta yang menandatangani.

Naskah yang masih berupa tulisan tangan kemudian diketik oleh Sayuti Melik. Uniknya, mesin ketik itu bukan milik Maeda, melainkan pinjaman dari kantor militer Jerman di Gambir.

Asisten rumah tangga Maeda, Satsuki Mishima, yang mencarikannya karena mesin ketik Maeda tidak memiliki huruf latin. Dengan mesin itu, Sayuti Melik mengetik teks proklamasi sambil ditemani jurnalis BM Diah yang bahkan menyelamatkan kertas-kertas coretan salah ketik sebagai dokumen sejarah.

Proses perumusan dan pengetikan rampung sekitar pukul 04.00 WIB. Para tokoh kemudian disuguhi sahur oleh Maeda sebelum pulang. Esok paginya, 17 Agustus 1945, naskah proklamasi dikumandangkan di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Bangunan bergaya kolonial ini awalnya didirikan pada 1927 oleh arsitek Belanda Johan Frederik Lodewijk Blankenberg. Pernah digunakan Inggris, lalu ditempati Tadashi Maeda saat pendudukan Jepang.

Pasca perang, gedung ini sempat menjadi markas Tentara Inggris, lalu disewa Kedutaan Besar Inggris hingga 1981. Baru pada 1992, bangunan ini resmi ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto.

Kini, setiap ruang di lantai dasar ditata menyerupai suasana saat naskah proklamasi dirumuskan: mulai dari ruang pertemuan, perumusan, pengetikan, hingga pengesahan. Meski sebagian besar furnitur adalah replika, bangunan itu sendiri menjadi saksi bisu lahirnya kemerdekaan Indonesia. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#jerman #soekarno #maeda #Hatta #jepang #mesin ketik #kemerdekaan ri #sayuti melik #teks proklamasi