Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jejak Karier Ahmad Sahroni: Dari Tukang Semir Sepatu hingga Pengusaha Kaya Raya, Kini Dikecam Rakyat

Wiwin Meliana • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 16:01 WIB

Ahmad Sahroni kini dikecam rakyat imbas pernyataan kontroversial
Ahmad Sahroni kini dikecam rakyat imbas pernyataan kontroversial

BALIEXPRESS.ID– Sosok Ahmad Sahroni kembali menjadi perbincangan publik setelah Fraksi Partai NasDem resmi memindahkannya dari jabatan Wakil Ketua Komisi III DPR RI ke Komisi I.

 Keputusan mutasi itu diumumkan pada Jumat (29/8/2025), dan telah dikonfirmasi oleh Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Hermawi Taslim.

Baca Juga: Tiga Polisi Gadungan Tipu Warga, Raup Rp 20 Juta dengan Janji Bebaskan Tahanan

Hermawi menegaskan bahwa mutasi ini murni sebagai bagian dari rotasi dan penyegaran fraksi, bukan sanksi atas pernyataan Sahroni yang sebelumnya menuai kontroversi.

Namun, publik menilai bahwa langkah ini tak bisa dilepaskan dari tekanan opini yang muncul akibat ucapannya yang menyebut orang yang mendorong pembubaran DPR sebagai "mental orang tertolol sedunia".

Pernyataan itu disampaikan Sahroni saat kunjungan kerja ke Polda Sumatera Utara, Jumat (22/8/2025), dan langsung memicu gelombang kemarahan dari berbagai lapisan masyarakat. Bahkan unjuk rasa besar sempat pecah di depan Kompleks Parlemen dan sejumlah kota lainnya.

Ahmad Sahroni bukanlah sosok yang lahir dari elite politik atau keluarga kaya raya. Ia lahir di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada 8 Agustus 1977. Sejak kecil, ia harus bekerja keras untuk membantu ekonomi keluarga.

Baca Juga: Viral Video Rumah Disebut Milik Ahmad Sahroni Dibakar Massa, Begini Faktanya

Pekerjaan pertamanya adalah sebagai tukang semir sepatu. Tak hanya itu, ia juga pernah menjadi sopir antar jemput anak sekolah dan bekerja sebagai tukang cuci di kapal pesiar asing. Pengalamannya berlayar di kapal itulah yang membentuk mental tahan banting yang ia bawa hingga kini.

Di tengah kesibukannya, Sahroni tetap mengejar pendidikan. Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi dari STIE Pelita Bangsa (2009), kemudian melanjutkan ke jenjang Magister di Stikom InterStudi (2020), dan akhirnya meraih gelar doktor hukum dari Universitas Borobudur Jakarta pada 2024.

Setelah keluar dari kehidupan keras pelabuhan, Sahroni merintis bisnis di bidang pengangkutan bahan bakar minyak (BBM). Namanya mulai dikenal di kalangan bisnis sebagai Direktur Utama di sejumlah perusahaan logistik energi. Ia kemudian melebarkan sayap ke sektor properti dan otomotif.

Dikenal sebagai penggemar mobil mewah dan motorsport, Sahroni mendirikan Brotherhood Club Indonesia dan menjadi Presiden Ferrari Owners Club Indonesia (FOCI). Citra sebagai "crazy rich Tanjung Priok" pun melekat kuat dalam dirinya, menciptakan kontras tajam antara masa lalu dan masa kini.

Baca Juga: Penumpang Motor Tewas di Tempat, Kecelakaan Maut Akibat Pengendara Terpengaruh Alkohol

Ahmad Sahroni bergabung dengan Partai NasDem pada tahun 2013. Setahun kemudian, ia berhasil terpilih menjadi anggota DPR RI dari Dapil DKI Jakarta III. Di periode kedua (2019–2024), ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan.

Di dalam partainya, Sahroni merupakan sosok penting. Ia dipercaya oleh Ketua Umum NasDem, Surya Paloh, untuk menjabat sebagai Bendahara Umum DPP sejak 2019 hingga kini.

Namun, karier politiknya mulai goyah setelah pernyataannya tentang “mental tolol” yang dianggap merendahkan masyarakat dan memperburuk citra DPR di mata publik.

Tagar-tagar kecaman terhadap dirinya terus ramai di media sosial, diiringi unjuk rasa besar-besaran yang menuntut pertanggungjawabannya.

Mutasi dari Komisi III ke Komisi I menandai penurunan posisi strategis bagi Sahroni. Komisi III sebelumnya memberi pengaruh besar dalam isu-isu hukum dan keamanan nasional, sedangkan Komisi I lebih fokus pada urusan pertahanan, luar negeri, dan informasi.

Baca Juga: Kronologi Gedung DPRD Makassar Dibakar Massa saat Rapat Paripurna, Wali Kota Dievakuasi Naik Motor

Perpindahan ini dipandang oleh sejumlah pengamat sebagai bentuk pembelajaran politik bahwa posisi publik memerlukan kehati-hatian dalam berucap dan bertindak, tak peduli setinggi apa pun jejak kesuksesan seseorang di masa lalu.

 

Editor : Wiwin Meliana
#kaya raya #dikecam #ahmad sahroni #Jejak Karir #semir sepatu