BALIEXPRESS.ID— Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan kesedihan mendalam usai rumah pribadinya di kawasan Bintaro Sektor 3A, Tangerang Selatan, dijarah massa pada Minggu dini hari (31/8).
Rumah yang menyimpan banyak kenangan itu rusak parah dan beberapa barang pribadinya hilang.
Baca Juga: Tragis! Bocah 10 Tahun Tewas Terlindas Excavator, Operator Sempat Beri Peringatan
Penyerangan terjadi dalam dua gelombang, yaitu sekitar pukul 01.00 WIB dan 03.00 WIB.
Massa yang mengamuk dilaporkan merusak sejumlah bagian rumah yang terletak di Jalan Mandar dan membawa pergi sejumlah barang milik pribadi Sri Mulyani.
Ungkapan duka Sri Mulyani atas kejadian itu disampaikan melalui unggahan media sosialnya.
Ia mengunggah ulang sebuah tulisan dari jurnalis ekonomi senior, Metta Dharmasaputra, yang mengenang rumah tersebut sebagai tempat penuh sejarah dan memori panjang bersama Sri Mulyani.
Dalam tulisan Metta, ia mengenang bagaimana dirinya kerap diundang bertandang ke rumah itu bersama jurnalis lain pada era 1990-an.
Baca Juga: Isu Kabur Dibantah, Uya Kuya Justru Pamer Momen Sholat Bareng Jusuf Hamka
Rumah tersebut diketahui telah dimiliki Sri Mulyani sejak lama, bahkan sebelum dirinya bergabung dengan pemerintahan.
"Saat ia masih menjadi Kepala LPEM Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1998-2001) dan salah satu pengamat ekonomi terkemuka," tulis Metta dalam narasi yang dibagikan ulang oleh Sri Mulyani.
Menanggapi tulisan tersebut, Sri Mulyani menuliskan respons emosional yang menggambarkan keterpukulannya atas penjarahan yang menimpa rumah penuh kenangan itu.
“Menulis dengan pengetahuannya yang panjang, detail dan lengkap mengenai riwayat rumah saya yang menjadi korban penjarahan. Terima kasih, Metta,” tulis Sri Mulyani dalam unggahan tersebut dikutip pada Selasa (02/09/2025).
Lebih lanjut, Sri Mulyani juga menyinggung maraknya fitnah, disinformasi, dan kebencian yang beredar luas di ruang publik. Ia mengingatkan bahwa hal-hal tersebut sangat mudah memicu emosi dan perpecahan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Beruntun di Jember, Ayah-Anak Jadi Korban
“Terlalu banyak fitnah – disinformasi dan kebencian ditebarkan di ruang publik. Mudah menyulut emosi, kemarahan, kebencian, dan pecah belah,” ungkapnya.
Editor : Wiwin Meliana