BALIEXPRESS.ID-Kepergian tragis Argo Prasetyo (25), pemuda asal Desa Karang Rejo, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, masih menyisakan duka mendalam.
Argo ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan di Phnom Penh, Kamboja, diduga akibat menjadi korban penganiayaan di tempat kerjanya yang belakangan diketahui adalah kantor scam.
Baca Juga: SMIK Job Fair 2025, Gerbang Karier dan Panggung Kreativitas
Kini, jenazah Argo masih disimpan di ruang pendingin rumah sakit di Phnom Penh, sementara keluarga di Langkat terus berjuang agar putra sulung mereka bisa segera dipulangkan dan dimakamkan di kampung halaman.
“Kami sudah lapor ke semua pihak, tapi jawabannya masih disuruh menunggu. Harapan kami cuma satu, jenazah abang kami bisa segera dibawa pulang,” ujar sang adik, Ega Prasetya, dengan mata berkaca-kaca di rumah duka.
Di mata keluarga, Argo dikenal sebagai sosok pendiam, bertanggung jawab, dan sangat peduli terhadap adik-adiknya.
Sejak kehilangan sang ibu, ia menjadi pribadi yang lebih tertutup, namun tetap menjalankan peran sebagai kakak dengan penuh kasih.
Baca Juga: TRAGIS! WNI Ditemukan Meninggal di Kamboja, Berangkat Diam-Diam Hingga Terjebak di Kantor Scam
“Semenjak ibu meninggal, dia memang lebih pendiam. Tapi dia abang yang baik, selalu peduli sama kami,” tutur Ega lirih.
Argo juga diketahui memiliki riwayat penyakit jantung sejak kecil. Meski demikian, ia bertekad membantu perekonomian keluarga.
Sayangnya, keputusan Argo untuk berangkat diam-diam ke Kamboja secara nonprosedural justru berujung pada tragedi.
Kabar kematian Argo langsung mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Langkat. Kepala Dinas Tenaga Kerja Langkat, Rajanami Yun Sukatami, bersama tim, mendatangi kediaman keluarga korban untuk menyampaikan dukungan dan mencari solusi pemulangan jenazah.
“Walaupun Argo berangkat secara nonprosedural, pemerintah tetap berupaya membantu. Kami sudah koordinasi dengan BP2MI Medan, dan segera bersurat ke KBRI di Phnom Penh,” ujar Rajanami.
Namun, ia mengakui bahwa kendala utama terletak pada biaya pemulangan jenazah, karena anggaran daerah tidak tersedia untuk kebutuhan ini.
“Kami akan terus berkomunikasi dengan BP2MI dan pihak KBRI agar ada solusi terbaik,” tambahnya.
Rajanami juga mengimbau masyarakat Langkat agar tidak berangkat ke luar negeri secara ilegal. Ia menegaskan bahwa Dinas Tenaga Kerja telah menyiapkan jalur resmi dan perusahaan yang bertanggung jawab untuk penempatan tenaga kerja.
“Kalau mau kerja ke luar negeri, datang ke Dinas. Semua sudah ada jalurnya, supaya aman dan terlindungi,” tegasnya.
Sampai saat ini, keluarga Argo masih terus berkomunikasi dengan BP2MI dan KBRI. Mereka hanya memiliki satu harapan: agar jenazah sang kakak dapat segera tiba di tanah air, dan dimakamkan secara layak di tanah kelahirannya, Langkat.
Editor : Wiwin Meliana