Perketat SOP Makan Bergizi Gratis (MBG), Badan Gizi Nasional Jamin Keamanan Distribusi Nutrisi Anak
I Putu Suyatra• Jumat, 19 Desember 2025 | 13:14 WIB
Ilustrasi
BALIEXPRESS.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP) operasional layanan Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah strategis ini fokus pada penguatan keamanan armada distribusi melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) demi menjamin kualitas nutrisi sampai ke tangan peserta didik dengan aman.
Respons Cepat BGN Terhadap Dinamika Lapangan
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa pengetatan SOP ini merupakan hasil evaluasi internal dan masukan publik. Fokus utama pembaruan regulasi ini terletak pada pengecekan kendaraan rutin dan kualifikasi sopir cadangan.
"Mobil wajib dicek setiap waktu sebelum pengiriman. Kasus penggantian sopir di lapangan menjadi masukan penting bagi kami dan kepala SPPG untuk lebih cermat memilih sopir cadangan dengan kualifikasi yang setara," ujar Dadan.
Poin Utama Penguatan SOP Distribusi MBG:
Pengecekan Armada berkala: Memastikan kendaraan dalam kondisi prima sebelum mengantar makanan.
Standarisasi Sopir: Sopir cadangan harus melewati verifikasi kualifikasi yang ketat.
Manajemen Risiko: Meminimalisir celah kesalahan manusia dalam rantai distribusi.
Evaluasi Menyeluruh Rantai Layanan MBG
Tidak hanya soal kendaraan, BGN juga melakukan audit total terhadap seluruh proses. Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menegaskan bahwa evaluasi mencakup aspek teknis hingga administrasi.
"Kami berkomitmen melakukan evaluasi yang transparan. Seluruh aspek, mulai dari mekanisme penggantian kru hingga keamanan pengiriman, dipastikan berjalan maksimal tanpa kompromi," tegas Khairul.
Dukungan DPR RI: Keselamatan Anak Adalah Prioritas
Langkah BGN ini mendapat apresiasi dari legislatif. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menekankan bahwa program skala nasional seperti MBG membutuhkan pengawasan ekstra.
"Program sebesar ini tidak boleh berjalan tanpa jaminan keamanan maksimal bagi siswa. Manajemen risiko harus matang agar manfaat nutrisi tidak terganggu oleh masalah teknis di lapangan," ungkap legislator dari Dapil NTB II tersebut.
Penggunaan Teknologi untuk Pemantauan Distribusi
Ke depannya, Pemerintah berencana mengintegrasikan teknologi untuk meningkatkan akurasi pemantauan distribusi secara real-time. Dengan pengawasan yang lebih ketat, program strategis nasional ini diharapkan dapat memberikan dampak gizi yang optimal sekaligus menjamin keselamatan seluruh peserta didik di Indonesia. ***