Aksi OPM Ancam Keselamatan Warga, Aparat Didorong Pulihkan Keamanan di Jila

I Putu Suyatra • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 20:13 WIB
Penembakan di Papua. (ist)
Penembakan di Papua. (ist) 

BALIEXPRESS.ID – Dugaan aksi kekerasan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil. Dugaan penyanderaan terhadap sejumlah perempuan setelah kontak tembak dengan aparat keamanan menjadi perhatian serius dan mendorong perlunya langkah cepat untuk memastikan warga tetap terlindungi.

Peristiwa yang dilaporkan terjadi di Kampung Pasir Putih, Distrik Jila, Selasa (18/8/2026), disebut melibatkan 11 perempuan. Dua korban telah ditemukan, masing-masing dalam kondisi meninggal dunia dan mengalami luka serius. Sementara sembilan perempuan lainnya masih belum diketahui keberadaan dan kondisinya.

Salah satu korban dilaporkan meninggal dunia akibat luka tembak di bagian perut saat berupaya menyelamatkan anaknya. Korban lainnya mengalami patah kaki setelah diduga dilempar ke jurang. Warga kemudian melakukan evakuasi dan membawa korban selamat ke Kampung Pilikogom untuk mendapatkan pertolongan.

Kapolres Mimika AKBP Alredo A. Rumbiak membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai dugaan penyanderaan tersebut. Namun, kepolisian masih melakukan verifikasi untuk memastikan informasi dan kronologi kejadian.

“Saya cek dulu,” ujar Alredo A. Rumbiak.

Dandim 1710/Mimika Letkol Inf Jozanda juga membenarkan adanya informasi tersebut. Aparat keamanan masih memantau perkembangan situasi untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.

“Iya benar, nanti saya jelaskan karena masih mengikuti rapat,” tutur Jozanda.

Kontak Tembak Sebelumnya

Dugaan penyanderaan tersebut diduga berkaitan dengan kontak senjata yang terjadi sehari sebelumnya, Senin (17/8/2026), antara kelompok bersenjata yang dikaitkan dengan OPM dan prajurit TNI di sekitar Pos Koramil Jila Kodim 1710/Mimika serta Pos Satgas Pam Obvit Yonif 133.

Kontak tembak tersebut mengakibatkan tiga prajurit Satgas Yonif 133 menjadi korban. Satu prajurit dilaporkan gugur, sementara dua lainnya mengalami luka-luka.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan tingginya risiko keamanan yang masih dihadapi masyarakat di wilayah rawan konflik. Warga sipil semestinya tidak menjadi sasaran kekerasan, terlebih ketika konflik bersenjata menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Keselamatan Warga Jadi Prioritas

Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Kedaulatan Negara Lenis Kogoya sebelumnya mengecam aksi kekerasan yang menyasar masyarakat Papua. Ia meminta kelompok bersenjata menghentikan tindakan yang berpotensi mengancam keselamatan warga, termasuk perempuan dan anak-anak.

“Menghentikan segala bentuk aksi kekerasan, pembunuhan, dan penyiksaan terhadap sesama Orang Asli Papua (OAP) maupun warga sipil lainnya,” tegas Lenis Kogoya.

Menurut Lenis, masyarakat Papua membutuhkan kondisi yang aman agar dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa intimidasi maupun ancaman kekerasan. Karena itu, langkah aparat keamanan dalam melindungi masyarakat dinilai penting untuk mencegah gangguan keamanan semakin meluas.

“Masyarakat di wilayah La Pago, Mee Pago, dan sekitarnya untuk tetap tenang dan tidak panik menghadapi isu-isu keamanan yang beredar,” pungkas Lenis Kogoya.

Dukungan masyarakat terhadap upaya aparat dalam menjaga keamanan diharapkan dapat mempercepat pemulihan situasi di Distrik Jila. Pencarian terhadap sembilan perempuan yang hingga kini belum ditemukan juga perlu menjadi prioritas, dengan tetap mengedepankan keselamatan warga dan petugas di lapangan.

Upaya pemulihan keamanan di wilayah tersebut diharapkan mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat sekaligus mencegah terjadinya kembali aksi kekerasan yang dapat menimbulkan korban sipil.

(*)

Editor : I Putu Suyatra
kkb papua