Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tukad Pakerisan, Pusat Peradaban Bali Masa Silam

I Putu Suyatra • Sabtu, 31 Maret 2018 | 21:32 WIB
Tukad Pakerisan, Pusat Peradaban Bali Masa Silam
Tukad Pakerisan, Pusat Peradaban Bali Masa Silam

BALI EXPRESS, GIANYAR - Gianyar yang terkenal akan produk seni dan budayanya, ternyata juga sebagai daerah dengan bukti sejarah peradaban terbanyak di masa lampau. Mau objek  dan pengalaman lebih spesifik lagi?  Coba saja susuri kawasan sepanjang Tukad Pakerisan.


Bukti sejarah tersebut, dapat dilihat dari banyaknya pura yang sampai saat ini masih menyimpan artefak serta prasasti dari berabad – abad silam. Jejak peradaban masa lalu itu, salah satunya  bisa dilihat di kawasan Tukad Pakerisan  yang membentang dari utara kabupaten Gianyar hingga ke selatan.
Sepanjang jalur sungai,  banyak ditemukan situs serta artefak yang menggambarkan Bali di masa lampau. Dari prasasti – prasasti tersebut, diketahui  bahwa Tukad Pakerisan merupakan pusat peradaban masyarakat Bali ketika itu, sehingga pusat pemerintahan pun dipilih berlokasi di kawasan Tukad Perkerisan.



Selain itu, banyaknya Pura  Dang Kayangan yang ada di sekitar sungai, juga menjadi saksi, bahwa kegiatan keagamaan serta budaya telah dimulai, bahkan sebelum Gajah Mada menginjakkan kakinya di tanah Dewata.



Selain artefak dan prasasti, di sepanjang Tukad Pakerisan dan Tukad Petanu juga banyak ditemukan situs dan candi dari peradaban masa lalu. Misalnya saja Candi Tebing Gunung Kawi, Tirta Empul, Pura Mangening, dan Goa Garba. Uniknya, di Tukad Pakerisan terdapat tiga undakan bersusun yang masing – masing warna  airnya berbeda. Pada undakan pertama, air yang keluar terlihat lebih jernih dan bersih. Masyarakat sekitar menyebut air tersebut sebagai 'tirta'. Air yang keluar di undakan pertama itu, biasa digunakan masyarakat sekitar untuk melakukan upakara yadnya dan upakara lainnya. Dari undakan kedua keluar air yang hampir sama jernihnya, namun tak sebening aliran air di undakan pertama. Masyarakat biasa menyebutnya 'toya'.



Toya umumnya digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat sehari – hari, s seperti mandi, mencuci, memasak, dan kegunaan lainnya. Sedangkan dalam aliran air di undakan ketiga, air yang keluar terlihat cukup keruh. Masyarakat sekitar menyebut air ini sebagai 'yeh'. Yeh, umumnya dipergunakan sebagai pengairan sawah, memandikan ternak , dan aktivitas kotor lainnya.
Pemaparan itu disampaikan Pengamat Budaya, I Gede Arya Danu Palguna kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan lalu di Gianyar.



Menurutnya, peran penting Tukad Pakerisan saat itu dinilai sangat wajar. Pasalnya, air merupakan kebutuhan yang vital dan menjadi rebutan ketika itu. “Air dirasa sangat vital untuk kehidupan. Jika tidak makan seharian masih tidak apa – apa kan, tapi jika tidak minum, pasti akan terasa sangat berat. Makanya, tidak heran, air ketika itu bisa menjadi sengketa antara kerajaan satu dengan lainnya,” papar Palguna.



Di sisi lain, lanjutnya, ditemukannya 108 mata air yang tersebar di sepanjang aliran sungai merupakan berkah dan kekayaan sejarah yang harus dijaga. “Mungkin karena kurangnya perhatian dari pemerintah, mata air serta artefak yang banyak tersebar di sepanjang aliran sungai, kini hanya dirawat secara swadya. Padahal, jika dikelola dengan baik, bisa jadi potensi pariwisata dan objek spiritual yang sangat menarik,” ungkapnya.



Tukad Pakerisan yang membentang dari Alas Jaga Sari hingga Tirta Selukad, memang terdapat  mata air  dari hulu ke hilir. Mata air yang berbentuk pancoran tersebut, di antaranya ada di dalam pura yang berlokasi di sepanjang aliran sungai. Seperti terlihat di Pura Tirta Empul, Pura Mengening, Pura Gunung Kawi  dan Goa Garba. Masing – masing pura memiliki sejumlah mata air dengan khasiat yang berbeda – beda.  “Masing – masing mata air memiliki khasiat yang berbeda. Ada untuk pengobatan, sakit secara sekala ataupun niskala. Ada juga yang digunakan untuk melebur mala, seperti yang ada di Pura Tirta Empul. Salah satu mata air juga berkhasiat agar pasutri segera diberkati memiliki keturunan, bahkan ada juga yang diyakini untuk memperlancar rezeki,” papar Palguna. Palguna




sangat menyayangkan, minimnya perhatian pemerintah akan keberadaan mata air dan situs cagar budaya tersebut. “Kami masing – masing bendesa adat, masih merawat mata air serta pura dan candi purba itu dengan swadaya. Seberapa kami mampu, segitu kami berusaha menjaganya,” tandasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#gianyar