Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Demi Totalitas, Pementasan Gambuh Libatkan Hampir 300 Orang

I Putu Suyatra • Jumat, 5 Juli 2019 | 19:14 WIB
Demi Totalitas, Pementasan Gambuh Libatkan Hampir 300 Orang
Demi Totalitas, Pementasan Gambuh Libatkan Hampir 300 Orang


BALI EXPRESS, DENPASAR – Sanggar Tedung Agung berusaha tampil total saat menyuguhkan pementasan gambuh berjudul “Gugurnya Prabu Lasem” di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41, kemarin (4/7). Tidak tanggung-tanggung, hampir tiga ratus seniman, baik penari maupun penabuh dilibatkan dalam pementasan yang berlangsung di Kalangan Ratna Kanda tersebut.


Bukan tanpa sebab, sanggar yang memusatkan kegiatannya di Puri Saren Agung Ubud, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar ini memang ingin memberi nuansa yang beda dalam pementasan mereka.


Nuansa itu dengan ditampilkannya ritual upacara keagamaan sebagai salah satu fragmen cerita. Terlebih, dramatari gambuh selama ini dipentaskan secara terbatas. Hanya pada saat berlangsungnya upacara tertentu di pura atau puri. “Kalau normalnya, jumlah pemain sekitar 75 orang. Tapi kami ingin mengisi acara PKB ini dengan nuansa yang berbeda. Dengan adanya ritual upacara. Jadi perlu personil untuk itu,” jelas Cok Bagus Astika, Ketua Sanggar Tedung Agung, di sela-sela pementasan.


Selain ingin tampil total dan memberikan yang terbaik, sanggar ini juga berusaha menampilkan kesenian gambuh sebagai bahan pembelajaran. Khususnya terkait dengan proses pelestarian. Kuncinya ada pada regenerasi. Sehingga dalam pementasan kemarin, tidak sedikit pemain gambuh yang dikerahkan berusia muda.


Bagi Cok Bagus, proses regenerasi ini memang tidak mudah. Mengingat gambuh merupakan kesenian dramatari klasik yang komplit. Karena dramatari ini terdiri dari berbagai unsur. Meskipun dominasi seni tari terlihat dominan, gambuh juga memiliki unsur teater hingga musik.


Belum lagi, pada tokoh-tokoh utamanya, dialognya harus memakai bahasa Jawa Kuno atau Kawi. Dan itu kemudian diterjemahkan oleh para pemeran punakawan.


“Memang kalau mau membentuk suatu generasi penerus ada kesulitan. Terutama di dialognya. Karena harus menggunakan bahasa Jawa Kuno atau Kawi,” ujarnya.


Kendati begitu, antusiasme generasi muda terhadap kelestarian gambuh yang dibina sanggar cukup tinggi. Bahkan, beberapa pemain mempelajari bahasa tersebut secara mandiri dengan cara mencari para tetua yang memahami penggunaan bahasa tersebut. “Ada yang dengan cara menonton atau bertemu dengan tetua-tetua yang paham dengan bahasa Kawi,” imbuhnya.


Menurutnya, proses inipun kian dimudahkan dengan adanya Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang memiliki misi pelestarian gambuh. Serta memasukkan unsur pembarian, namun tetap berpijak pada pakem yang sudah ada.


Gambuh sendiri, sambung dia, memiliki ciri yang berbeda dengan dramatari Bali lainnya semisal Arja. Dari sisi tari, gambuh sangat mengedepankan ekspresi pemainnya. Selain itu, dari sisi sumber cerita, gambuh mengangkat cerita Panji yang berasal dari dataran Jawa. Sementara Arja, umumnya mengambil cerita yang bersumber dari babad.


Dalam pementasan kemarin, Sanggar Tedung Agung menyajikan cerita mengenai Gugurnya Prabu Lasem. Cerita tersebut diawali dengan romantika cinta antara Prabu Wiranantaja (Panji) dengan Dyah Rangkesari.


Kisah cinta mereka berdua rupanya terusik dengan kehadiran Prabu Lasem yang tiba-tiba ingin meminang Dyah Rangkesari. Pinangan itu juga yang membuat Dyah Rangkesari menjadi gundah.


Kegundahan Dyah Rangkesari itu kemudian disampaikan kepada pasangannya, Prabu Wiranantaja. Dan Prabu Wiranantaja memberikan solusi. Agar Dyah Rangkesari pura-pura menerima pinangan tersebut dengan satu syarat. Yakni, Prabu Lasem harus mengalahkan musuh dari kerajaan Dyah Rangkesari.


Singkat cerita, syarat itupun disampaikan kepada Prabu Lasem. Karena hasrat ingin memiliki Dyah Rangkesari, Prabu Lasem menyanggupinya. Tapi celaka, saat akan menggempur musuh kerajaan Dyah Rangkesari, Prabu Lasem mendapatkan persitiwa tidak mengenakkan.


Seekor gagak tiba-tiba jatuh di hadapannya dan memuntahkan darah. Peristiwa itu sejatinya peringatan, sekaligus pertanda buruk bagi Prabu Lasem. Tapi, karena sudah mabuk kepayang pada sosok Dyah Rangkesari, Prabu Lasem tak menghiraukan firasat buruk tersebut. Akibatnya, saat pertempuran terjadi, Prabu Lasem gugur.

Editor : I Putu Suyatra
#tari bali #pkb