SANUR, BALI EXPRESS - Rujak Kuah Pindang, Tipat Cantok, Tipat Plecing, dan Es Daluman dalam industri kuliner di Bali, menjadi menu yang selalu dicari. Bahkan, makanan tradisional ini, tidak pernah lekang digerus zaman.
Pelaku industri kuliner di Bali berlomba-lomba menyediakan menu masakan tradisional khas Bali untuk memenuhi permintaan, seperti yang dilakukan Warung Men Gege Sanur.
Warung yang beralamat di Jalan Danau Beratan No 49 Sanur, Denpasar, Bali, ini, menjadi salah satu destinasi kuliner di Denpasar yang menyediakan menu makanan tradisional dengan tampilan berbeda.
Ade, salah seorang pengunjung Warung Men Gege mengatakan, warung Men Gege menjadi salah satu warung yang menyediakan menu masakan tradisional Bali dengan konsep yang unik. "Penyajian makanan di warung ini masih menggunakan piring kaleng seperti warung-warung zaman dahulu," jelasnya.
Selain itu, menu yang disajikan sangat beragam. Jenisnya tidak saja menu tradisional khas Denpasar, namun ada juga menu tradisional yang berasal dari luar Kota Denpasar, seperti Blayag yang jadi khas Buleleng.
Blayag yang disajikan cukup unik, karena menggunakan base genep (bumbu lengkap khas Bali) yang dipadukan dengan kuah pindang (kaldu ikan) sebagai kuahnya. "Ada sensasi rasa gurih dan pedas yang hangat ketika disantap dengan campuran sayur urab," ungkapnya.
Menu lain yang bisa dikatakan tidak bisa dinikmati di warung lain adalah Kerupuk Beton Bumbu Plecing. Menu ini adalah salah satu camilan favorit di Men Gege. Camilan yang menggunakan keripik tepung sebagai bahan utama, rasanya gurih dipadukan dengan bumbu plecing yng sedikit pedas.
Jika ingin lebih pedas dari bumbu normalnya, pengunjung bisa meminta kepada staf Warung Men Gege untuk menggunakan bumbu yang lebih pedas, sesuai dengan selera.
Menu lainnya adalah Lontong, Es Cendol, Es Daluman, beragam pilihan rujak, dan Es Salju sebagai dessert. Selain Rujak Kuah Pindang yang sudah menjadi legenda rujak di Kota Denpasar, Warung Men Gege menyediakan juga pilihan menu rujak lain yang patut dicoba. Salah satunya adalah Rujak Cuka.
Rujak Cuka di Warung Men Gege menggunakan campuran cuka makan untuk bumbu rujaknya. "Yang istimewa di warung ini menggunakan cuka organik, bukan cuka sintesis yang dijual di dalam kemasan," ungkap Ika, pelanggan Warung Men Gege asal Padangsambian.
Karena menggunakan cuka organik, maka rasa asam rujak cuka di Warung Men Gege cukup ramah di perut. Selain itu, bumbu rujak cuka yang digunakapun sangat beragam, sehingga perpaduan antara rasa asam, manis dan gurih sangat pas.
Di Warung Men Gege juga terdapat banyak menu unik, seperti Mie Samyang (mie instan pedas asal Korea), yang menjadi menu favorit kawula muda di Denpasar. Untuk menu Samyang ini, Warung Men Gege menyajikan jenis menu ini dengan beberapa bahan tambahan, sepeti telur, sayuran, dan irisan rumput laut. "Makanan yang disajikan di Warung Men Gege tidak menggunakan penyedap MSG.
Kami tambahkan beberapa bahan alami, seperti terasi udang dengan kualitas super, dan kuah pindang yang dimasak dengan sedikit rempah, sehingga tidak memerlukan tambahan penyedap MSG," papar
Ayu, staf Warung Men Gege kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.
Selain tanpa MSG, buah yang digunakan adalah buah segar yang sesuai dengan musimnya. Sehingga, jenis rujak yang disajikan sangat beragam. Seperti saat ini buah juwet atau jamblang sedang musim, maka warung ini menyediakan rujak juwet dan jenis buah lainnya yang sedang musim.
Dilanjutkan Ayu, Warung Men Gege mulai ramai saat makan siang dan sore hingga malam. "Tidak bisa dipastikan, namun jam makan siang biasanya pasti ramai dan kebanyakan menikmati lontong atau blayag," pungkasnya.