BALIEXPRESS.ID - Sebuah tragedi memilukan mengguncang Dusun Sidorame, Desa Sidorejo, Kecamatan Krian.
Imam Susilo, 35, ditangkap oleh Unit Resmob Satreskrim Polresta Sidoarjo setelah tega menghabisi nyawa istrinya, Unik Margareta, 33, di pekarangan belakang rumah orang tua korban.
Motif pembunuhan yang didasari kecemburuan ini mengejutkan banyak pihak.
Menurut pengakuan pelaku, rasa cemburu memuncak setelah ia melihat chat WhatsApp (WA) milik sang istri yang berisi percakapan mesra dengan pria lain.
Imam yang sudah lama curiga merasa hancur karena istrinya tidak menunjukkan itikad untuk memperbaiki hubungan.
Emosi tak terbendung membuatnya kehilangan akal hingga berujung pada tindakan sadis.
Dalam konferensi pers di Mako Polresta Sidoarjo, Jumat (1/11), Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Christian Tobing mengungkap kronologi peristiwa ini.
Pada Minggu (27/10), Imam dan istrinya tengah berada di sebuah warung bakso di Kecamatan Wates, Kediri, dekat tempat kerja korban.
Saat itulah Imam memergoki chat WA istrinya dan langsung merebut ponsel tersebut.
Terjadi pertengkaran hebat, hingga korban memilih meninggalkan Imam dan pulang ke rumah orang tuanya di Krian.
Tak terima, Imam menyusul ke Krian pada Senin (28/10) dan menemui korban bersama keluarganya.
Emosi Imam semakin memuncak ketika upayanya untuk berdamai dan mendekati korban justru ditolak mentah-mentah.
Situasi semakin panas saat Imam mengajak istrinya berhubungan, namun korban menunjukkan sikap dingin yang membuatnya semakin yakin akan perselingkuhan tersebut.
Puncak kekerasan terjadi pada Selasa (29/10), setelah ajakan Imam untuk pindah ke Tulungagung dan berjualan es juga ditolak oleh korban.
Penolakan ini, ditambah perkataan korban yang menyakitkan hati, semakin menguatkan keyakinan Imam bahwa sang istri telah berselingkuh.
Dengan penuh emosi, Imam akhirnya menyerang Unik menggunakan bambu sepanjang 1,2 meter, hingga merenggut nyawa korban.
Usai kejadian, Imam melarikan diri ke Tulungagung namun berhasil ditangkap.
Polisi menyita sejumlah barang bukti di lokasi kejadian, antara lain satu batang bambu panjang, satu kantong plastik hitam, sepasang sandal jepit milik korban, serta pakaian korban.
Kini, Imam harus menghadapi konsekuensi dari perbuatannya dalam proses hukum yang sedang berjalan.
Tragedi ini menyisakan duka dan pertanyaan mendalam tentang dampak dari kecemburuan yang berujung pada kekerasan. ***
Editor : I Putu Suyatra