BALIEXPRESS.ID - Gunung Bromo yang terletak di Jawa Timur adalah salah satu ikon wisata yang memikat perhatian dunia dengan pemandangan indahnya.
Nama "Bromo" sendiri diambil dari Dewa Brama, dewa pencipta dalam agama Hindu.
Daya tarik Gunung Bromo telah dikenal hingga mancanegara, menarik perhatian banyak wisatawan sejak abad ke-19.
Tangga menuju kawah Gunung Bromo menjadi bagian penting dari daya tarik wisata ini.
Tangga menuju kawah Gunung Bromo memiliki sejarah panjang yang bermula dari perjalanan saudagar dan bangsawan Eropa yang tertarik akan keindahan Bromo.
Sejarah pembangunan akses menuju Gunung Bromo bermula pada tahun 1870, ketika keluarga Morbeck, seorang saudagar kaya, mulai merintis jalur menuju lokasi ini.
Keluarga Morbeck yang kaya raya memiliki Hotel Morbeck di Pasuruan, yang menjadi salah satu akomodasi favorit bagi para wisatawan internasional.
Di samping mengelola hotel, Morbeck dikenal sebagai agen pengiriman produk gula dan penyedia layanan wisata, menawarkan akomodasi dan transportasi menuju Gunung Bromo.
Kontribusi Morbeck dalam mengenalkan wisata Gunung Bromo ke Inggris dan Amerika menjadikannya pionir di dunia pariwisata Bromo.
Bahkan, pada tahun 1896, Raja Siam (sekarang Thailand) Chulalongkorn atau King Rama V mengunjungi Bromo menggunakan kendaraan beroda, sebuah perjalanan yang cukup langka saat itu.
Pengalaman mendaki hingga ke puncak kawah Gunung Bromo tidaklah lengkap tanpa menuruni lautan pasir dan mendaki anak tangga menuju kawah.
Bagi masyarakat Tengger, lautan pasir serta kawah Bromo memiliki makna sakral.
Untuk mencapai kawah, pengunjung harus melewati ratusan anak tangga, yang jumlah pastinya sering kali dikatakan misterius, bervariasi antara 240 hingga 260.
Awalnya, anak tangga menuju kawah hanya terbuat dari bambu. Namun, pada tahun 1910, Morbeck membangun tangga beton untuk pertama kalinya.
Pembangunan tangga beton ini didedikasikan untuk menyambut Z.H. Johann Albrecht Hertog van Mecklenburg, seorang bangsawan asal Mecklenburg.
Prasasti yang terletak di awal tangga berbunyi, “Bromo-Trap gebouwd in Maart 1910 Voor het eerst berstegen door Z.H. Johann Albrecht Hertog van Mecklenburg”, yang berarti “Tangga Bromo dibangun pada Maret 1910 untuk pertama kalinya didaki oleh Z.H. Johann Albrecht Duke of Mecklenburg.”
Z.H. Johann Albrecht merupakan anak keenam Adipati Friedrich Franz II dari Mecklenburg.
Setelah kematian kakaknya, ia menjabat sebagai wali adipati Mecklenburg-Schwerin pada tahun 1897 hingga 1901, lalu menjadi wali adipati Braunschweig dari 1907 hingga 1913. Selama hidupnya, Johann Albrecht menikah dua kali namun tidak memiliki keturunan.
Editor : Nyoman Suarna