BALIEXPRESS.ID - Baru-baru ini beredar sebuah gambar yang menyebutkan akan terjadi gempa berkekuatan 8,6 SR di Surabaya pada 22 November.
Informasi ini menuai perhatian, karena mengklaim bahwa gempa besar akan melanda Surabaya dengan kekuatan dahsyat.
Namun, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, membantah keras klaim tersebut.
Menurutnya, hingga kini belum ada teknologi atau metode ilmiah yang mampu memprediksi waktu dan kekuatan gempa secara akurat.
Ia meminta masyarakat untuk mengabaikan isu-isu prediksi gempa yang tidak didukung sumber kredibel.
“Informasi itu tidak benar, itu bohong,” tegas Daryono, Selasa, 12 November.
Ia menjelaskan bahwa gambar yang beredar hanya manipulasi yang menampilkan titik merah pada peta seolah menunjukkan pusat gempa di wilayah utara Jawa Timur.
Setelah ditelusuri, gambar tersebut sebenarnya adalah tangkapan layar dari aplikasi BMKG yang menampilkan peta gempa pada 22 Maret 2024, di timur laut Tuban, Jawa Timur.
Pada saat itu, gempa berkekuatan 6,0 SR memang terasa di beberapa wilayah, seperti Surabaya, Sidoarjo, Madiun, dan Malang, dengan skala MMI antara II-III.
Gambar ini sebelumnya juga diunggah oleh Antara Jatim pada Maret 2024 untuk berita gempa di wilayah tersebut.
Namun, dalam gambar yang dimanipulasi, terlihat tambahan tulisan "GMKG 8.6 SR" yang bukan standar BMKG.
Hal ini menambah kejanggalan pada klaim tersebut.
BMKG kembali mengingatkan masyarakat untuk selalu merujuk pada informasi dari lembaga resmi seperti BMKG agar tidak termakan isu yang tidak benar terkait gempa bumi. (*)
Editor : Nyoman Suarna