BALIEXPRESS.ID - Kasus pelecehan seksual sesama jenis yang melibatkan seorang dosen berinisial RL di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), semakin mengejutkan publik.
Hingga saat ini, 22 mahasiswa dan alumni telah melaporkan tindakan bejat RL kepada pihak kepolisian.
Dosen yang diketahui mengajar di satu perguruan tinggi negeri dan dua kampus swasta ini menggunakan berbagai modus manipulatif untuk melancarkan aksinya.
Salah satu modus paling mencengangkan adalah “zikir zakar,” yang disebut-sebut sebagai kombinasi antara kajian ilmiah dan praktik spiritual.
Kasus ini terungkap setelah salah satu korban berani melapor ke Polda NTB, diikuti oleh korban-korban lainnya.
Sabri, pendamping korban dari LSM Sasaka Nusantara, menjelaskan bahwa RL memanfaatkan pendekatan pseudo-spiritual untuk mendekati para korban, sering kali melalui diskusi ilmiah atau ajakan ritual.
RL memanfaatkan konsep manipulatif yang disebutnya “zikir zakar.”
Dalam modus ini, ia menyatakan bahwa alat kelamin (zakar) adalah bagian vital untuk mengingat Tuhan.
Dengan dalih ini, RL melakukan pelecehan seksual dengan cara memegang kemaluan korban sambil berzikir.
“Korban awalnya tidak curiga karena pelaku mendekati mereka melalui komunitas atau organisasi. Banyak yang merasa ini adalah praktik spiritual hingga akhirnya sadar telah menjadi korban,” ungkap Sabri pada Kamis, 2 Januari 2025.
Tidak hanya itu, RL juga menawarkan “ritual mandi suci” sebagai cara untuk membersihkan dosa, yang kemudian digunakan untuk melakukan pelecehan lebih lanjut.
Sabri menambahkan bahwa keberanian satu korban untuk melapor memicu korban-korban lain untuk speak up.
Sebelumnya, banyak korban memilih diam karena merasa malu atau menganggap kejadian tersebut sebagai aib.
“Setelah satu korban berani buka suara, korban lainnya mulai mengikuti. Sebagian dari mereka mengalami trauma berat, bahkan ada yang mulai kehilangan ketertarikan seksual pada lawan jenis,” tambahnya.
Polda NTB telah mengamankan RL untuk proses penyelidikan lebih lanjut.
Direktur Reskrimum Polda NTB, Kombes Pol Syarif Hidayat, menyatakan pihaknya terus mengumpulkan alat bukti tambahan dan keterangan saksi.
“Sejauh ini tidak ada korban di bawah umur, tetapi kami menduga jumlah korban sebenarnya lebih banyak dari yang terlapor,” ujarnya. (*)
Editor : Nyoman Suarna