Tragis! Perantau Asal Jember Tewas Dibegal Brutal di Papua, Keluarga Tercekik Biaya Pemulangan Jenazah Rp 60 Juta
Putu Mita Damayanti• Minggu, 23 Februari 2025 | 03:14 WIB
Jenazah Wahyudi, di rumah sakit setempat, usai menjadi korban begal di tanah rantau, di Papua. Tepatnya di Pelabuhan Aikai Enarotali, Kampung Aikai, Distrik Paniai Timur
BALIEXPRESS.ID - Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga Wahyudi (54), warga Dusun Krajan, Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari, Jember.
Pria yang merantau ke Papua untuk mencari nafkah ini tewas secara mengenaskan setelah menjadi korban pembegalan sadis di Pelabuhan Aikai Enarotali, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, Jumat (21/2) pagi.
Baru dua bulan mengadu nasib sebagai tukang ojek, Wahyudi harus meregang nyawa akibat serangan brutal dua pelaku bersenjata parang.
Ia mengalami luka bacok di kepala, kaki, dan tangan kanan yang bahkan putus akibat serangan tersebut.
Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa Wahyudi tak bisa diselamatkan.
Kapolres Paniai, Kompol Deddy A. Puhiri, membenarkan kejadian ini.
"Setelah menghabisi korban, pelaku langsung kabur menggunakan speedboat melintasi Danau Paniai," ujarnya.
Hingga kini, polisi masih melakukan pengejaran intensif terhadap para pelaku yang melarikan diri.
Namun, duka keluarga tak berhenti pada kepergian Wahyudi. Mereka kini dihadapkan pada tantangan berat: biaya pemulangan jenazah yang mencapai Rp 60 juta.
Angka ini menjadi beban yang nyaris mustahil bagi keluarga sederhana seperti mereka.
"Kami diminta Rp 60 juta untuk memulangkan jenazahnya. Keluarga tidak mampu," ujar A. Mahorrozi, kerabat korban.
Meski sudah bernegosiasi, biaya tersebut hanya turun sedikit menjadi Rp 57 juta, yang tetap terasa sangat memberatkan.
Kepala Desa Suco, Taufik Hidayat, mengaku sudah berupaya menggalang bantuan dari Dinas Sosial Jember hingga komunitas Info Warga Jember (IWJ) di Papua.
"Kalau 10 sampai 15 juta mungkin keluarga bisa mengusahakan, tapi ini terlalu besar," ucapnya dengan nada lirih.
Ketua Umum IWJ, Habib Salim, juga mengungkapkan keprihatinannya.
"Memang pesawat dari Sentani ke Jember mahal, tapi biaya Rp 60 juta itu sangat tidak masuk akal," tegasnya.
Kini, berbagai pihak terus berjuang mencari solusi agar jenazah Wahyudi bisa segera dipulangkan ke kampung halamannya.
Keluarga hanya berharap satu hal: agar Wahyudi bisa dimakamkan di tanah kelahirannya, diiringi doa dan pelukan terakhir dari orang-orang terkasih.
Semoga kepulangan jenazahnya bisa segera terwujud, dan keadilan ditegakkan untuk menangkap para pelaku kejahatan ini. ***