Kisah Pilu 4 Sekawan yang Memburu 'Emas Laut' setelah 16 Jam Arungi Laut, Dua Sahabatnya Ditelan Ombak Ganas!
Putu Mita Damayanti• Senin, 28 April 2025 | 03:06 WIB
TEMAN SEKAMPUNG: Zulpa Komandani (kanan) memandang jenazah Suparman di ruang penerimaan jenazah Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Saiful Anwar tadi malam (26/4)
BALIEXPRESS.ID - Malam itu, pilu menyelimuti ruang penerimaan jenazah Instalasi Forensik RSSA. Di sana, seorang nelayan muda bernama Zulpa Komandani, asal Lombok Timur, berdiri bagai patung, air matanya tumpah ruah di depan peti jenazah sahabat karibnya, Suparman.
Rambut pirangnya yang masih basah oleh air laut, saksi bisu petaka yang baru saja merenggut nyawa, menambah kelam suasana.
"Dia bukan cuma teman, tapi saudara seperjuangan," lirih Zulpa, suaranya tercekat menahan duka yang mendalam.
Kisah tragis ini bermula dari impian meraih 'emas laut' di perairan Sendangbiru, Kabupaten Malang.
Zulpa, Suparman, Sahnan, dan Mujenan, empat sekawan sepermainan dari kampung halaman yang sama, rela mengarungi laut selama 16 jam demi mengejar kabar musim ikan yang sedang melimpah.
Dua pekan sudah mereka tinggalkan kampung halaman, tinggal di sebuah pondok sederhana, menggantungkan harapan pada hasil tangkapan laut.
Namun, Jumat malam (25/4) menjadi malam kelabu.
Berharap mendapatkan ikan mogong (Parrotfish) yang konon sedang banyak, keempat sahabat ini memancing dari atas karang.
Nahas, senar pancing Suparman dan Sahnan tersangkut. Tanpa diduga, keduanya nekat turun menyelam dengan bantuan kompresor untuk melepaskannya.
Siapa sangka, gelombang maut datang menerjang tanpa ampun.
"Tujuh kali ombak besar menghantam kami. Mereka tak sempat naik," kenang Zulpa dengan suara bergetar, menggambarkan betapa dahsyatnya amukan ombak malam itu.
Hanya Zulpa dan Mujenan yang berhasil selamat dari terjangan ombak ganas.
Suparman ditemukan lebih dulu dalam kondisi tak bernyawa, meninggalkan luka menganga di hati sahabat-sahabatnya.
Sementara itu, jenazah Sahnan masih hilang hingga berita ini diturunkan, menambah kepedihan dan ketidakpastian.
"Kami tahu akan ada ombak, tapi tetap berangkat karena ada yang bilang ikannya banyak," ucap Zulpa dengan nada penuh penyesalan yang mendalam.
Kata-kata ini menjadi pengingat pahit bahwa laut, yang selama ini menjadi sumber rezeki, juga menyimpan bahaya yang tak terduga dan selalu mengintai.
Tragedi ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kewaspadaan dan perhitungan matang sebelum menantang ganasnya ombak lautan. ***